Bedak Bubuk hingga Eye Shadow Bisa Mengandung Asbes, Memicu Kanker!

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana | Suara.com

Selasa, 08 Desember 2020 | 11:08 WIB
Bedak Bubuk hingga Eye Shadow Bisa Mengandung Asbes, Memicu Kanker!
Ilustrasi perempuan menggunakan bedak tabur. (Shutterstock)

Suara.com - Segala macam kosmetik terutama yang bentuknya bubuk seperti eye shadow, bedak bubuk, dan lain sebagainya dapat mengandung mineral dalam kadar berbahaya. Mineral ini sering kali dikaitkan dengan kanker, penyakit paru-paru, dan masalah kesehatan lainnya.

Melansir dari Insider, dalam analisis yang diterbitkan di Environmental Health Insights, para peneliti menemukan satu dari tujuh kosmetik yang mengandung mineral dengan jumlah asbes tinggi. Dalam hal ini para peneliti menganalisis sampel dari 21 produk kosmetik yang terbuat dari bedak, termasuk perona mata, bedak wajah dan tubuh, dan peralatan rias anak.

Mereka menemukan bahwa tiga dari 21 sampel, yakni dua palet eye shadow dan peralatan makeup mainan mengandung asbes. Asbes sendiri merupakan mineral berserat yang terkait dengan risiko kesehatan serius termasuk kanker dan penyakit paru-paru.

"Masalah ini dapat memiliki konsekuensi besar bagi kesehatan masyarakat karena tidak ada tingkat paparan asbes yang aman," kata Nneka Leiba, wakil presiden Healthy Living Science for the Environmental Working Group dan penulis penelitian.

Kosmetik berbahan dasar bubuk dapat memberikan jalur paparan asbes di paru-paru saat bedak tersebar di udara.

"Jika Anda membayangkan memakai bedak wajah, ada banyak partikel yang dapat terhirup yang bisa masuk ke paru-paru," kata Leiba.

Ilustrasi menggunakan eyeshadow. (Pixabay/Dennis Von Dutch)
Ilustrasi menggunakan eyeshadow. (Pixabay/Dennis Von Dutch)

Asbes sendiri dikaitkan dengan risiko kesehatan yang serius. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, paparan asbes pada jaringan  paru-paru dan penebalan jaringan paru-paru yang dapat menyebabkan kesulitan bernapas dan gangguan fungsi paru-paru. 

Mineral tersebut juga dikaitkan dengan risiko lebih tinggi dari berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru dan jenis tumor langka yang dikenal sebagai mesothelioma di mana dapat memengaruhi paru-paru, jantung, dan organ lainnya.

"Saya yakin ini adalah masalah kritis. Saya tidak mengatakan semua orang akan terkena kanker, saya tidak mengatakan kosmetik adalah penyebab setiap tumor, tapi saya pikir ini bisa jadi salah satu penyebabnya," kata Dr. Ron Gordon, ahli patologi penelitian di Rumah Sakit Mount Sinai.

Sampai saat itu, Gordon dan Leiba merekomendasikan untuk menghindari kosmetik berbasis bedak bila membeli dari perusahaan yang tidak memiliki praktik pengujian ketat dan terdokumentasi.

"Saya akan merekomendasikan 100 persen agar orang berhenti menggunakan produk dengan bedak," kata Leiba.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Buka Jendela Mobil Cegah Penularan Virus Corona dan Berita Populer Lainnya

Buka Jendela Mobil Cegah Penularan Virus Corona dan Berita Populer Lainnya

Health | Senin, 07 Desember 2020 | 20:39 WIB

Usai Kemoterapi, Bisakah Pasien Kanker Bekerja Kembali?

Usai Kemoterapi, Bisakah Pasien Kanker Bekerja Kembali?

Health | Senin, 07 Desember 2020 | 19:05 WIB

Dokter: Tidak Boleh Katakan Sembuh Kepada Pasien Kanker

Dokter: Tidak Boleh Katakan Sembuh Kepada Pasien Kanker

Health | Senin, 07 Desember 2020 | 18:11 WIB

Terkini

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:30 WIB

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Health | Jum'at, 22 Mei 2026 | 13:11 WIB