alexametrics

CDC: Sekolah Daring Tingkatkan Risiko Masalah Mental pada Anak dan Orangtua

Rauhanda Riyantama | Fita Nofiana
CDC: Sekolah Daring Tingkatkan Risiko Masalah Mental pada Anak dan Orangtua
Ilustrasi sekolah daring

Survei CDC menunjukkan bahwa anak-anak yang sekolah daring lebih berisiko alami masalah mental.

Suara.com - Selama pandemi, anak-anak harus sekolah daring atau virtual. Sayangnya menurut survei dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), anak-anak dan orangtua yang mendapatkan pelajaran secara daring lebih mungkin mengalami masalah mental.

Melansir dari Medicinenet, survei yang dilakukan CDC dilakukan pada orang tua dan anak-anak berusia 5 hingga 12 tahun. Mereka menemukan bahwa orang tua dari anak-anak yang menerima pelajaran secara langsung lebih kecil kemungkinannya untuk menderita stres dibandingkan mereka yang bersekolah melalui pembelajaran jarak jauh.

"Pandemi itu sendiri meningkatkan stres yang diperparah dengan tidak adanya dukungan rutin dan dampaknya pada kemampuan orang tua untuk bekerja," kata Kathleen Ethier, direktur divisi remaja dan kesehatan sekolah CDC.

Menurut Ethier, para orang tua khawatir tentang bagaimana merawat anak-anak mereka di rumah dan juga melakukan pekerjaan mereka. Namun selain bagi orangtua, kondisi ini juga berefek pada anak-anak.

Baca Juga: Alami Empat Jenis Mimpi Berikut? Waspada, Bisa Jadi Tanda Masalah Mental

"Jadi itu menyebabkan banyak stres bagi anak-anak. Kami melihat penurunan aktivitas fisik yang kami tahu terkait tidak hanya dengan kesehatan fisik tetapi juga kesehatan mental," ujar Ethier.

Ilustrasi sekolalh daring (pexel.com)
Ilustrasi sekolalh daring (pexel.com)

"Kami juga telah melihat penurunan waktu dengan teman, dan kami tahu untuk anak-anak itu interaksi sosial itu penting. Saya kira semua ini kita lihat dalam temuan terkait kesehatan emosional yang buruk, " tambahnya.

Anak-anak lebih berisiko 9 persen menderita masalah kesehatan mental atau emosional yang lebih buruk akibat sekolah daring. Laporan tersebut diterbitkan 19 Maret di CDC's Morbidity and Mortality Weekly Report.

Komentar