Array

Satgas Covid-19 Ungkap Masih Ada Stigma Negatif untuk Pasien, Kenapa?

Rabu, 21 Oktober 2020 | 13:45 WIB
Satgas Covid-19 Ungkap Masih Ada Stigma Negatif untuk Pasien, Kenapa?
Ilustrasi pasien virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Pandangan buruk atau stigma negatif dari masyarakat terhadap pasien Covid-19 masih menjadi persoalan.

Menurut Satgas Covid-19, peran media sangat berpengaruh dalam pembentukan stigma tersebut.

Tim Bidang Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 Urip Purwono, M.Sc, M.S., Ph.D mengatakan bahwa bahasa yang digunakan media dalam menyampaikan informasi dapat menambah stigma tersebut.

"Kalau kita selalu pakai bahasa 'korban covid', korban itu sendiri memiliki konotasi negatif. Itu secara psikologis menambah berat stigma. Lebih baik memakai bahasa 'yang sudah mendapatkan pengobatan' dibandingkan korban yang tertular. Ini perlu dipahami," kata Urip dalam siaran virtual BNPB, Selasa (20/10/2020).

Menurutnya, stigma itu dianggap berbahaya dalam kondisi pandemi saat ini.

Sebab memunculkan pandangan negatif yang membuat mereka dijauhi.

Akibatnya, menimbulkan perubahan perilaku orang yang terinfeksi virus jadi menyembunyikannya lantaran khawatir dengan stigma.

"Itu berbahaya bahkan sebelum kena kalau dia tahu ada tanda-tanda (covid) lebih baik periksa," katanya.

Selain menghilangkan stigma buruk di masyarakat, Urip menyampaikan bahwa semua orang juga sebaiknya dipersiapkan untuk menghadapi pandangan negatif itu.

Baca Juga: Ini Dia Warga Prioritas Penerima Vaksin Covid-19 di Kota Bogor

"Ada satu konsep di psikologis itu namanya resiliensi. Itu bisa ditingkatkan. Kalau tahu kena stigma yang bersangkutan bisa mengatasi stigma tersebut. Selain stigma itu sendiri harus dihilangkan," ujarnya.

Dalam sejarahnya, lanjut Urip, stigma memang seringkali ada disetiap epidemi. Ia menjelaskan bahwa secara psikoligis, stigma muncul karena adanya stereotipe.

Di mana pandangan negatif yang sering kali tidak berdasar muncul terjadap seseorang atau kelompok dan selalu mengarah pada pandangan lebih rendah dari umumnya masyarakat.

"Stigma ini dalam sejarah memang sering muncul saat ada epidemi atau pandemi. Bahkan kadang menyebabkan hemopobia. Seperti saat ebola," ucapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI