Pandemi Campak di Samoa, Kangen Water Dituduh Jadi Pemicu

Vania Rossa, Risna Halidi

Senin, 25 November 2019 | 22:02 WIB
Pandemi Campak di Samoa, Kangen Water Dituduh Jadi Pemicu
Ilustrasi Campak [shutterstock]

Suara.com - Pandemi Campak di Samoa, Kangen Water Dituduh Jadi Pemicu

Setidaknya 22 orang meninggal dunia akibat campak di negara pasifik, Samoa. Hampir semua korban adalah anak-anak di bawah usia lima tahun.

Pemerintah Samoa mengatakan campak telah membuat sekitar 1.797 orang sakit hingga ditetapkan sebagai kejadian luar biasa di negara di kawasan pasifik tersebut.

Pemerintah kemudian memutuskan untuk meliburkan proses belajar-mengajar, dan anak-anak di bawah usia 17 tahun dilarang berada di ruang publik dan wajib melakukan vaksinasi.

Badan anak-anak PBB (Unicef) memperkirakan tingkat vaksinasi Samoa secara rata-rata hanya 28 sampai 40 persen. Kini Unicef telah mengirim sekitar 110.500 vaksin ke negara tersebut dan mendapat bantuan obat-obatan dari Selandia Baru.

Kangen Water Dituduh Memperburuk Kondisi Campak

Hal yang menarik, kangen water, yang sempat ramai di Indonesia, menjadi salah satu pihak yang dituduh memperburuk keadaan.

Dilaporkan oleh BBC, banyak oknum menjual kangen water yang diklaim dapat menyembuhkan atau meringankan gejala campak.

"Beberapa orang dilaporkan menjalani pengobatan yang salah. Seorang pengusaha mengatakan kepada reporter ABC Australia mengenai (pengobatan) kangen water, yang padahal hanya air ledeng biasa," tulis BBC.

baca juga

Jaksa Agung Samoa, Lemalu Hermann Retzlaff, juga telah memperingatkan masyarakat di sana untuk mencegah campak dengan melakukan vaksinasi.

"Penegakan hukum terbuka untuk menerima pemberitahuan, keluhan, atau bukti dari orang atau organisasi mana pun, yang menghambat atau melarang komunitas kami dari melakukan vaksinasi," katanya kepada Pengamat Samoa.

Negara tetangga, Tonga dan Fiji, juga telah menyatakan keadaan darurat campak sejak sebulan lalu.

Namun, kedua negara memiliki tingkat vaksinasi yang jauh lebih tinggi, di atas 90 persen dan sejauh ini belum ada laporan kematian.

Campak sendiri merupakan penyakit virus yang sangat menular yang dapat menyebabkan komplikasi kesehatan serius, termasuk infeksi paru-paru dan otak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pada bulan April bahwa jumlah kasus campak yang dilaporkan secara global empat kali lipat dalam tiga bulan pertama tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018.

Hampir 5.000 orang meninggal akibat campak di Republik Demokratik Kongo dan hampir seperempat juta orang telah terinfeksi. WHO mengatakan, wabah di Kongo merupakam epidemi campak terbesar dan bergerak tercepat di dunia.

Diperkirakan secara global ada 110.000 orang meninggal dunia akibat campak setiap tahunnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wabah Campak Kongo Jadi yang Paling Mematikan di Dunia saat Ini

Wabah Campak Kongo Jadi yang Paling Mematikan di Dunia saat Ini

Health | Rabu, 16 Oktober 2019 | 06:30 WIB

Wabah Campak di Amerika Serikat Diperkirakan Telah Berakhir

Wabah Campak di Amerika Serikat Diperkirakan Telah Berakhir

Health | Selasa, 17 September 2019 | 14:10 WIB

Berjalan Mundur, Empat Negara Eropa Kehilangan Status Bebas Campak

Berjalan Mundur, Empat Negara Eropa Kehilangan Status Bebas Campak

Health | Minggu, 01 September 2019 | 17:00 WIB

Terkini

Menggambar Bukan Sekadar Bermain, Ini Manfaatnya untuk Imajinasi Anak

Menggambar Bukan Sekadar Bermain, Ini Manfaatnya untuk Imajinasi Anak

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:26 WIB

Mahasiswa Malaysia Pelajari Mitigasi Bencana dan Tata Air Pesisir Jakarta

Mahasiswa Malaysia Pelajari Mitigasi Bencana dan Tata Air Pesisir Jakarta

Jakarta | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:18 WIB

Memilih Produk Perawatan Pakaian, Apa yang Jadi Pertimbangan Konsumen?

Memilih Produk Perawatan Pakaian, Apa yang Jadi Pertimbangan Konsumen?

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 23:05 WIB

Kabut Asap Karhutla Tekan Ekonomi Palembang, 7 Hotel Laporkan Penurunan Tingkat Hunian

Kabut Asap Karhutla Tekan Ekonomi Palembang, 7 Hotel Laporkan Penurunan Tingkat Hunian

Sumsel | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:56 WIB

Tangis Haru Heri Latif, 1,5 Tahun Cari Nafkah Pakai Pick-up Box Berbuah Hadiah Umrah Gratis

Tangis Haru Heri Latif, 1,5 Tahun Cari Nafkah Pakai Pick-up Box Berbuah Hadiah Umrah Gratis

Lifestyle | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Bukan Sekadar Tanam Mangrove: Strategi Baru Ubah Pesisir Malang Jadi Mesin Uang Warga

Bukan Sekadar Tanam Mangrove: Strategi Baru Ubah Pesisir Malang Jadi Mesin Uang Warga

Malang | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:49 WIB

KPK Bongkar Dugaan Setoran Upah Pungut ke Bupati Klaten Rp280 Juta

KPK Bongkar Dugaan Setoran Upah Pungut ke Bupati Klaten Rp280 Juta

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:24 WIB

Sinopsis Film Pirunduk, Saat Aulia Sarah Terjerat Ilmu Hitam demi Menaklukkan Suami

Sinopsis Film Pirunduk, Saat Aulia Sarah Terjerat Ilmu Hitam demi Menaklukkan Suami

Entertainment | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:04 WIB

Pertalite Makin Menipis! Bahlil Ungkap Stok BBM Subsidi Tinggal 16-18 Hari

Pertalite Makin Menipis! Bahlil Ungkap Stok BBM Subsidi Tinggal 16-18 Hari

Video | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 22:00 WIB

KPK Ungkap Bupati Klaten Diduga Terima Fee Proyek Rp2,14 Miliar, Uangnya untuk Bayar Utang Pilkada

KPK Ungkap Bupati Klaten Diduga Terima Fee Proyek Rp2,14 Miliar, Uangnya untuk Bayar Utang Pilkada

News | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 21:51 WIB

×