Lebih rinci Prof Iwan menjelaskan ada tiga prinsip cara kerja imunoterapi. Pertama, dapat menghentikan atau memperlambat pertumbuhan sel kanker, tetapi menghentikan sama sekali hampir tidak mungkin.
Kedua imunoterapi bisa menghambat agar kankernya tidak menjalar atau menyebar ke bagian tubuh yang lain. Dan ketiga, membantu sistem kekebalan tubuh untuk lebih siap dalam menghancurkan sel-sel kanker.
Bila membandingkan imunoterapi dengan terapi sebelumnya yaitu kemoterapi ada perbedaan cukup signifikan. Obat kemoterapi umumnya berbasis kimia, sementara obat kimia memiliki kendala atau kelemahan tersendiri.
Ketika masuk ke dalam tubuh, obat kimia tersebut merusak semua sel baik sel kanker maupun sel-sel normal. Selain itu, efek samping kemoterapi sangat mengganggu mulai dari mual muntah, rambut rontok dan lain-lain.
Di samping itu, karena tidak selalu mencapai target dengan tepat sering kali pemanfaatannya sangat terbatas. Maka imunoterapi dianggap sebagai sebuah terobosan terapi baru untuk kanker.
Perbedaan signifikan lainnya obat kimia atau kemoterapi tidak bisa menyasar jenis kanker tertentu. Sementara obat-obatan golongan imunoterapi bisa menyasar jenis kanker tertentu yang memang memiliki karakteristik khusus.
Prof Iwan menekankan tingkat efektivitas imunoterapi cukup tinggi dibanding terapi lain.
"Saat ini konsep penatalaksanaan kanker itu mengenal adanya precision medicine bukan lagi personalize medicine. Inti dari precision medicine adalah pengobatan yang lebih presisi karena ditemukan biomarker tertentu yang memang lebih cepat pergerakannya, maka obat-obatan imunoterapi kemudian menargetkan langsung biomarker-biomarker yang dimaksud tadi," terangnya panjang lebar.
BACA JUGA: Canggih, Teknologi AI Lebih Akurat Deteksi Kanker Kulit
Dr. Andhika menambahkan, saat ini aplikasi imunoterapi selain yang sudah terbukti efektif pada kanker paru dan kanker kulit, juga mulai diterapkan pada kanker ovarium, kanker lambung, dan juga untuk kanker pankreas.
Hasil studi klinis terbaru menunjukkan hasilnya memang lebih bagus, di mana angka kesintasan meningkat lebih dari enam bulan dengan efek samping minimal.
Imunoterapi dapat dikatakan menjawab keinginan dunia yang mendambakan pengobatan kanker dengan keampuhan maksimal namun minimal efek sampingnya. Diharapkan pasien memiliki harapan hidup lebih panjang, meskipun kanker tidak dapat dihilangkan sepenuhnya.
Kendala terbesar, menurut dr. Andhika, adalah harganya cukup mahal. Itu sebabnya dr Andhika berharap imunoterapi ini bisa masuk dalam skema BPJS, setidaknya tahun depan setelah seluruh rangkaian uji coba ini selesai.
"Saya berharap, masih banyak jenis kanker yang bisa diujicobakan dengan terobosan imunoterapi ini untuk pengembangan di kanker lain setelah sukses pada kanker kulit, paru, rahim, dan lainnya. Dan tentu saja bagaimana harganya bisa lebih murah, karena saat ini untuk satu siklus imunoterapi sekitar Rp 60 juta dikalikan 8, hasilnya bisa seharga satu rumah. Sementara angka kejadian kanker semakin tinggi," pungkasnya.