WHO Catat 140.000 Orang Meninggal Akibat Mandeknya Vaksinasi Campak

Ade Indra Kusuma

Selasa, 24 Desember 2019 | 12:46 WIB
WHO Catat 140.000 Orang Meninggal Akibat Mandeknya Vaksinasi Campak
WHO Catat 140.000 Orang Meninggal Akibat Mandeknya Vaksinasi Campak [shutterstock]

Suara.com - WHO Catat 140.000 Orang Meninggal Akibat Mandeknya Vaksinasi Campak

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan otoritas AS mengatakan pekan lalu lebih dari 140 ribu orang meninggal akibat campak di seluruh dunia pada tahun 2018.

Hal tersebut sebagai akibat dari mendeknya vaksinasi dunia selama hampir sepuluh tahun.

Negara-negara miskin adalah yang paling terpukul, dengan sebagian besar kasus dan kematian di Afrika sub-Sahara. Namun negara-negara kaya juga berjuang melawan wabah mereka sendiri. Empat negara Eropa kehilangan status "bebas" dari penyakit itu pada 2018.

Pengumuman itu dikeluarkan ketika negara kepulauan Samoa di Pasifik terpaksa melakukan upaya vaksinasi massal untuk menyembuhkan wabah yang telah menewaskan 62 orang dan, menurut para pejabat PBB, dipicu oleh teori konspirasi anti-vaxxer, yakni gerakan anti waksinasi di internet.

"Fakta bahwa setiap anak meninggal karena penyakit seperti campak yang dapat dicegah dengan vaksin, terus terang merupakan kegusaran dan kegagalan untuk melindungi anak-anak yang paling rentan di dunia," kata Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreysus seperti mengutip VOAIndonesia.

Pasien campak. (Shutterstock)
Pasien campak. (Shutterstock)

Sebagian besar kematian terjadi di antara anak-anak balita. Bayi-bayi mempunyai risiko terbesar tertular dan menyebabkan komplikasi, termasuk pneumonia dan pembengkakan otak yang mengakibatkan kerusakan permanen, kebutaan, atau gangguan pendengaran.

Menurut berita yang dilansir dari AFP, sekitar 142.300 orang meninggal karena penyakit ini pada tahun 2018 -seperempat dari jumlah kematian pada tahun 2000, tetapi naik 15 persen dibandingkan dengan 2017. Seluruhnya tercatat 9,7 juta kasus.

WHO dan UNICEF memperkirakan 86 persen anak-anak di dunia menerima dosis vaksin pertama mereka tahun 2018. Namun kurang dari 70 persen menerima dosis rekomendasi kedua. Itu jauh dari cakupan vaksinasi 95% yang direkomendasikan, dengan dua dosis pengukuran vaksin yang dianggap perlu untuk melindungi penduduk dari penyakit itu.

baca juga

Lima negara yang paling parah terkena dampaknya, Republik Demokratik Kongo (DRC), Liberia, Madagaskar, Somalia dan Ukraina, merupakan setengah dari semua kasus di seluruh dunia.

Tetapi Amerika juga mencatat kasus tertinggi dalam 25 tahun, nyaris kehilangan status bebas penyakit ini. Status itu hilang jika wabah berkelanjutan selama lebih dari satu tahun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Melawan Monster Rubella, Mereka Butuh Dukungan Bukan Bualan

Melawan Monster Rubella, Mereka Butuh Dukungan Bukan Bualan

Health | Senin, 23 Desember 2019 | 14:14 WIB

Program Percontohan Vaksinasi HPV Anak Sekolah Kian di Ujung Tanduk

Program Percontohan Vaksinasi HPV Anak Sekolah Kian di Ujung Tanduk

Health | Senin, 16 Desember 2019 | 15:23 WIB

WHO: Meningkatnya Kasus Campak Jadi Bukti Gagalnya Kolektif Melindungi Anak

WHO: Meningkatnya Kasus Campak Jadi Bukti Gagalnya Kolektif Melindungi Anak

Health | Selasa, 10 Desember 2019 | 14:30 WIB

Terkini

Dunia Gemetar, Harga Minyak Terus Mendidih saat Perdamaian AS - Iran Makin Tak Jelas

Dunia Gemetar, Harga Minyak Terus Mendidih saat Perdamaian AS - Iran Makin Tak Jelas

News | Senin, 28 September 2026 | 10:48 WIB

Apa Tanda-tanda Jika Sabun Cuci Muka Tidak Cocok? Cek Perubahan Ini pada Kulit

Apa Tanda-tanda Jika Sabun Cuci Muka Tidak Cocok? Cek Perubahan Ini pada Kulit

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 10:46 WIB

Temuan di Lapas Cibinong Jadi Alarm, Pakar Dorong Imipas Sisir Seluruh Lapas

Temuan di Lapas Cibinong Jadi Alarm, Pakar Dorong Imipas Sisir Seluruh Lapas

Jawa Tengah | Senin, 28 September 2026 | 10:45 WIB

5 Smartwatch Murah Terbaik yang Fiturnya Lengkap, Connect Strava hingga NFC

5 Smartwatch Murah Terbaik yang Fiturnya Lengkap, Connect Strava hingga NFC

Tekno | Senin, 28 September 2026 | 10:42 WIB

5 Rekomendasi Serum Kolagen Terjangkau, Bantu Kulit Kenyal dan Tampak Awet Muda

5 Rekomendasi Serum Kolagen Terjangkau, Bantu Kulit Kenyal dan Tampak Awet Muda

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 10:42 WIB

Gibran Minta Investigasi Keracunan di Batang Segera Dituntaskan dan Transparan

Gibran Minta Investigasi Keracunan di Batang Segera Dituntaskan dan Transparan

News | Senin, 28 September 2026 | 10:40 WIB

Pemimpin Arab Sampaikan Duka Cita Atas Tragedi KMP Virgo Transport 8

Pemimpin Arab Sampaikan Duka Cita Atas Tragedi KMP Virgo Transport 8

News | Senin, 28 September 2026 | 10:30 WIB

Mau Ikut Fun Run 5K? Ini 5 Rekomendasi Sepatu Lari Nyaman dari Lokal Sampai Global

Mau Ikut Fun Run 5K? Ini 5 Rekomendasi Sepatu Lari Nyaman dari Lokal Sampai Global

Lifestyle | Senin, 28 September 2026 | 10:29 WIB

Rebutan Lahan Parkir Berujung Bentrok di Garut, Satu Orang Terkena Sajam

Rebutan Lahan Parkir Berujung Bentrok di Garut, Satu Orang Terkena Sajam

Jabar | Senin, 28 September 2026 | 10:25 WIB

Enam Lokasi Pasar Murah di Pekanbaru Periode Sepekan ke Depan

Enam Lokasi Pasar Murah di Pekanbaru Periode Sepekan ke Depan

Riau | Senin, 28 September 2026 | 10:23 WIB

×