Ilmuwan: Asal-usul Virus Corona Mungkin Tidak akan Pernah Teridentifikasi

Yasinta Rahmawati, Fita Nofiana

Rabu, 08 Juli 2020 | 14:01 WIB
Ilmuwan: Asal-usul Virus Corona Mungkin Tidak akan Pernah Teridentifikasi
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Saat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersiap untuk menyelidiki asal-usul virus corona di China, para ilmuwan sebut usaha itu bisa memakan waktu bertahun-tahun bahkan bisa saja tidak mencapai kesimpulan pasti. 

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), Sars-CoV-2 kemungkinan berasal dari kelelawar. Tetapi kelelawar mungkin telah menemukan jalannya ke hewan lain, menggeser bentuk genetiknya di sepanjang jalan, memungkinkannya untuk menempel ke sel manusia. 

"Sementara menunjukkan dengan tepat rute virus ke manusia mungkin tidak memungkinkan, para ilmuwan dapat membangun hipotesis yang lebih kuat," kata David Heymann, seorang profesor epidemiologi penyakit menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine.

"Hipotesis-hipotesis itu akan melayani penelitian masa depan dengan mengidentifikasi apa yang ingin Anda lihat lebih dekat," kata Heymann, yang mengetuai Kelompok Penasihat Teknis Ilmiah WHO untuk Bahaya Infeksi.

Menemukan hewan dengan virus yang mirip pada pasien Covid-19 awal akan menjadi cara yang paling mudah untuk melacak patogen, tetapi waktu cukup bertentangan dengan strategi itu.

Ilustrasi virus corona. [Shutterstock]
Ilustrasi virus corona. [Shutterstock]

"Virus itu bisa hilang, mungkin tidak beredar pada hewan, ia melonjak ke orang-orang dan sekarang ini adalah tempat penyebarannya," kata Wanda Markotter, direktur Center for Viral Zoonoses di Universitas Pretoria di Afrika Selatan.

"Bahkan pada kelelawar, virus mungkin hanya ada pada musim-musim tertentu, membuatnya mudah untuk dilewatkan dalam studi satu kali saja," kata Markotter yang menjalankan pengawasan kelelawar sebagai bagian dari penelitiannya sendiri.

Menurut para ilmuwan, untuk melacak kembali sumber hewan maka akan melibatkan skrining yang diambli dari beberapa bulan sebelum wabah. 

"Melacak kembali sumber hewan idealnya akan melibatkan sampel skrining yang diambil secara rutin dari hewan pasar yang dijual pada enam hingga 12 bulan sebelumnya hingga wabah," kata Gavin Smith, seorang profesor dalam program penyakit menular yang baru muncul di Duke-NUS Medical School di Singapura.

baca juga

Tantangan lain adalah tidak adanya pasien nol atau manusia pertama yang terinfeksi di mana dapat menunjuk ke tautan hewan.

Pasien pertama diidentifikasi oleh rumah sakit Wuhan pada bulan Desember, tetapi kemudian analisis genetik menempatkan crossover virus ke manusia mungkin ada sejak di musim gugur.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Setelah Empat Kali Tes Virus Corona, Presiden Brasil Dinyatakan Positif

Setelah Empat Kali Tes Virus Corona, Presiden Brasil Dinyatakan Positif

Health | Rabu, 08 Juli 2020 | 13:32 WIB

Kebersihan Mulut Ternyata Memengaruhi Risiko Covid-19

Kebersihan Mulut Ternyata Memengaruhi Risiko Covid-19

Health | Rabu, 08 Juli 2020 | 13:19 WIB

Sejarah Sejak Pandemi Maret! Hari Ini Sumut Nihil Kasus Baru Corona

Sejarah Sejak Pandemi Maret! Hari Ini Sumut Nihil Kasus Baru Corona

News | Rabu, 08 Juli 2020 | 13:16 WIB

Terkini

KAI Palembang Buka Akses Magang, PKL, dan Penelitian secara Digital melalui InternHub

KAI Palembang Buka Akses Magang, PKL, dan Penelitian secara Digital melalui InternHub

Sumsel | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 22:07 WIB

Pengamat Soroti Manuver Politik di Balik Kasus Eks Jampidsus

Pengamat Soroti Manuver Politik di Balik Kasus Eks Jampidsus

News | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:43 WIB

Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol

Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol

News | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:40 WIB

Simalungun Diguncang Gempa M 6,4: Getaran Terasa hingga Kabanjahe

Simalungun Diguncang Gempa M 6,4: Getaran Terasa hingga Kabanjahe

Sumut | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:29 WIB

Update Gempa NTT: 47 Nyawa Melayang, Ratusan Ton Bantuan Presiden Prabowo Mulai Dikirim

Update Gempa NTT: 47 Nyawa Melayang, Ratusan Ton Bantuan Presiden Prabowo Mulai Dikirim

Bali | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:22 WIB

3 Wisatawan Asing Jadi Korban Gempa NTT, Tertimpa Reruntuhan Hotel

3 Wisatawan Asing Jadi Korban Gempa NTT, Tertimpa Reruntuhan Hotel

News | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:20 WIB

Gempat M 7,7 Tak Surutkan Pesona Labuan Bajo: Wisatawan Aman, Kapal Kembali Melaut

Gempat M 7,7 Tak Surutkan Pesona Labuan Bajo: Wisatawan Aman, Kapal Kembali Melaut

Bali | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:07 WIB

6000 Pelari Ramaikan Titan Run 2026, Jarak 17,8 Km Berbuah Rekor MURI

6000 Pelari Ramaikan Titan Run 2026, Jarak 17,8 Km Berbuah Rekor MURI

Sport | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:03 WIB

Tak Hanya Mobil Konvensional, BRI KKB Expo 2026 Juga Dukung Pembiayaan Kendaraan Listrik

Tak Hanya Mobil Konvensional, BRI KKB Expo 2026 Juga Dukung Pembiayaan Kendaraan Listrik

Bali | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:02 WIB

Gempa NTT, Badan Geologi Minta Waspada Bahaya Susulan

Gempa NTT, Badan Geologi Minta Waspada Bahaya Susulan

Bali | Sabtu, 15 Agustus 2026 | 21:01 WIB

×