Suara.com - Sakit kepala merupakan salah satu masalah kesehatan yang lumrah yang dialami banyak orang termasuk pada anak.
Ahli Neurologi Anak Dr. Lies Dewi Nurmalia, Sp.A (K) mengatakan hanya enam persen dari sakit kepala yang terjadi menandakan gejala serius.
Di sisi lain, Dr. Lies dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bahwa sekitar 10 persen anak belum sekolah sudah pernah merasakan sakit kepala. Selain itu, sekitar 20 persen anak sekolah juga pernah mengalami sakit kepala.
"Dan 80 persen hingga 90 persen sakit kepala dialami remaja, artinya cukup sering dialami. Tapi hanya sekitar enam persen yang mengkhawatirkan," ujar Dr. Lies dalam diskusi Live IG Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (7/7/2020).
Ia mengatakan dari enam persen itu, ada gejala-gejala yang harus diwaspadai orangtua, saat sakit kepala menyerang anak dan bisa berakibat fatal, atau menandai adanya penyakit serius dan harus segera mendapat penanganan dokter.
Tandanya adalah sakit kepala yang sampai membangunkan anak saat tidur di malam hari, sakit kepala disertai muntah tanpa mual di pagi hari, sakit kepala terus menerus semakin berat dan sering.
Bahkan ketika anak mengaku sakit kepal tak tertahankan dan tidak sama seperti biasanya, orangtua juga harus merasa khawatir.
"Sakit kepalanya ditandai pandangan tidak jelas, hingga menyebabkan gangguan kepribadian jadi pemarah, dan ada anggota tubuh yang melemah. Terakhir sakit kepala disertai demam pada lehernya, itu harus dilakukan pemeriksaan sesering mungkin," ujar dr. Lies.
Adapun langkah pertolongan pertama yang bisa dilakukan saat anak sakit kepala, ialah memastikan anak cukup minum, biarkan beristirahat di ruangan dengan cahaya agak gelap, jauhkan dari bebauan bila anak tidak suka.
"Kadang ada beberapa makanan yang bisa mecetuskan sakit kepala. Paling sering itu keju dan cokelat, coba dicek apakah setelah makan itu sakit kepala," paparnya.
Untuk obat pertolongan pertama, bisa diberikan paracetamol dalam bentuk sirop ataupun tablet untuk anak.