alexametrics

Ilmuwan Amerika Serikat sedang Mengembangkan Vaksin untuk Virus Corona Baru

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Ilmuwan Amerika Serikat sedang Mengembangkan Vaksin untuk Virus Corona Baru
Novel Coronavirus (nCoV) alias virus corona yang sedang mewabah di China. (Shutterstock)

Namun ilmuwan mengaku kemungkinan penyelesainan pengembangan vaksin ini membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Suara.com - Ilmuwan Amerika sedang berupaya mengembangkan vaksin untuk melawan virus corona yang saat ini telah menewaskan setidaknya 17 orang di China dan telah menginfeksi lebih dari 500 orang.

Wabah infeksi pernapasan seperti pneumonia ini pun memicu ketakutan di beberapa negara, termasuk Amerika Serikat. Terlebih ada dugaan penemuan kasus di Meksiko, Kolombia, Inggris dan Australia.

Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menetapkan masalah ini sebagai kondisi darurat kesehatan global. Sebab, mereka masih membutuhkan data lebih lanjut untuk melangkah pada tahap tersebut.

Inilah sebabnya, WHO meminta untuk mengadakan pertemuan darurat lagi pada Kamis (23/1/2020) untuk membahas kasus ini lebih lanjut.

Baca Juga: Dihantui Wabah Virus Corona, Kota Wuhan Tutup Jalur Transportasi Umum

Penyakit baru, yang masih disebut sebagai 2019-nCoV, masih termasuk dalam keluarga virus yang sama dengan penyebab SARS. Sebuah penyakit yang juga mewabah di China pada 2003 dan menewaskan 774 orang di seluruh dunia.

Ilustrasi Vaksin [Shutterstock]
Ilustrasi Vaksin [Shutterstock]

Tetapi, ilmuwan mengatakan kemungkinan butuh bertahun-tahun sebelum vaksin ini sesuai dengan virus baru dan mulai dilakukan pengujian keamanan, kata dr. Peter Hotez dari Baylor College of Medicine.

Sebenarnya, vaksin itu telah dibuat pada awal 2000-an, ketika coronavirus yang saat itu menyebabkan sindrom pernapasan akut parah muncul sebagai ancaman serius untuk yang pertama kalinya.

"Setelah masing-masing epidemi ini, komunitas ilmiah, termasuk kelompok kami, merespon dan mengembangkan vaksin prototipe itu. Tapi ketika ancaman itu mereda, komunitas investigasi tidak lagi ingin terus berkontribusi," jelas dr. Hotez.

Dr. Hotez juga mengatakan, untuk pengembangan vaksin ini masih membutuhkan proses yang panjang.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Merosot Akibat Kekhawatiran Virus Corona

"Kita harus melakukan banyak pengujian keamanan, toksikologi formal, melalui otoritas pengawas nasional... masih banyak kerusakan bahkan sebelum (vaksin) ini bisa mulai diuji coba klinis pada manusia," sambungnya, dilansir Daily Mail.

Komentar