alexametrics

Orang Bertubuh Tinggi Lebih Berisiko Terinfeksi Covid-19, Ini Temuan Studi

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni
Orang Bertubuh Tinggi Lebih Berisiko Terinfeksi Covid-19, Ini Temuan Studi
Ilustrasi Tinggi Badan Laki-Laki. (Shutterstock)

Studi menemukan tinggi badan seseorang memengaruhi risikonya tertular virus corona Covid-19.

Suara.com - Pada awal pandemi virus corona Covid-19, pria sudah dianggap sebagai kelompok yang lebih berisiko terinfeksi daripada wanita karena beberapa kebiasan buruk, seperti merokok.

Kini, sebuah studi baru kembali menemukan faktor lain yang bisa meningkatkan risiko seseorang terinfeksi virus corona Covid-19, salah satunya tinggi badan.

Para peneliti dari Universitas Manchester telah mengungkapkan bahwa orang bertubuh tinggi lebih dari 6 kaki (180 cm), maka berisiko 2 kali lebih besar tertular virus corona Covid-19.

Dalam studi tersebut, para peneliti melakukan riset terhadap 2.00 orang di Inggris dan Amerika Serikat untuk memahami prediktor pribadi yang terkait dengan penularan virus corona Covid-19.

Baca Juga: 75 Persen Pasien Covid-19 Alami Kerusakan Organ Mirip Serangan Jantung

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penularan aerosol virus corona Covid-19 sangat mungkin terjadi.

Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@Anna Shvet)
Ilustrasi virus corona, covid-19. (Pexels/@Anna Shvet)

Orang yang lebih tinggi sangat berisiko mengalaminya, karena mereka mungkin tidak akan tertular virus melalui tetesan cairan pernapasan tubuh secara langsung.

Tetesan cairan yang mengandung virus corona memang ukurannya lebih besar dari aerosol, yang relatif bisa mengontaminasi atau menyebar dalam jangka dan jarak pendek serta mudah jatuh ke permukaan.

Berbeda dengan tetesan cairan, aerosol yang mengandung Covid-19 sangat ringan dan bisa berterbangan di udara. Sehingga aerosol ini bisa menjangkau orang bertubuh tinggi.

"Hasil survei ini hanya mengenai hubungan antara tinggi badan dan diagnosis virus corona yang menunjukkan bahwa ada kemungkinan penularan melalui aerosol," jelas Profesor Evan Kontopantelis dikutip dari Mirror UK.

Baca Juga: Sehari 37 Warga Positif, Kawasan Kramat Pecah Rekor Kasus Corona di Jakpus

Profesor Evan Kontopantelis mengatakan penelitian lain sudah pernah mengungkapkan hal sama, tetapi metode konfirmasi penelitiannya adalah novel.

Komentar