Studi: Setengah dari Mantan Pasien Covid-19 Berisiko Depresi

Yasinta Rahmawati, Fita Nofiana

Rabu, 17 Maret 2021 | 15:45 WIB
Studi: Setengah dari Mantan Pasien Covid-19 Berisiko Depresi
Ilustrasi virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Penelitian baru menunjukkan bahwa lebih dari setengah penyintas Covid-19 melaporkan bahwa mereka mengalami depresi. Studi tersebut didasarkan pada lebih dari 3.900 orang yang pernah terinfeksi Covid-19 di mana disurvei antara Mei 2020 hingga Januari 2021.

Melansir dari WebMD, 52 persen dari mereka menderita gejala depresi berat.

"Orang yang menderita Covid-19 dapat mengalami gejala depresi selama berbulan-bulan setelah penyakit awal mereka," kata ketua peneliti Dr. Roy Perlis, profesor psikiatri di Harvard Medical School dan kepala asosiasi penelitian di departemen psikiatri di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston.

Menurut Perlis, kombinasi stres kronis selama pandemi dan gangguan jaringan sosial sudah menjadi faktor penyebab depresi dan kecemasan.

"Pengamatan ini memperkuat pentingnya pemahaman dari efek Covid-19 itu sendiri atau sekadar stres dalam menangani pandemi plus penyakit akut," tambah Perlis.

Ilustrasi virus corona, hidung, mimisan (Pixabay/mohamed_hassan)
Ilustrasi virus corona, hidung, mimisan (Pixabay/mohamed_hassan)

Para peneliti juga menemukan bahwa mereka yang mengalami depresi lebih cenderung berusia muda, laki-laki, dan menderita Covid-19 yang parah.

Studi juga menemukan hubungan antara sakit kepala selama Covid-19 dan risiko depresi yang lebih tinggi. Ada kemungkinan bahwa orang dengan depresi lebih cenderung mengatakan bahwa mereka mengalami sakit kepala selama infeksi. 

"Depresi adalah penyakit yang sangat bisa disembuhkan. Karena tingkat depresi saat ini sangat tinggi, sangat penting untuk memastikan bahwa orang dapat mengakses perawatan," kata Perlis.

Brittany LeMonda, seorang ahli neuropsikologi senior di Lenox Hill Hospital di New York mengatakan bahwa temuan tersebut menarik mengingat masih perlu pemahakam tentang manifestasi kejiwaan dan neurologis dari Covid-19.

baca juga

"Menariknya, sakit kepala selama infeksi merupakan faktor independen untuk depresi," kata LeMonda.

"Individu dengan riwayat sakit kepala dan gejala fisik, seperti nyeri atau kelemahan sering kali lebih mungkin mengalami gejala kejiwaan," jelasnya.

"Faktor yang mendasari dapat mempengaruhi seseorang untuk mengembangkan sakit kepala dengan Covid-19 yang juga menempatkan mereka pada risiko yang lebih tinggi untuk mengembangkan depresi pasca penyakit," kata LeMonda.

Studi tersebut dipublikasikan secara online 12 Maret di JAMA Network Open.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wapres Maruf Amin: Vaksinasi saat Ramadan Tak Batalkan Puasa

Wapres Maruf Amin: Vaksinasi saat Ramadan Tak Batalkan Puasa

News | Rabu, 17 Maret 2021 | 14:33 WIB

Kejar Pertumbuhan Ekonomi, Bappenas Ingin 1 Juta Orang Divaksin per Hari

Kejar Pertumbuhan Ekonomi, Bappenas Ingin 1 Juta Orang Divaksin per Hari

Bisnis | Rabu, 17 Maret 2021 | 14:29 WIB

Diklaim Lebih Baik, WHO Segera Rilis Vaksin Covid-19 Baru Tanpa Disuntik

Diklaim Lebih Baik, WHO Segera Rilis Vaksin Covid-19 Baru Tanpa Disuntik

News | Rabu, 17 Maret 2021 | 14:27 WIB

Terkini

Dihapus dari Masa Lalu, Diburu oleh Teka-Teki: Kisah Kyla dalam Slated

Dihapus dari Masa Lalu, Diburu oleh Teka-Teki: Kisah Kyla dalam Slated

Your Say | Jum'at, 04 September 2026 | 12:30 WIB

Karhutla Terus Berulang, Bagaimana Nasib Target FOLU Net Sink 2030?

Karhutla Terus Berulang, Bagaimana Nasib Target FOLU Net Sink 2030?

News | Jum'at, 04 September 2026 | 12:26 WIB

Sudah Jadi Mahasiswa, Kenapa Tiga Anak Ini Masih Gugat Ayah soal Nafkah Rp700 Juta?

Sudah Jadi Mahasiswa, Kenapa Tiga Anak Ini Masih Gugat Ayah soal Nafkah Rp700 Juta?

Sumsel | Jum'at, 04 September 2026 | 12:17 WIB

Imigrasi Belawan Hadirkan Pasporia di Car Free Day, Warga Kini Bisa Urus Paspor di Akhir Pekan

Imigrasi Belawan Hadirkan Pasporia di Car Free Day, Warga Kini Bisa Urus Paspor di Akhir Pekan

Sumut | Jum'at, 04 September 2026 | 12:15 WIB

Catat Tanggalnya! Kim Ji-won Jadi Dokter di Doctor X Mulai Oktober 2026

Catat Tanggalnya! Kim Ji-won Jadi Dokter di Doctor X Mulai Oktober 2026

Your Say | Jum'at, 04 September 2026 | 12:15 WIB

Anak Hobi Main di Luar? Ini 6 Cara Biar Tetap Segar dan Wangi Seharian

Anak Hobi Main di Luar? Ini 6 Cara Biar Tetap Segar dan Wangi Seharian

Health | Jum'at, 04 September 2026 | 12:13 WIB

Kapan Rice Cooker Harus Diganti? Kenali Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan

Kapan Rice Cooker Harus Diganti? Kenali Tanda-Tanda yang Perlu Diperhatikan

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 12:10 WIB

Privilese TNI dari Suku Dayak Diduga Cara Rezim Amankan Ekspansi Bisnis Hutan

Privilese TNI dari Suku Dayak Diduga Cara Rezim Amankan Ekspansi Bisnis Hutan

News | Jum'at, 04 September 2026 | 12:09 WIB

Aktivitas Tambang Disebut Racuni Udara Palu

Aktivitas Tambang Disebut Racuni Udara Palu

Sulsel | Jum'at, 04 September 2026 | 12:06 WIB

Mengapa Sabun Cuci Muka Berbusa Melimpah Justru Bisa Membuat Kulit Semakin Berminyak?

Mengapa Sabun Cuci Muka Berbusa Melimpah Justru Bisa Membuat Kulit Semakin Berminyak?

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 12:05 WIB

×