Minum Susu Bisa Menambah Tinggi Badan Anak

Chaerunnisa | Risna Halidi | Suara.com

Senin, 26 Juni 2017 | 10:24 WIB
Minum Susu Bisa Menambah Tinggi Badan Anak
Ilustrasi anak minum susu (Shutterstock)

Suara.com - Susu sapi dikenal sebagai bentuk kalsium paling sehat, dan memiliki banyak manfaat kesehatan bagi tubuh. Karena itu, dokter di seluruh dunia merekomendasikan kita untuk mengonsumsi susu sapi secara rutin.

Selain menjadi sumber kalsium terkaya, susu sapi juga mengandung vitamin D, potasium dan sumber protein yang lengkap. Kandungan tersebut dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi lemak, melindungi jantung, mencegah diabetes, menghilangkan pembengkakan, membangun tulang dan gigi yang kuat, membantu penurunan berat badan, dan membantu merangsang pertumbuhan.

Sebuah penelitian telah menekankan pentingnya minum susu sapi untuk anak-anak. Disebutkan, anak-anak yang orangtuanya memberi mereka susu bukan sapi (kedelai, susu almond atau beras) akan tumbuh lebih pendek daripada anak-anak yang minum susu sapi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam American Journal of Clinical Nutrition menemukan setiap cangkir susu non-sapi setiap hari dikaitkan dengan tinggi badan 0,4 cm (0,15 inci) lebih rendah daripada rata-rata untuk usia anak-anak.

"Kami menemukan bahwa anak-anak yang mengonsumsi susu non-sapi seperti beras, almond, dan susu kedelai cenderung sedikit lebih pendek daripada anak-anak yang mengonsumsi susu sapi," kata Dr. Jonathon Maguire, penulis utama studi dan seorang dokter anak serta periset di Rumah Sakit St. Michael di Toronto.

"Misalnya, anak berusia tiga tahun yang mengonsumsi tiga cangkir susu non-sapi relatif 1,5 sentimeter lebih pendek dari anak yang minum susu sapi. Perbedaan itu lebih dari setengah inci, yang menurut Maguire "bukan perbedaan kecil saat Anda berusia tiga tahun," sambungnya.

Penelitian ini melibatkan 5.034 anak-anak Kanada sehat berusia antara dua sampai enam tahun. Subjek penelitian rata-rata berusia 38 bulan, dengan 51 persen laki-laki, direkrut dari sembilan praktek perawatan kesehatan keluarga, dan anak-anak dari Desember 2008 sampai September 2015.

Dari mereka yang berpartisipasi, sekitar lima persen minum susu eksklusif non-sapi, dan sekitar 84 persen hanya meminum susu sapi. Sekitar delapan persen minum keduanya dan sekitar tiga presen tidak minum. Maguire mengatakan temuan yang paling mengejutkan adalah bahwa jumlah anak-anak lebih pendek bergantung pada berapa banyak yang mereka konsumsi.

"Tidak seperti jika Anda tidak mengonsumsi susu sapi, Anda akan sedikit lebih pendek. Ini lebih seperti jika Anda mengkonsumsi susu non-sapi, dengan setiap cangkir yang dikonsumsi anak, rata-rata anak itu sedikit lebih kecil, sedikit lebih pendek. Itu agak mengejutkan," ungkapnya.

Apakah itu penting jika seorang anak setengah inci lebih pendek pada usia tiga tahun? Apakah itu berkorelasi dengan tinggi di usia dewasa?

"Itu satu pertanyaan yang tersisa, kami tidak tahu apakah anak-anak mengonsumsi susu bukan sapi, mungkin mereka mengejar waktu, atau mungkin juga tidak. Kami tahu secara umum sebagai dokter anak bahwa anak-anak yang berada dalam garis persentil tertentu dalam hal ketinggian cenderung tetap berada di jalur itu selama sisa masa kecil mereka dan sampai dewasa," ujarnya.

Temuan ini akan menambah perdebatan mengenai manfaat susu sapi versus alternatif susu. Amy Joy Lanou, seorang profesor kesehatan dan kebugaran di University of North Carolina-Asheville yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan bahwa dia memiliki beberapa masalah dalam penelitian ini, terutama mengapa hanya konsumsi susu yang dipertimbangkan.

"Aneh rasanya mengapa kita tidak melihat keseluruhan makanan anak-anak," kata Lanou.

"Jika mereka mengklaim bahwa itu terjadi karena perbedaan jenis susu yang diminum anak-anak, apalagi yang mereka makan?" lanjut dia.

Lanou, yang penelitiannya telah mendorongnya untuk percaya bahwa susu sapi adalah 'bukan makanan yang diperlukan,' mengatakan penelitian tersebut membuat lompatan yang tidak tepat dengan menyiratkan bahwa tumbuh lebih tinggi artinya akan lebih sehat.

"Saya pikir mereka menggunakan ketinggian sebagai penanda kesehatan, dan saya tidak yakin itu tepat," imbuhnya.

Connie Weaver, seorang profesor ilmu gizi di Universitas Purdue yang juga tidak terlibat dalam studi tersebut, mengatakan bahwa hal ini sangat menarik.

"Ini adalah studi pertama yang saya ingat secara langsung membandingkan susu sapi dengan minuman nabati untuk mendapatkan fisiologis," tulisnya melalui email seperti yang Suara.com kutip dari Zeenews.

"Kami tahu bahwa beberapa minuman tanaman, almond terutama, memiliki kandungan protein lebih rendah jadi saya menduga bahwa penyerapan kalsium mungkin lebih rendah. Ini akan menunjukkan bahwa susu sapi lebih unggul," sambung dia.

Namun, dia juga berkata sebuah pesan yang salah adalah jika orang yang tidak mengkonsumsi susu sapi akan memutuskan untuk menghindari susu nabati juga.

Studi tersebut menunjukkan satu alasan perbedaan tinggi badan mungkin adalah bahwa susu berbasis tanaman tidak merangsang faktor pertumbuhan seperti insulin, atau IGF, produksi dan susu sapi. Studi telah menemukan, orang dewasa dengan tingkat IGF tingkat tinggi telah meningkatkan risiko kanker reproduksi.

"Kurangi IGF bisa berkompromi tinggi tapi itu bisa menurunkan risiko patah tulang - dan beberapa jenis kanker juga," kata Weaver.

Secara keseluruhan, dia akan menyarankan orangtua jika susu sapi bisa menjadi pilihan terbaik, tapi minuman berbasis nabati menyediakan banyak nutrisi yang dibutuhkan seperti protein, kalsium, magnesium, kalium, yang jauh lebih baik daripada yang kebanyakan orang lebih suka minum.

Lanou akan memberitahu orangtua yang sudah memberikan susu nabati kepada anak-anak mereka agar tidak khawatir, tapi untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan cukup protein dari sumber lain sepanjang hari. Maguire mengatakan bahwa dia ingin melihat susu kedelai, susu almond dan beras diatur lebih ketat untuk dalam industri, sesuai dengan susu sapi.

"Sebagai konsumen dan sebagai orang tua, Anda harus cukup paham saat pergi ke toko kelontong untuk memilih minuman susu non-sapi yang memiliki nilai gizi sama dengan susu sapi. Banyak dari minuman tersebut dipasarkan setara dengan susu sapi padahal tidak," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Ini Dia Manfaat Susu Kambing bagi Kecantikan

Ini Dia Manfaat Susu Kambing bagi Kecantikan

Lifestyle | Selasa, 13 Juni 2017 | 07:00 WIB

Sering Minum Susu Rendah Lemak Tingkatkan Risiko Kena Parkinson

Sering Minum Susu Rendah Lemak Tingkatkan Risiko Kena Parkinson

Health | Sabtu, 10 Juni 2017 | 10:53 WIB

Alasan Minum Susu Bisa Bikin Tinggi

Alasan Minum Susu Bisa Bikin Tinggi

Health | Kamis, 08 Juni 2017 | 06:48 WIB

Susu Bikin Gemuk, Itu Mitos!

Susu Bikin Gemuk, Itu Mitos!

Health | Kamis, 08 Juni 2017 | 09:14 WIB

Ini Dia Manfaat Segelas Susu Saat Puasa

Ini Dia Manfaat Segelas Susu Saat Puasa

Health | Rabu, 31 Mei 2017 | 03:00 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB