3 Fakta Tentang Alat Bantu Pernapasan, Penyambung Hidup Pasien Covid-19

M. Reza Sulaiman | Suara.com

Senin, 30 Maret 2020 | 13:10 WIB
3 Fakta Tentang Alat Bantu Pernapasan, Penyambung Hidup Pasien Covid-19
Ilustrasi pasien menggunakan alat bantu pernapasan. (Shutterstock)

2. Cara kerja alat bantu pernapasan

Alat bantu pernapasan bekerja dengan memompa udara bertekanan yang mengandung oksigen ke paru-paru dan mendesak cairan dari alveoli paru-paru ke luar.

Prinsipnya terdengar sederhana, tapi teknik perawatan medisnya sangat rumit. Mesin alat bantu pernapasan modern, bisa disesuaikan dengan profil pernapasan pasien yang memerlukannya.

Pada alat bantu pernapasan dengan tekanan terkontrol, mesin respirator menyetel tekanan sedemikian rupa ke saluran pernapasan dan paru-paru, agar sebanyak mungkin oksigen dapat diserap.

Jika tekanan sudah cukup, pengeluaran nafas dimulai. Respirator praktis mengambil alih proses pernapasan pasien.

Lazimnya udara dialirkan dengan bantuan masker yang kedap udara, yang dipasang di area mulut dan hidung pasien.

Jika kasusnya sangat parah, biasanya selang alat bantu pernapasan dimasukkan langsung ke saluran pernapasan, dengan cara melubangi leher atau tindakan trakeotomi.

Karena prosedurnya menyakitkan, pasien biasanya harus dibius dan direkayasan ke kondisi koma buatan.

Ilustrasi pasien menggunakan alat bantu pernapasan. (Shutterstock)
Ilustrasi pasien menggunakan alat bantu pernapasan. (Shutterstock)

3. Mengapa terjadi kelangkaan alat bantu pernapasan?

Dalam situasi krisis wabah virus corona, permintaan alat respirator meningkat drastis. Banyak negara di Eropa yang tergolong maju, sistem kesehatannya tidak siap menghadapi krisis yang memerlukan alat bantu pernapasan dalam jumlah banyak dalam waktu bersamaan.

Mesin canggih untuk membantu pernapasan di sektor kedokteran gawat darurat, yang harga satu unitnya ada yang mencapai 50.000 euro atau sekitar 750 juta rupiah tidak bisa dibeli begitu saja di pasar bebas. Perusahaan yang memproduksi alat bantu pernapasan canggih, yang bisa memperkaya darah pasien dengan oksigen yang disebut ECMO juga tidak banyak jumlahnya di seluruh dunia.

Perusahaan pembuat alat bantu pernapasan sedunia juga sudah menggenjot kapasitas produksinya sampai taraf maksimal. Tapi wabah juga melumpuhkan rantai pemasokan suku cadang dan peralatan seperti selang pernapasannya.

Selain itu, bukan hanya kekurangan alat, kekurangan tenaga ahli juga sangat terasa. Di masa krisis wabah Covid-19, para ahli yang bisa mengoperasikan respirator bekerja tanpa henti melayani pasien-pasien gawat darurat yang jumlahnya terus naik tiap hari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kondisi Menhub Sudah Membaik, Alat Bantu Pernapasan Sudah Dilepas

Kondisi Menhub Sudah Membaik, Alat Bantu Pernapasan Sudah Dilepas

News | Rabu, 25 Maret 2020 | 11:04 WIB

Gempar Hantavirus di China, Ternyata Sudah Ada Sejak 1993 di AS

Gempar Hantavirus di China, Ternyata Sudah Ada Sejak 1993 di AS

Health | Rabu, 25 Maret 2020 | 10:13 WIB

Stupid-19: Masker dan Respirator Dijadikan Bikini, Model Ini Dikecam Habis

Stupid-19: Masker dan Respirator Dijadikan Bikini, Model Ini Dikecam Habis

Lifestyle | Selasa, 24 Maret 2020 | 12:06 WIB

Terkini

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Health | Rabu, 08 April 2026 | 19:55 WIB

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Health | Rabu, 08 April 2026 | 14:11 WIB

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Health | Rabu, 08 April 2026 | 11:58 WIB

Solusi Membasmi Polusi Kekinian  ala Panasonic

Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic

Health | Selasa, 07 April 2026 | 19:00 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Health | Selasa, 07 April 2026 | 11:00 WIB

Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD

Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD

Health | Senin, 06 April 2026 | 17:43 WIB

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

Health | Minggu, 05 April 2026 | 09:54 WIB

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB