Olivia Ong, Dokter Estetika yang Kampanyekan Bahaya Ketagihan Filler

Silfa Humairah Utami | Risna Halidi
Olivia Ong, Dokter Estetika yang Kampanyekan Bahaya Ketagihan Filler
Olivia Ong, dokter estetika sekaligus pendiri Jakarta Aesthetic Clinic atau JAC.(Instagram/dr_oliviaong)

Ini bahaya ketagihan filler menurut Olivia Ong, Dokter Estetika.

Suara.com - Olivia Ong, Dokter Estetika yang Kampanyekan Bahaya Ketagihan Filler.

Merawat kecantikan luar merupakan bukti bahwa manusia menghargai anugrah Tuhan YME dalam hidupnya. Itu juga yang diamini oleh Olivia Ong, dokter estetika sekaligus pendiri Jakarta Aesthetic Clinic atau JAC.

Perempuan yang lahir di Jakarta, 30 Januari 1981 tersebut telah mengantongi berbagai sertifikasi internasional mulai dari Advance Filler Injection Workshop with Prominent Plastic Surgeons di Swedia, International Anatomy Masterclass di Paris hingga Aesthetic and Anti-Aging Medicine World Congress di Monte-Carlo, Monaco.

Menariknya, sebagai dokter estetika yang ahli di bidang Botulinum Toxin dan Soft Tissue Filler,  malah membawa isu bahaya ketagihan filler yang dialami pasien yang dikenal dengan istilah Facial Overfilled Syndrome atau FOS.

 Olivia Ong, dokter estetika sekaligus pendiri Jakarta Aesthetic Clinic atau JAC. (Instagram/dr_oliviaong)
Olivia Ong, dokter estetika sekaligus pendiri Jakarta Aesthetic Clinic atau JAC. (Instagram/dr_oliviaong)

"Kesannya Olivia Ong sedang menghancurkan bisnisnya sendiri. Tapi tidak, FOS ini nyata," kata Olivia saat ditemui awak media baru-baru ini.

Menurut Olivia, kondisi FOS bisa disebabkan oleh 'kebodoamatan' dokter kepada pasien. Hanya karena pasien menginginkan suatu tindakan dan berani membayar, sambung Olivia Ong, bukan berarti dokter harus serta merta melakukannya.

Maka dari itu Olivia Ong selalu menekankan pentingnya pendekatan dan kejujuran dari dokter itu sendiri.

 Olivia Ong, dokter estetika (dres putih) sekaligus pendiri Jakarta Aesthetic Clinic atau JAC. (Instagram/dr_oliviaong)
Olivia Ong, dokter estetika (dres putih) sekaligus pendiri Jakarta Aesthetic Clinic atau JAC. (Instagram/dr_oliviaong)

Misal, kata Olivia Ong, bila ada pasien yang kekeuh menginginkan tindakan suntik filler padahal sebenarnya tidak dibutuhkan, dan berbahaya untuk wajahnya jika berlebihan, maka ia akan bicara jujur dan gamblang.

"Saya tidak kesulitan untuk mengerem permintaan pasien. Itu yang memang harusnya dilakukan dokter, jangan asal memberikan apa yang mereka mau," tegasnya.

Tapi Olivia juga mengakui, kadang ada saja pasien yang ketika ditolak, malah pergi ke klinik kecantikan lain yang bersedia melakukan tindakan yang diinginkannya.

Selain cukup berisik mengampanyekan dampak filler berlebih pada wajah, Olivia Ong juga selalu menekankan jika klinik kecantikan harusnya tidak berlaku laiknya cookie cutter atau cetakan kue.

"Jangan sampai semua orang yang keluar dari klinik punya penampilan yang sama. Semua orang itu unik," tambahnya.

Olivia Ong mengibaratkan pekerjaannya sebagai seni membentuk keramik. Dengan bahan dan alat yang sama, dapat memberikan hasil akhir berbeda karena daya cipta dan keahlian tangan pembentuknya.

Jadi ia berharap Dokter Estetika bisa jujur terhadap bahaya filler berlebih dan mengenali kebutuhan pasiennya. 

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS