Suara.com - Sebuah laporan terbaru pada Minggu (6/9/2020), menunjukkan bahwa pasien Covid-19 parah yang dirawat di rumah sakit masih akan mengalami kerusakan paru-paru dan masalah pernapasan beberapa minggu setelah dipulangkan ke rumah.
Berdasarkan FoxNews, laporan ini ditulis oleh peneliti dari Austria setelah melacak 86 pasien virus corona yang sudah dipulangkan.
Mereka menemukan, enam minggu setelah pulang, hasil CT scan memperlihatkan 88 persen pasien masih memiliki tanda-tanda kerusakan paru-paru, sementara 47 persen lainnya mengalami sesak napas.
Selama jangka waktu tersebut, sebanyak 24 pasien mengalami berkurangnya volume paru-paru, di bawah 80 persen, yang tersedia untuk bernapas dibandingkan dengan orang pada umumnya.
“Korban Covid-19 mengalami kerusakan paru-paru beberapa minggu setelah pemulihan,” kata Dr. Sabina Sahanic dari Klinik Universitas di Innsbruck, salah satu penulis studi.
![Ilustrasi sesak napas. [Shutterstock]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/06/02/42381-sesak-napas.jpg)
Lebih dari 60 persen pasien dalam studi ini adalah laki-laki, dan hampir 50 persen adalah mantan perokok. Sedangkan ada 65 persen memiliki berat badan berlebih atau obesitas.
Bukti kerusakan paru-paru masih ada pada 12 minggu, meski sudah menurun 32 persen dari 6 minggu sebelumnya, sementara tanda sesak napas turun ke 8 persen.
Peneliti menemukan bahwa dampak ini terjadi pada pasien Covid-19 umum, baik sebelumnya ia dirawat di ICU atau tidak.
Beberapa pasien juga menunjukkan tanda-tanda kerusakan jantung, meski kondisinya membaik selama penelitian.
"Studi Austria melaporkan hasil tindak lanjut jangka pendek dalam kelompok yang dirawat di rumah sakit, menunjukkan ada bukti yang terus berlanjut dari kerusakan jantung dan paru-paru pada sebagian besar pasien pada 12 minggu setelah keluar," kata Tom Wilkinson, profesor dan konsultan bidang kedokteran pernapasan di University of Southampton.
Menurut peneliti, temuan studi ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih baik dalam pencegahan dan pengobatan infeksi virus corona.