Ilmuwan Inggris Kembangkan Inhaler Khusus Covid-19, Ini Fungsinya!

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Ilmuwan Inggris Kembangkan Inhaler Khusus Covid-19, Ini Fungsinya!
inhaler (Freepik)

Ilmuwan Inggris sedang mengembangkan inhaler khusus pasien corona Covid-19 untuk meringankan gejala dan mencegah kondisi lebih parah.

Suara.com - Para ilmuwan Inggris telah mengembangkan inhaler khusus virus corona Covid-19 yang bisa membantu meringankan gejala awal.

Para peneliti dari University of Southampton telah mengirim 120 inhaler ke pasien corona Covid-19 untuk diuji mulai hari ini.

Teknologi baru yang menjajikan ini menggunakan obat eksperimental yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Obat ini mengandung protein bernama interferon beta yang diproduksi oleh tubuh setiap kali terkena virus.

Obat ini sudah pernah digunakan dalam pengobatan multiple sclerosis dan telah menunjukkan hasil positif dalam mengurangi gejala virus corona Covid-19 dalam uji coba di Hong Kong yang mengombinasikan dengan obat lain.

Saat obat ini dihirup, obat akan masuk langsung ke paru-paru dan membantu menekan efek virus. Para ilmuwan berharap ini bisa mencegah pasien memasuki fase mematikan akibat gejala serius yang biasanya terjadi di hari kesepuluh sejak munculnya gejala.

Steroid inhaler (Freepik)
Ilustrasi inhaler (Freepik)

Jika percobaa ini berhasil, perusahaan yang berbasis di Southampton Synairgen berharap bisa meluncurkan jutaan dosis pada akhir tahun ini. Sehingga langkah ini bisa membantu tim medis dalam melawan pandemi virus.

Sementara itu, tim yang membuat inhaler akan segera menyelesaikan uji coba di rumah sakit yang melibatkan 100 pasien dan hasilnya akan diterbitkan pada bulan Juli 2020.

"Kami membutuhkan pengobatan untuk virus corona Covid-19 yang diberikan kepada pasien pada awal gejala untuk mencegah gejala lebih parah," kata pemimpin studi Nick Francis dikutip dari The Sun.

Para pasien corona Covud-19 dengan kondisi serius biasanya juga mengalami gejala parah, seperti masalah pernapasan dan pneumonia pada minggu kedua setelah tertular virus.

Richard Marsden, kepala Synairgen menambahkan inhaler ini diharapkan bisa mencegah pasien mengalami kondisi serius pada fase tersebut.

Ilustrasi Pasien Covid-19. (Pexels)
Ilustrasi Pasien Covid-19. (Pexels)

"Kita bisa mencegah orang mengalami kondisi parah pada minggu kedua setelah terinfeksi virus," kata Richard Marsden.

Sebelumnya, Boris Johnson juga mengalami kondisi yang lebih serius pada minggu kedua ketika menjalani perawatan di rumah sakit. Sehingga ilmuwan berpikir bahwa setelah 10 hari orang yang mengalami gejala flu biasa akan menderita radang paru-paru atau lebih parah.

Dalam percobaan ini, pasien berkontribusi dalam uji coba selama 72 jam setelah mengembangkan masalah pernapasan dan gejala lainnya.

Lalu, mereka mengambil satu isapan inhaler sekali sehari dan mencatat perubahan kondisi serta suhunya.

Kemudian dokter memantau kondisinya setelah 14 hari memakai inhaler dan memastikan mereka tidak kambuh. Uji coba ini melibatkan pasien berusia 50 tahun dengan riwayat penyakit dan pasien 65 tahun.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS