Suara.com - Didi Kempot meninggal dunia di usia 53 tahun pada Selasa (5/5/2020) pagi di Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu Solo. Didi Kempot dikabarkan sudah mengalami henti jantung ketika tiba di rumah sakit.
Seperti yang diketahui, henti jantung adalah masalah jantung serius yang bisa menyebabkan kematian. Pasien pada kondisi ini artinya jantung mereka telah berhenti berdetak.
Kondisi ini terjadi akibat sistem kelistrikan internal yang mengontrol detak jantung mengalami kerusakan. Lalu, henti jantung terjadi ketika irama jantung berhenti.
Dilansir oleh Healthline, riwayat penyakit jantung dan faktor kesehatan tertentu juga bisa meningkatkan risiko henti jantung, antara lain:
1. Penyakit jantung koroner
Masalah jantung ini berawal dari arteri koroner. Arteri ini memasok otot jantung itu sendiri. Saat otot jantung tersumbat, maka jantung tidak akan bisa menerima darah. Sehingga jantung pun berhenti menjalankan fungsinya.
![Unggahan Ayu Ting Ting soal Didi Kempot [Instagram/@ayutingting92]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/05/05/48232-unggahan-ayu-ting-ting-soal-didi-kempot-instagramatayutingting92.jpg)
2. Katup jantung bocor
Penyakit katup jantung bocor adalah gangguan pada salah satu dari keempat katup jantung. Sehingga darah menjadi tidak lancar mengalir ke pembuluh darah selanjutnya. Akibatnya, katup jantung akan membesar dan melemah.
3. Penyakit jantung bawaan
Beberapa orang yang terlahir dengan penyakit jantung bawaan juga berisiko mengalami henti jantung, terutama anak-anak dengan masalah jantung serius.
4. Masalah impuls listrik
Masalah sistem kelistrikan jantung juga bisa meningkatkan risiko kematian jantung mendadak atau henti jantung. Masalah-masalah ini juga dikenal sebagai kelainan irama jantung primer.
5. Kelainan jantung
Kelainan jantung yang menyebabkan jantung membesar juga meningkatkan risiko henti jantung. Karena, kondisi ini menyebabkan jantung kesulitan berdetak dan otot menjadi rentan terhadap kerusakan.