alexametrics

Studi: Depresi dan Kecemasan Lebih Banyak Terjadi pada Perempuan

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Studi: Depresi dan Kecemasan Lebih Banyak Terjadi pada Perempuan
Ilustrasi cemas atau khawatir [Shutterstock]

Bisa dipicu karena ketidaksetaraan gender, kecemasan dan depresi lebih lebih mungkin terjadi pada perempuan.

Suara.com - Menurut studi baru, perempuan lebih banyak didiagnosis mengalami depresi dan kecemasan ketimbang laki-laki. Hal ini dinyatakan oleh penelitian yang diterbitkan pada jurnal Gaceta Sanitaria.

Melansir dari Medical Xpress, gender adalah faktor penentu yang signifikan dalam kesehatan mental.

"Perempuan lebih sering didiagnosis dengan depresi dan kecemasan dan penggunaan obat psikotropika yang diresepkan juga secara signifikan lebih tinggi," kata Amaia Bacigalupe, salah satu penulis penelitian.

Kelompok peneliti menyoroti fakta bahwa mengurangi ketidaksetaraan gender dalam kesehatan mental perlu dilakukan dengan intervensi berbagai bidang.

Baca Juga: Ketahui 5 Mitos Populer Terkait Kehamilan

"Ada hubungan yang jelas antara tingkat ketidaksetaraan gender di masyarakat dan ketidaksetaraan gender dalam kesehatan mental," kata Amaia Bacigalupe.

"Jadi semua kebijakan yang dirancang untuk memerangi diskriminasi yang dialami oleh perempuan perlu dilakukan mulai dari pasar tenaga kerja, dalam tanggung jawab rumah tangga dan pekerjaan perawatan, dan secara umum, terkait dengan hal-hal yang memberdayakan perempuan berdasarkan representasi politik mereka.

Ilustrasi depresi
Ilustrasi depresi

Hal ini akan memberikan efek positif pada pengurangan ketidaksetaraan mental antara laki-laki dan perempuan," imbuhnya. Aspek lain yang disoroti dalam studi ini adalah kebutuhan untuk membuat komitmen mulai dari tingkat kelembagaan untuk membangun perspektif gender yang jelas.

Menurut penelitian tersebut, perlu juga untuk mendorong ruang refleksi dalam pengaturan klinis yang dirancang untuk membantu secara kolektif mendekonstruksi aspek-aspek gender, seperti menghapus binarisme dalam gender.

"Kesejahteraan emosional dari pendekatan kesehatan masyarakat dapat mencegah patologisasi berlebihan dan medikalisasi berlebihan," kata Bacigalupe.

Baca Juga: Studi Inggris: Sekolah Daring Malah Turunkan Risiko Kecemasan Remaja

Komentar