Marak Bilik Disinfektan, Pakar ITB: Bisa Jadi Virus Menyebar ke Area Lain

Silfa Humairah Utami | Rosiana Chozanah
Marak Bilik Disinfektan, Pakar ITB: Bisa Jadi Virus Menyebar ke Area Lain
UGM membuat bilik disinfektan untuk cegah penyebaran Covid-19. Nama bilik ini terdapat inisial D yang didedikasikan untuk Guru Besar UGM yang baru saja meninggal akibat Covid-19, Kamis (26/3/2020). [ist]

Disinfektan itu diperuntukkan untuk benda mati dengan perlakuan yang benar

Suara.com - Salah satu cara membunuh kuman, yang juga termasuk virus corona baru atau SARS-CoV-2, pada permukaan adalah menggunakan cairan disinfektan. Sayangnya, tidak sedikit orang yang dianggap salah kaprah dalam penggunaan cairan ini. Salah satu bentuknya adalah dengan dibuatnya bilik disinfektan di berbagai tempat.

Hal ini pun ditentang banyak pihak, termasuk dokter.

"Disinfektan itu diperuntukkan untuk benda mati dengan perlakuan yang benar. Disinfektan tidak diperuntukkan untuk tubuh manusia," kata Tan kepada Suara.com, Minggu (29/3/2020).

Ada berbagai macam cairan disinfektan yang umum digunakan dalam bilik disinfeksi ini, antara lain diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70%, kloroksilenol, electrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, hidrogen peroksida (H2O2), dan larutan lainnya.

Sejumlah pakar dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung pun turut menganggapi maraknya kasus yang dinilai kurang tepat ini.

Pedoman penggunaan cairan disinfektan (WHO)
Pedoman penggunaan cairan disinfektan (WHO)

"Waktu kontak efektif dan konsentrasi cairan disinfektan yang disemprotkan ke seluruh tubuh dalam bilik disinfeksi untuk membunuh mirkoba belum diketahui, apalagi waktu kontak efektif terhadap virus SARS-CoV-2," tulis mereka dalam sebuah artikel yang terbit pada Sabtu (28/3/2020) di situs resmi perguruan tinggi tersebut.

Baik Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tidak menyarankan penggunaan produk disinfektan yang belum teruji efektivitasnya jika digunakan dengan metode aplikasi lain seperti fogging dan electrostatic sprayer atau penyemprotan.

"Hingga saat ini, belum ada data ilmiah yang menunjukkan berapa persen area tubuh yang 'terbasahi' cairan disinfektan dalam bilik ini serta seberapa efektif metode ini dalam 'membunuh' mikroba."

"Ketika disinfektan disemprotkan dalam bilik ini, bisa jadi virus justru menyebar ke area yang tidak terbasahi oleh cairan ini. Hal ini dapat membahayakan pengguna bilik selanjutnya jika ada virus yang 'tersisa' di dalam bilik dan terhirup pengguna tersebut."

Tidak hanya itu, penyemprotan ke tubuh manusia, udara, dan jalan raya juga disebut tidak efektif. Apabila dilakukan secara berlebihan justru akan berdampak pada lingkungan.

"Salah satunya adalah timbulnya resistensi, baik resistensi bakteri ataupun virus terutama apabila disinfektan tidak digunakan pada konsentrasi idealnya."

Menurut mereka perlu dilakukan lebih lanjut terkait pemilihan cairan disinfektan yang aman dan efektif untuk bilik disinfeksi.

"Mengingat dengan cara ini memungkinkan terjadinya kontak antara cairan disinfektan dengan kulit, mata dan dapat terhirup."

Para pakar pun kembali mengingatkan bahwa pencegahan pemaparan virus corona baru yang sesuai dengan rekomendasi WHO adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun, mandi serta mengganti pakaian setelah melakukan aktivitas di luar, serta menerapkan physical distancing minimal satu meter.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS