Leadless Pacemaker, Metode Pasang Alat Pacu Jantung Tanpa Operasi

Risna Halidi | Suara.com

Kamis, 25 Maret 2021 | 19:45 WIB
Leadless Pacemaker, Metode Pasang Alat Pacu Jantung Tanpa Operasi
Ilustrasi serangan jantung. (Sumber: Shutterstock)

Suara.com - Dalam kondisi normal, denyut jantung manusia umumnya berkisar 60 sampai 100 detak per menit. Keteraturan tersebut terjadi karena sistem listrik yang unik dalam jantung yang membuat otot-otot jantung berkontraksi membentuk denyutan.

Saat sistem listrik rusak, hal tersebut akan membuat jantung berdetak lebih cepat, lebih lambat, atau bahkan tidak beraturan. Dalam dunia medis sendiri denyut jantung terlalu lambat disebut sebagai brakikardia.

Menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Dicky Armein Hanafy, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena akan membuat fungsi jantung sebagai pemompa darah ke seluruh tubuh terganggu.

Brakikardia sendiri dapat membuat tubuh tidak memperoleh darah yang cukup sehingga dapat mengakibatkan seseorang kelelahan, mudah pingsan, berkunang-kunang, napas pendek, serta mengalami kerusakan organ vital yang pada akhirnya dapat menuju pada kematian.

Pada kasus ekstrem, kelainan tersebut juga bisa menimbulkan stroke, yakni ketika suplai darah ke otak kurang dalam jangka tertentu sehingga menyebabkan matinya sel-sel otak," kata dokter yang berpraktik di Heartology Cardiovascular Center, Brawijaya Hospital Saharjo, Tebet, Jakarta Selatan.

Untuk mengatasi masalah brakikardia, umumnya adalah melalui obat-obatan. Jika obat-obatan tidak mampu mengatasi masalah, pemasangan alat pacu jantung permanen (pacemaker) menjadi jalan keluar yang berfungsi memacu jantung untuk berdenyut secara normal.

Menariknya, saat ini sudah tersedia sebuah alat pacu jantung tanpa kabel (leadless pacemaker) berukuran sangat kecil, atau seukuran suplemen vitamin.

"Proses pemasangan leadless pacemaker tidak memerlukan operasi, cukup dimasukkan dengan menggunakan kateter melalui sayatan kecil di pangkal paha dan dengan panduan X-ray, kateter akan diarahkan ke jantung. Pasien akan diberikan bius lokal sekitar area tersebut," tambahnya melalui siaran pers yang diterima Suara.com, Kamis (25/3/2021).

Setelah kateter berada dalam bilik kanan jantung, pacemaker akan ditempatkan dan di tes untuk memastikan apakah alat telah terpasang dan bekerja dengan baik.

"Setelah itu, kateter dikeluarkan, luka sayatan ditutup dengan cara ditekan"

Kata dr Dicky, prosedur tersebut hanya memakan waktu sekitar 30 menit, tergantung kondisi dan anatomi pasien.

Pemasangan leadless pacemaker ini juga tidak memerlukan kabel atau generator, sehingga tidak memerlukan operasi termasuk sayatan bekas operasi.

"Risiko komplikasi rendah, prosedur lebih singkat, cukup menginap 1 hari di rumah sakit, pasien dapat segera beraktivitas dan tidak ada keterbatasan gerakan di sekitar dada. Leadless pacemaker dapat bertahan hingga 12 tahun," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Alat Pacu Jantung untuk Pasien Gangguan Irama Jantung, Apa Fungsinya?

Alat Pacu Jantung untuk Pasien Gangguan Irama Jantung, Apa Fungsinya?

Bali | Rabu, 20 Januari 2021 | 13:39 WIB

Mengenal Alat Pacu Jantung Listrik Untuk Pasien Bradikardia, Apa Itu?

Mengenal Alat Pacu Jantung Listrik Untuk Pasien Bradikardia, Apa Itu?

Health | Rabu, 20 Januari 2021 | 09:55 WIB

Perubahan Detak Jantung Bisa Jadi Tanda Virus Corona, Begini Cara Ceknya!

Perubahan Detak Jantung Bisa Jadi Tanda Virus Corona, Begini Cara Ceknya!

Health | Selasa, 05 Januari 2021 | 07:45 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB