alexametrics

Ayahable, Begini Cara Menteri Nadiem Makarim Bagi Waktu Bareng 3 Balitanya

Risna Halidi | Dini Afrianti Efendi
Ayahable, Begini Cara Menteri Nadiem Makarim Bagi Waktu Bareng 3 Balitanya
Menteri Nadiem Makarim bersama buah hatinya (Instagram/Nadiemmakarim)

Ternyata lelaki yang akrab disapa Mas Menteri ini punya waktu khusus untuk quality time dan membangun bonding dengan anak-anaknya.

Suara.com - Siapa sangka, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim ternyata memiliki 3 anak yang usianya masih balita.

Praktik ketiganya masih sangat membutuhkan peran seorang ayah di rumah. Lalu bagaimana cara Menteri Nadiem membagi waktu untuk keluarga?

Ternyata lelaki yang akrab disapa Mas Menteri ini punya waktu khusus untuk quality time dan membangun bonding dengan anak-anaknya pada sore hingga malam hari.

Setiap hari jam 6 sore hingga jam 8 malam, Nadiem selalu menyediakan waktu khusus untuk anak-anaknya.

Baca Juga: Tantangan Kemdikbud Memajukan Pendidikan Indonesia

Di periode waktu tersebut, mantan bos Gojek Indonesia itu tidak ingin diganggu oleh siapapun, kecuali Presiden Joko Widodo.

"Saya melakukan scheduling (penjadwalan) yang kreatif, untuk bisa memastikan semua meeting saya tepat waktu. Tetapi saya masih bisa jam 6 sampai jam 8 (malam), itu satu-satunya orang yang bisa kontak saya adalah Pak Presiden, yang boleh ganggu saya," ujar Nadiem saat berdiskusi di IG Live UNICEF Indonesia, Jumat (15/1/2021).

Di periode waktu tersebut, menteri lulusan Harvard University itu akan memaksimalkan quality time bersama anak.

Ia akan melakukan berbagai kegiatan bersama anak dimulai dengan makan malam, bermain hingga melakukan kegiatan lainnya.

"Jam 6 itu makan malam dengan anak, sampai baca buku dengan anak, keringin rambut sama anak, sampai nidurin anak, baca buku sambil minum susu," ungkapnya.

Baca Juga: Mendikbud: Fokus Tahun Ini Perekrutan Guru Honorer Sampai Satu Juta Guru

Pilihan itu ia ambil karena bagi Nadiem, prioritas pertamanya adalah perannya sebagai ayah untuk anak-anaknya, dilanjut prioritas selanjutnya sebagai Mendikbud.

Sehingga ia merasa apabila perannya sebagai ayah tidak bisa dijalankan dengan baik, maka tugas dan tanggung jawabnya sebagai Mendikbud juga tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik, alias berantakan.

"Peran saya sebagai ayah dulu yang diutamakan, karena kalau pekerjaan saya lebih dulu yang dikerjakan, lalu menelantarkan anak saya, saya pasti akan selalu guilty (bersalah) dan tidak akan efektif sebagai menteri," jelasnya.

"Jadi saya memastikan kebutuhan anak-anak saya dulu, yang saya cover," pungkas Nadiem.

Komentar