Wajib Tahu, Ini Pentingnya Jaga Kebutuhan Serat di Tengah Pandemi Covid-19

Bimo Aria Fundrika | Dinda Rachmawati
Wajib Tahu, Ini Pentingnya Jaga Kebutuhan Serat di Tengah Pandemi Covid-19
Ilustrasi makanan kaya serat. [Shutterstock/Marcelo Krelling]

Sebanyak 95,4 persen masyarakat Indonesia kurang konsumsi buah dan sayuran, sehingga berisiko kekurangan serat .

Suara.com - Wajib Tahu, Ini Pentingnya Jaga Kebutuhan Serat di Tengah Pandemi Covid-19

Seiring dengan meningkatnya jumlah pasien corona atau Covid-19 di Indonesia tentu menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang. Meski sudah menjalani social distancing sesuai imbauan pemerintah, perasaan cemas, gugup atau stres mungkin saja dialami sebagian orang.

Tapi, tahukah kamu apa yang menyebabkan perasaan tak nyaman ini muncul? Nourmatania Istiftiani, Scientific dari FibreFirst dalam siaran pers yang suara.com terima pada  Jumat (17/4/2020) menjelaskan, jika sensasi tidak nyaman yang berasal dari perut ini menunjukkan bahwa otak dan sistem pencernaan kita saling terhubung.

"Sistem komunikasi atau koneksi antara sistem pencernaan dengan otak disebut gut-brain axis. Kedua organ ini terhubung baik secara fisik maupun biokimia dengan beberapa cara berbeda," jelas dia.

Baca Juga: 728 Kasus Baru Covid-19 di Singapura, Mayoritas Dari Asrama Pekerja Asing

Lebih lanjut Nourmatania mengatakan, jika usus manusia juga mengandung 10 hingga 100 triliun mikrobiota, atau hampir 10 kali lebih besar dari jumlah total sel dalam tubuh manusia.

Mikrobiota usus inilah yang memainkan peran penting dalam komunikasi dua arah antara usus dan sistem saraf pusat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mikrobiota usus dapat memengaruhi fungsi otak melalui jalur neuroimun dan neuroendokrin serta sistem saraf.

“Mikrobiota usus akan menghasilkan ratusan neurokimia yang digunakan otak untuk mengatur proses fisiologis dasar serta proses mental seperti proses belajar, memori dan suasana hati”, ungkap dia lagi.

Oleh sebab itu, mikrobiota usus dapat menjadi pengatur utama dalam suasana hati, rasa sakit, dan juga fungsi kognitif. Mikrobiota usus sendiri, lanjutnya, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, cara persalinan, diet atau pola makan, penggunaan antibiotik, serta konsumsi probiotik dan prebiotik.

Bukan cuma jumlah dan koloni mikrobiota usus, kadar Short Chain Fatty Acid (SCFA) atau asam lemak rantai pendek, juga dapat memengaruhi perasaan depresi pada seseorang.

Baca Juga: Hits: Kentut Bisa Tularkan Virus Corona, Kerusakan Organ Penderita Covid-19

Kandungan SCFA yang lebih rendah terdapat pada feses individu dengan depresi dibandingkan dengan individu tanpa gangguan mental.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS