Pasutri Menikah Tapi Belum Punya Anak, Waspada Infertilitas

M. Reza Sulaiman | Firsta Nodia
Pasutri Menikah Tapi Belum Punya Anak, Waspada Infertilitas
Infertilitas, saat pasutri tidak punya anak meski sudah bertahun-tahun menikah. [Shutterstock]

Tidak semua pasangan dikaruniai anak dalam waktu singkat. Kira-kira, apa ya penyebabnya?

Suara.com - Memiliki keturunan setelah menikah tentu menjadi dambaan semua pasutri. Namun pasangan yang mengalami infertilitas bisa sulit dikaruniai anak dalam waktu singkat, bahkan bisa tidak sama sekali.

Disampaikan konsultan obstetri dan ginekologi subspesialisasi fertilitas Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ) Dr. med. Ferdhy Suryadi Suwandinata, Sp.OG(K-FER), kondisi ini disebut infertilitas atau ketidaksuburan,

Infertilitas merupakan suatu kondisi di mana belum terjadi kehamilan meski tidak menggunakan kontrasepsi apapun, dan telah melakukan hubungan seksual secara teratur selama 6 bulan sampai satu tahun.

Sebelum memutuskan untuk menjalani program hamil, pasutri kata dia, harus terlebih dahulu mencari tahu penyebab infertilitas yang dialami.

"Sebelum menentukan jenis program kehamilan yang akan dilakukan, perlu dipastikan terlebih dahulu apa penyebab sulit hamil tersebut. Memang tidak semua dapat dijelaskan penyebabnya. 20 Persen yang tidak diketahui penyebabnya, disebut sebagai unexplain infertility," ujar dr Ferdhy.

Gangguan kesuburan pada kaum hawa sendiri dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti faktor hormonal, gangguan pematangan sel telur, endometriosis, miom, kista, tumor, bahkan kanker.

Ia menyarankan pasutri dengan gangguan kesuburan untuk segera memeriksakan diri dan melakukan konsultasi dengan dokter kebidanan dan kandungan untuk mendapatkan rekomendasi pengobatan dan prosedur yang tepat dan efektif.

"Hal ini penting dilakukan untuk dapat meminimalkan perkembangan maupun efek dari penyebab infertilitas yang disebutkan di atas terutama pada kasus endometriosis," tambah dia.

Untuk gangguan kesuburan yang disebabkan oleh faktor hormonal atau masalah pematangan sel telur bisa ditangani dengan menggunakan obat-obatan. Namun pada gangguan kesuburan yang disebabkan oleh endometriosis, miom, kista, tumor, dan kanker harus ditangani dengan pembedahan.

Saat ini, tambah dr Ferdhy, teknologi di bidang kedokteran membuat metode operasi tak hanya bisa dilakukan secara konvensional tapi juga minimal invasif yang lebih dikenal dengan istilah laparoskopi atau endoskopi. Di Siloam Hospital Kebon Jeruk, tindakan ini sudah bisa dilakukan.

"Laparoskopi adalah sebuah teknik bedah invasif minimal dengan menggunakan instrumen bedah berdiameter kecil (5mm-10mm) untuk melakukan prosedur pembedahan di dalam rongga perut. Kelebihannya luka sayatan yang sangat kecil yaitu sekitar 7 mm, waktu pemulihan pasien relatif cepat, nyeri luka paska operasi minimal dan risiko komplikasi yang relatif rendah," tandas dia.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS