Akui Punya Reagen Virus Corona Wuhan, Balitbangkes: Sesuai Standar WHO

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Akui Punya Reagen Virus Corona Wuhan, Balitbangkes: Sesuai Standar WHO
Novel Coronavirus (nCoV) alias virus corona yang sedang mewabah di China. (Shutterstock)

Kabar Indonesia yang tidak memiliki reagen virus Corona Wuhan membuat masyarakat cemas. Apalagi, kabar tersebut dimuat di negara tetangga Australia.

Suara.com - Klaim Punya Reagen Virus Corona Wuhan, Balitbangkes: Sesuai Standar WHO

Kabar Indonesia yang tidak memiliki reagen virus Corona Wuhan membuat masyarakat cemas. Apalagi, kabar tersebut dimuat di negara tetangga Australia yang sudah memiliki kasus positif virus Corona.

Kabar ini langsung dibantah oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI, Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed. Ia memastikan Indonesia sudah mampu dan memiliki alat pendeteksi novel corona virus sesuai standar yang ditetapkan WHO.

"Kami sudah memiliki, jadi WHO membuat list (peratalan pendeteksi) novel coronavirus, jadi sudah membuat ceklis yang bisa untuk memeriksa dan mendeteksi novel coronavirus ini. Dan sesuai dengan ceklist kita punya semuanya," ujar Dr. Vivi dalam konferensi pers di Gedung Sujudi, Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (31/1/2020).

Meski kategori virus terbilang baru, Dr. Vivi mengakui alat itu juga baru dimiliki Indonesia akhir tahun 2019, sesaat sebelum virus asal Wuhan, China itu merajalela. Mengingat virus ini baru, jadi wajar jika alat atau pendeteksi baru diterima di Indonesia.

"Itu sudah sejak Desember 2019 mesin sequencing sudah lama. Akhir Desember kita punya," jelas Dr.Vivi

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balitbangkes Dr. dr. Vivi Setiawaty, M. Biomed. (Suara.com/Dini Afrianti)
Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan, Balitbangkes Dr. dr. Vivi Setiawaty, M. Biomed. (Suara.com/Dini Afrianti)

Adapun tatacara pengetesan, pasien diterima spesimennya berupa dahak, lalu dikondisikan dahak itu bisa diterima mesin pendeteksi, dengan diekstrasi lebih dulu.

"Dapatkan (hasil mesin pendeteksi) dulu baru direaksikan dengan reagen deteksi virus, kita reaksikan dengan novel corona ini," paparnya.

Tapi tentu saja kata Dr. Vivi proses harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Bahkan pengambilan sampel atau dalam hal ini spesimen dilakukan sebanyak dua kali, untuk memperkuat hasil. Standar ini juga telah ditetapkan Litbangkes guna memastikan hasil yang pasti.

"Temen-temen bisa membayangkan, enggak bisa grabak grubuk agar satu spesimen dan lain tidak saling menkontaminasi. Kita bekerja sudah hati-hati sekali dan (yang bekerja) mempunyai sertifikat di bidang itu," tutupnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS