Studi: Konsumsi Protein Hewani Bermanfaat untuk Atasi Anak Stunting

M. Reza Sulaiman

Jum'at, 20 September 2019 | 16:05 WIB
Studi: Konsumsi Protein Hewani Bermanfaat untuk Atasi Anak Stunting
Ilustrasi anak stunting dan tumbuh pendek. ( Shutterstock)

Suara.com - Studi: Konsumsi Protein Hewani Bermanfaat untuk Atasi Anak Stunting

Prevalensi stunting di Indonesia yang masih tinggi harus menjadi perhatian. Sebab, stunting bisa menurunkan kualitas SDM Indonesia di masa depan.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan, prevalensi balita stunting di tahun 2018 mencapai 30,8 persen, yang berarti 1 dari 3 balita di Indonesia mengalami stunting. Terlebih, Indonesia juga merupakan negara dengan beban anak stunting tertinggi ke-2 di Kawasan Asia Tenggara dan ke-5 di dunia.

Untuk itu, dibutuhkan intervensi yang tepat agar angka stunting tak bertambah, dan bahkan diturunkan. Dalam acara seminar Gizi untuk Bangsa yang diselenggarakan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), ditemukan bahwa pemberian protein hewani mampu menurunkan angka stunting.

Prof. Dr. dr. Damayanti R Sjarif, SpA(K), pakar nutrisi dan penyakit metabolik anak dari RSCM menyebut, stunting hanya bisa teratasi selama periode 1000 hari pertama kehidupan, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

"ASI Eksklusif penting diberikan selama 6 bulan pertama dan dapat diteruskan hingga anak berusia 2 tahun. Pada tahap pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI), orang tua harus memperhatikan pola asupan gizi yang seimbang, terutama untuk memberikan asupan karbohidrat, lemak tinggi dan protein hewani," ujarnya, dalam siaran pers yang diterima Suara.com.

Prof. Damayanti bersama Kementerian Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mengembangkan pilot project Aksi Cegah Stunting di Desa Banyumundu, Kabupaten Pandeglang, Banten. Hasil inisiatif tersebut menunjukkan penurunan prevalensi stunting sebesar 8,4 persen dalam enam bulan dari 41,5 persen menjadi 33,1 persen atau mencapai 4,3 kali lipat dari target tahunan WHO.

Dalam pilot project ini, pendekatan intervensi gizi spesifik dilakukan dalam beberapa fokus termasuk melakukan training kepada tenaga kesehatan dan kader posyandu, mengembangkan sistem rujukan berjenjang untuk balita stunting dan beresiko stunting, dan implementasi tata laksana stunting oleh dokter spesialis anak dengan pengawasan yang dibantu oleh dokter Puskesmas, tenaga gizi Puskesmas, dan bidan desa.

Seminar Gizi untuk Bangsa yang diadakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menemukan manfaat protein hewani untuk atasi stunting. (Dok. FKM UI)
Seminar Gizi untuk Bangsa yang diadakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menemukan manfaat protein hewani untuk atasi stunting. (Dok. FKM UI)

Dalam pencegahan stunting, pemantauan status gizi dan antopometri anak perlu dilakukan secara berkala. Deteksi dini status gizi balita dilakukan secara berjenjang mulai dari Posyandu, Puskesmas hingga Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Jika di Posyandu ditemukan anak dengan berat badan atau binggi badan kurang, maka perlu dirujuk ke Puskesmas.

baca juga

"Jika di Puskesmas didapati penyakit penyerta lain atau growth faltering maupun gizi buruk, maka anak akan di rujuk ke RSUD untuk mendapatkan diagnosis medis dari dokter spesialis anak. Bahkan pada beberapa kondisi medis tertentu, apabila diperlukan, pasien akan disertai dengan preskripsi PKMK (Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus) untuk membantu mengejar ketertinggalan berat badan dan tinggi badan mereka," jelas Prof Damayanti.

Ahmad Syafiq, PhD, Kepala Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan FKMUI mengatakan, perlu ada analisis dan pendekatan gizi kesehatan masyarakat untuk dapat secara efektif merancang program yang berbasis evidens dan berfokus pada pencegahan. Ia menyebuttTerobosan pencegahan stunting juga perlu melibatkan seluruh pemangku kepentingan dan memberdayakan masyarakat, agar semua pihak mampu terlibat secara aktif dalam upaya penurunan stunting.

"Dari kegiatan edukasi ini kami berharap akan semakin banyak masyarakat yang menyadari pentingnya asupan protein hewani dalam upaya pencegahan stunting. Dengan pola asupan gizi yang baik, diharapkan akan tercipta generasi yang sehat, berkualitas dan berdaya saing sebagai bangsa yang unggul di masa depan," tutup Syafiq.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Rokok Bikin Risiko Anak Stunting Meningkat, Ini Penjelasan Pakar

Rokok Bikin Risiko Anak Stunting Meningkat, Ini Penjelasan Pakar

Health | Selasa, 17 September 2019 | 20:15 WIB

Beban Ganda Malnutrisi Bikin Anak Indonesia Tumbuh Pendek dan Kurus

Beban Ganda Malnutrisi Bikin Anak Indonesia Tumbuh Pendek dan Kurus

Health | Kamis, 22 Agustus 2019 | 13:18 WIB

Menkes Minta Waspadai Stunting, Ini Bahayanya

Menkes Minta Waspadai Stunting, Ini Bahayanya

Health | Selasa, 20 Agustus 2019 | 16:35 WIB

Terkini

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 19:13 WIB

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Health | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:15 WIB

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:49 WIB

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis

Health | Selasa, 23 Juni 2026 | 14:07 WIB

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB