Miris, Banyak Orangtua Anggap Kental Manis Sebagai Susu Pertumbuhan

Vania Rossa | Suara.com

Sabtu, 21 November 2020 | 06:08 WIB
Miris, Banyak Orangtua Anggap Kental Manis Sebagai Susu Pertumbuhan
Ilustrasi kental manis. (Shutterstock)

Suara.com - Mengacu pada definisinya, kental manis adalah susu yang dibuat melalui proses evaporasi atau penguapan, dan diberi gula tambahan. Hal ini menyebabkan kental manis memiliki kandungan protein yang rendah, namun memiliki kadar gula yang cukup tinggi. Sehingga, banyak praktisi kesehatan tidak menyarankan kental manis untuk dikonsumsi oleh anak-anak, terutama balita.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang memberikan kental manis kepada anak balitanya. Hasil penelitian YAICI, PP Muslimat NU, dan PP Aisyiyah mengenai Persepsi Masyarakat Terhadap Kental Manis di 5 Provinsi bahkan menunjukkan satu dari empat balita minum kental manis setiap hari.

Penelitian dilakukan di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, dan Maluku, dengan total responden adalah 2.068 ibu yang memiliki anak usia 0 – 59 bulan atau 5 tahun.

Dari penelitian ditemukan 28,96% dari total responden mengatakan kental manis adalah susu pertumbuhan, dan sebanyak 16,97% ibu memberikan kental manis untuk anak setiap hari. Dari hasil penelitian juga ditemukan sumber kesalahan persepsi ibu, dimana sebanyak 48% ibu mengakui mengetahui kental manis sebagai minuman untuk anak dari media, baik TV, majalah atau koran, dan juga media sosial. Bahkan, 16,5% mengatakan informasi tersebut didapat dari tenaga kesehatan.

Temuan menarik lainnya adalah, kategori usia yang paling banyak mengonsumsi kental manis adalah usia 3-4 tahun sebanyak 26,1%, menyusul anak usia 2-3 tahun sebanyak 23,9%. Sementara konsumsi kental manis oleh anak usia 1-2 tahun sebanyak 9,5%, usia 4-5 tahun sebanyak 15,8%, dan 6,9% anak usia 5 tahun yang mengonsumsi kental manis sebagai minuman sehari-hari.

Dilihat dari kecukupan gizi, 13,4% anak yang mengonsumsi kental manis mengalami gizi buruk, 26,7% berada pada kategori gizi kurang, dan 35,2% adalah anak dengan gizi lebih.

“Dari masih tingginya persentase ibu yang belum mengetahui penggunaan kental manis, terlihat bahwa memang informasi dan sosialisasi tentang produk kental manis ini belum merata, bahkan di ibukota sekalipun,” kata Arif Hidayat, Ketua Harian YAICI, dalam webinar yang dilakukan secara daring beberapa waktu lalu.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Chairunnisa, mengatakan bahwa kadernya sendiri pun masih perlu diberikan literasi mengenai kental manis yang bukan merupakan susu.

“Aisyiyah berkewajiban untuk memberikan sosialisasi dan melakukan edukasi kepada kader, menyampaikan bahwa kental manis jangan dipahamkan sebagai susu, karena itu adalah sebagai topping atau penambah rasa,” katanya.

Sedangkan Erna Yulia Soefihara, Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU, mengatakan bahwa ia dan kadernya di seluruh Indonesia mencoba untuk mengubah persepsi bahwa kental manis bukanlah susu yang bisa diminum untuk balita.

“Tapi memang sangat sulit ya, saat kita melakukan sosialisasi itu karena sudah begitu lama di mereka itu bahwa susu kental manis itu sehat,” jelas Erna.

“Maka kami punya cara sendiri pada waktu itu, sosialisasinya dengan mengadakan lomba membuat makanan versi mereka masing-masing sesuai dengan potensi lokal yang ada dengan dicampur susu kental manis. Jadi kita ingin memberikan pemahaman kepada mereka bahwa ini bukan susu, tapi kental manis. Dan alhamdulillah mereka sedikit paham, mindset mereka sudah mulai berubah, kami juga pantau terus untuk mengetahui perkembangan bagaimana pemahaman ibu-ibu,” tambahnya.

Sofie Wasiat, Public Policy Observer yang juga hadir sebagai penanggap mengatakan meski tulisan ‘susu’ pada kental manis sudah dihilangkan, tetapi kata Susu Kental Manis masih digunakan di banyak e-commerce. Padahal, sejak tahun 2018 melalui Perka BPOM No. 31, itu sudah diperintahkan untuk menghilangkan kata 'susu' dari susu kental manis menjadi kental manis.

Dan promosi susu kental manis tidak hanya dilakukan oleh seller, tetapi juga oleh produsen. Itu artinya, masih ditemukan niat yang kurang suportif terhadap program pemerintah untuk memperbaiki gizi anak-anak kita, demikian dikatakan Sofie.

“Perlu ada aturan dari BPOM terkait hal tersebut, dan UU itu untuk produsen,” tegas Sofie.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peraturan Dianggap Tak konsisten, BPOM Dinilai Tak Serius Urus Kental Manis

Peraturan Dianggap Tak konsisten, BPOM Dinilai Tak Serius Urus Kental Manis

Health | Jum'at, 16 Oktober 2020 | 12:17 WIB

Muncul Kreasi Ayam Goreng Pakai Kental Manis, Warganet: Apa Kabar Kecap?

Muncul Kreasi Ayam Goreng Pakai Kental Manis, Warganet: Apa Kabar Kecap?

Lifestyle | Jum'at, 13 Maret 2020 | 08:55 WIB

Ahli Gizi Tak Setuju Ada Saran Penyajian di Kemasan Kental Manis

Ahli Gizi Tak Setuju Ada Saran Penyajian di Kemasan Kental Manis

Lifestyle | Sabtu, 17 November 2018 | 09:20 WIB

Terkini

Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik

Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik

Health | Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:00 WIB

Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda

Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda

Health | Kamis, 30 April 2026 | 18:40 WIB

Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini

Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini

Health | Kamis, 30 April 2026 | 11:49 WIB

Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif

Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif

Health | Kamis, 30 April 2026 | 11:38 WIB

Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan

Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan

Health | Kamis, 30 April 2026 | 10:50 WIB

Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak

Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak

Health | Kamis, 30 April 2026 | 06:08 WIB

Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua

Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua

Health | Rabu, 29 April 2026 | 23:16 WIB

Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat

Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat

Health | Rabu, 29 April 2026 | 19:41 WIB

Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?

Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?

Health | Rabu, 29 April 2026 | 16:41 WIB

Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty

Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty

Health | Rabu, 29 April 2026 | 09:45 WIB