Indonesia Siap Kembangkan Vaksin Corona Covid-19, Kapan Rampung?

Bimo Aria Fundrika, Frieda Isyana Putri

Kamis, 26 Maret 2020 | 12:57 WIB
Indonesia Siap Kembangkan Vaksin Corona Covid-19, Kapan Rampung?
Ilustrasi vaksin. ( shutterstock )

Suara.com - Vaksin untuk virus corona baru atau Covid-19 kini sedang diupayakan produksi oleh beberapa negara di dunia, salah satunya Indonesia. 

Rencananya konsorsium pengembangan vaksin ini akan dipimpin oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME).

Direktur LBME Prof. Amin Soebandrio, mengatakan bahwa pihaknya telah menerima dua kali undangan dari Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) untuk memimpin konsorsium tersebut sejak dua minggu yang lalu.

"Sudah dua kali (perintah lisan) dari Menristek. Tentunya (juga perintah) dari Jokowi, Menristek sesuai dengan tupoksinya bertanggung jawab dalam penelitian, jadi tanggung jawab itu diberikan kepada Menristek tentunya," kata Prof Amin kepada Suara.com melalui sambungan telepon, Kamis (26/3/2020).

Ilustrasi virus corona Covid-19. [Shutterstock]
Ilustrasi virus corona Covid-19. [Shutterstock]

Menurut Prof Amin, waktu yang dibutuhkan untuk menyiapkan vaksin tersebut antara 12-18 bulan. Kini proses administrasi dan proposal sedang dikebut untuk bisa memproduksi vaksin tersebut tepat waktu.

Lembaga Eijkmann sendiri sudah memiliki kemampuan yang mumpuni untuk produksi vaksin dalam skala laboratorium. Nantinya dibutuhkan kerjasama dengan pihak industri, karena skala yang lebih besar dan produksi yang lebih cepat.

Dalam 12-18 bulan hingga vaksin tersebut diselesaikan dalam skala laboratorium, kemudian bibit vaksin tersebut akan diserahkan ke industri untuk dikembangkan, termasuk menjalani uji klinis terbatas maupun luas yang akan dilakukan oleh industri.

Prof Amin menjelaskan, normalnya membuat vaksin apabila bukan dalam keadaan pandemi membutuhkan waktu tahunan. "Jadi pengembangan di laboratorium sendiri, kemudian uji klinis itu saja bisa 3-5 tahun," kata Prof Amin.

COVID-19 (kuning) di antara sel-sel manusia (biru, merah muda dan ungu), credit: NIAID-RML
COVID-19 (kuning) di antara sel-sel manusia (biru, merah muda dan ungu), credit: NIAID-RML

Hal ini disebabkan vaksin harus melalui serangkaian uji di luar uji klinis, seperti uji manfaat hingga uji keamanan, kemudian pengujian multi country yang melibatkan ribuan orang.

baca juga

Akan tetapi dalam keadaan pandemi seperti virus corona ini maka butuh untuk mempersingkat waktu. Beberapa proses perijinan dipersingkat dan jumlah orang yang akan ikut dalam pengujian diperkecil.

"Sehingga tidak membutuhkan waktu yang begitu lama," tutur Prof Amin.

Prof Amin menyebut untuk produksi vaksin  corona covid-19 akan dikonsentrasikan ke suplai dalam negeri terlebih dahulu. Apabila ada kelebihan, maka bisa dijual ke negara lain, dengan pertimbangan untuk memenuhi kebutuhan Indonesia sendiri saja sudah cukup banyak.

Untuk kebutuhan pandemi, ada prosedur untuk setidaknya minimal 50 persen dari populasi harus diimunisasi dan masing-masing disuntik dua kali. Prof Amin memperkirakan Indonesia membutuhkan setidaknya 260 juta dosis.

Apabila dari kemampuan produksi dunia Indonesia kebagian satu juta dosis per minggu, maka bisa diperkirakan dibutuhkan 260 minggu atau kurang lebih 5 tahun.

"Maka dihitung aja kita butuh berapa minggu untuk men-cover seluruh penduduk Indonesia, setidaknya 50 persen populasinya. Butuh waktu bertahun-tahun," kata ProF Amin.

"Makanya kita mesti punya kemampuan sendiri, karena kalau kita mesti bergantung pada luar negeri, tidak ada yang sanggup mensuplai seperti itu dalam waktu pendek," tegasnya lagi.

Hingga kini, kendala teknis dari pengembangan vaksin belum terindikasi. Akan tetapi Prof Amin mengatakan banyak yang harus dikejar dan perlu menggerakkan semua peralatan yang ada, karena semuanya serba dikejar oleh waktu.

Sembari menanti vaksin, Lembaga Eijkman akan mengembangkan imunisasi pasif, yakni serum antivirus dengan memanfaatkan plasma dari orang-orang yang sudah sembuh dari virus corona Covid-19 tersebut, kemudian setelah dikembangkan akan disuntikkan ke orang-orang yang terinfeksi.

"Kita baru mau mulai, tapi hal serupa sudah diterapkan di China," lanjutnya.

Prof Amin berharap produksi vaksin corona Covid-19 hanya memerlukan waktu sesingkat-singkatnya. Tentu sangat dibutuhkan komitmen dan konsistensi dari semua pihak, termasuk dalam hal pendanaan dan sebagainya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ini 10 Virus Paling Mematikan di Dunia, Salah Satunya Hantavirus

Ini 10 Virus Paling Mematikan di Dunia, Salah Satunya Hantavirus

Tekno | Kamis, 26 Maret 2020 | 12:02 WIB

Setelah AS, Kini Giliran Jepang Kembangkan Vaksin Corona Covid-19

Setelah AS, Kini Giliran Jepang Kembangkan Vaksin Corona Covid-19

Health | Selasa, 24 Maret 2020 | 20:21 WIB

Jadi yang Pertama Uji Coba Vaksin Corona, Begini Pengakuan Relawan

Jadi yang Pertama Uji Coba Vaksin Corona, Begini Pengakuan Relawan

News | Jum'at, 20 Maret 2020 | 11:32 WIB

Terkini

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi  Sebelum Terlambat

Pertamax Berpotensi Tembus Rp20 Ribu! Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi Sebelum Terlambat

News | Selasa, 15 September 2026 | 23:46 WIB

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

1765 Pelari dari 15 Negara Ramaikan Tangkuban Perahu

Sport | Selasa, 15 September 2026 | 23:05 WIB

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

Peringatan Bahaya di Makkah dan Jeddah Usai Rentetan Serangan Rudal

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:59 WIB

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

YLBHI Kecam Pengiriman Anak Demonstran ke Barak Militer: Ini Preseden Berbahaya!

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:55 WIB

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Mau Liburan ke Luar Negeri? BRI dan Golden Rama Kasih Diskon hingga Rp1 Juta!

Bri | Selasa, 15 September 2026 | 22:45 WIB

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Awas! Lima Titik Karhutla di Cianjur Terjadi Hampir Bersamaan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

Kronologi Lengkap Kasus ATR/BPN, Peran Fahd A Rafiq Diduga Jadi Pengepul Terakhir Uang Haram

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:35 WIB

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

Gibran 'Blusukan' di Tengah Krisis: Ubah Citra Politik, Ambil Celah yang Luput dari Prabowo?

News | Selasa, 15 September 2026 | 22:31 WIB

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Gibran Temui Korban Keracunan MBG di Karo, Akademisi Dorong Evaluasi Menyeluruh

Sumut | Selasa, 15 September 2026 | 22:29 WIB

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Sopir Truk KM Virgo Transport 8 Belum Ditemukan, Istri di Tulungagung Setia Menunggu Kabar

Jatim | Selasa, 15 September 2026 | 22:21 WIB

×