Ini 2 Jenis Kelainan Janin Sejak di Kandungan, Bisa Diperbaiki?

Bimo Aria Fundrika | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Kamis, 11 Maret 2021 | 14:10 WIB
Ini 2 Jenis Kelainan Janin Sejak di Kandungan, Bisa Diperbaiki?
Ilustrasi ibu hamil. (sumber: visualphotos)

Suara.com - Metode pemeriksaan fetomaternal bisa mendeteksi adanya kelainan genetik pada bayi atau pada kondisi ibu saat mengandung buah hati.

Sehingga risiko kecacatan pada bayi bisa dikurangi sejak anak masih berada di dalam kandungan, dengan catatan calon ibu harus menceritakan riwayat kesehatan dan kehamilan kepada dokter.

"Informasi tersebut sangat penting karena penanganan dan pengobatan bisa dilakukan secara tepat. Jangan sembunyikan hal-hal tersebut karena dapat berakibat fatal," ujar Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Dr. dr. Wiku Andonotopo, SpOG(K)FM, Ph.D., FMFM dalam keterangannya, Rabu (10/10/2021).

Berikut beberapa jenis kelainan pada janin yang harus diwaspadai sejak di dalam kandungan.

1. Kelainan kongenital mayor

Ini adalah kelainan bawaan yang tidak dapat dikoreksi, yang menyebabkan bayi tidak bisa beradaptasi terhadap kehidupan normal.

Contohnya seperti: bayi yang tidak memiliki tempurung kepala, bayi tanpa ginjal, bayi dengan jantung bocor, atau terjadi penyumbatan pada otak yang menyebabkan hydrocephalus.

2. Kelainan congenital minor

Sejenis kelainan yang tidak membutuhkan koreksi operatif apapun, juga kelainan yang masih bisa dikoreksi dengan tindakan operatif, dimana bayi masih dapat beradaptasi dengan kehidupan normal.

Contohnya antara lain: tangan dan tulang kaki bayi bengkok yang dapat dikoreksi secara ortopedik, dan lain-lain.

Melalui pemeriksaan fetomaternal, kelainan-kelainan ini bisa dideteksi sejak trimester pertama kehamilan, yaitu screening pada usia kehamilan 11 hingga 14 minggu. Pada kondisi itu kelainan yang bersifat umum, seperti kelainan anatomis bentuk tubuh kepala, kaki, dan lain sebagainya bisa terdeteksi. 

Jika kondisi janin normal, dapat dilanjutkan dengan screening kedua, yang dimulai pada kehamilan 17 hingga 24 minggu untuk melihat kelainan organ seperti otak, jantung, struktur tubuh, ginjal, dan usus, dengan lebih mendetail.

"Pada kondisi janin yang abnormal, sebaiknya pemeriksaan dan screening dilakukan oleh dokter spesialis fetomaternal yang kompeten," terang Dr. Wiku yang berpraktik di RS Eka Hospital BSD Tangerang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengenal Teknologi Fetomaternal, Cara Pemeriksa Kelainan Genetik pada Janin

Mengenal Teknologi Fetomaternal, Cara Pemeriksa Kelainan Genetik pada Janin

Health | Rabu, 10 Maret 2021 | 23:28 WIB

Akses Khusus untuk Poliklinik Ibu & Anak Mayapada Hospital Tangerang

Akses Khusus untuk Poliklinik Ibu & Anak Mayapada Hospital Tangerang

Lifestyle | Kamis, 11 Maret 2021 | 07:00 WIB

Ngaku Tak Bisa Berhubungan Seksual, Ibu Ini Kaget Dirinya Mendadak Hamil

Ngaku Tak Bisa Berhubungan Seksual, Ibu Ini Kaget Dirinya Mendadak Hamil

Lifestyle | Rabu, 10 Maret 2021 | 19:50 WIB

Terkini

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB