Air Galon atau Air Keran Rebus, Mana yang Lebih Menyehatkan?

Yasinta Rahmawati, Fita Nofiana

Rabu, 24 Februari 2021 | 08:50 WIB
Air Galon atau Air Keran Rebus, Mana yang Lebih Menyehatkan?
Ilustrasi air galon. (Shutterstock)

Suara.com - Sebagian orang menggunakan air galon untuk mamasak, minum, dan lain sebagainya, tetapi tak sedikit juga yang merebus air keran untuk memasak bahkan meminum. Lalu manakah yang lebih sehat?

Air galon mungkin telihat lebih sehat. Apalagi dengan bentuk dan pengiklanannya yang terkesan aman dan sehat.

Namun menurut Hello Sehat, Anda tetap harus memperhatikan merk air galon terlebih dahulu. Khusunya perhatikan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan telah diuji sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

"Air minum yang belum mendapat izin dari BPOM dan SNI berisiko mengandung berbagai jenis bakteri patogen penyebab penyakit," catat Hello Sehat.

Selain itu, Anda juga perlu mencari tahu kedaluwarsa dan standarisasinya. Air memang pada umumnya tidak bisa kedaluwarsa, namun air biasanya dikemas di galon yang berbahan dasar plastik sehingga berisiko terkontaminasi bakteri dan zat kima beracun.

Selain itu ketika air galon tetapapar sinar matahari terus-terusan juga bisa membuat bahan kimia plastik galon luruh ke air.

Sementara air keran akan berbeda-beda tergantung dari mana sumbernya, bisa dari PAM, sumur, dan lain sebagainya.

Jika sumber air dari PAM, maka sudah melalui proses sedemikian rupa sehingga aman untuk diminum bahkan tanpa dimasak terlebih dahulu. Sayangnya, air-air ini akan mengalami penurunan kualitas saat proses pengaliran ke rumah-rumah karena faktor pipa maupun masalah teknis lainnya.

Sangat memungkinkan bakteri berkembang di antara pipa, sehingga membuat air tak aman diminum langsung.

baca juga

Sementara air tanah dari sumur dianggap lebih riskan karena belum terjamin mutunya. Jika air belum teruji, maka jangan gunakan untuk minum atau masak.

Air minum isu ulang / air galon. (Shutterstock)
Air minum isu ulang / air galon. (Shutterstock)

Beberapa bakteri yang ada di tanah, sungai, danau seperti Clostridium botulinum masih bisa hidup di atas suhu 100 derajat Celsius. Bakteri ini bisa menyebabkan penyakit botulisme pada manusia yang terinfeksi.

Dalam hal ini jika Anda masih tetap memakai air keran, cobalah uji dulu kualitas air Anda di laboratorium.

"Kalau sudah dinyatakan bebas bakteri, virus, atau racun, rebus air hingga titik didih, yaitu seratus derajat Celsius. Biarkan air mendidih selama paling tidak sepuluh menit sebelum mematikan api kompor," imbuh Hello Sehat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Aksi Nyeleneh Pemotor Sulap Tangki Bensin Jadi Kompor, Buat Rebus Air

Aksi Nyeleneh Pemotor Sulap Tangki Bensin Jadi Kompor, Buat Rebus Air

Jabar | Kamis, 04 Februari 2021 | 12:47 WIB

5 Jenis Makanan yang Menyehatkan Usus

5 Jenis Makanan yang Menyehatkan Usus

Lampung | Rabu, 13 Januari 2021 | 09:27 WIB

Terpopuler: Air Galon Rp 2.000 Perak, Publik Marah Sama William dan Kate

Terpopuler: Air Galon Rp 2.000 Perak, Publik Marah Sama William dan Kate

Lifestyle | Selasa, 15 Desember 2020 | 09:56 WIB

Terkini

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 22:45 WIB

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

News | Kamis, 24 September 2026 | 22:08 WIB

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:01 WIB

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:59 WIB

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 21:56 WIB

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Jawa Tengah | Kamis, 24 September 2026 | 21:55 WIB

Dua Karung Tepung Jadi Mahar, Gadis Gaza 14 Tahun Dipaksa Nikah Demi Tidak Kelaparan

Dua Karung Tepung Jadi Mahar, Gadis Gaza 14 Tahun Dipaksa Nikah Demi Tidak Kelaparan

News | Kamis, 24 September 2026 | 21:55 WIB

Eko Yuli Gagal Raih Medali di Asian Games 2026, Belum Mau Menyerah: Bidik Olimpiade 2028

Eko Yuli Gagal Raih Medali di Asian Games 2026, Belum Mau Menyerah: Bidik Olimpiade 2028

Sport | Kamis, 24 September 2026 | 21:54 WIB

Enam Dekade Menunggu, UU Reforma Agraria Disahkan: Akankah Tanah Kembali ke Petani?

Enam Dekade Menunggu, UU Reforma Agraria Disahkan: Akankah Tanah Kembali ke Petani?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:48 WIB

×