alexametrics

Mengenal Aseksual, Bisa Mencintai Tanpa Tertarik secara Seksual

Yasinta Rahmawati | Fita Nofiana
Mengenal Aseksual, Bisa Mencintai Tanpa Tertarik secara Seksual
Ilustrasi pasangan (freepik)

Aseksual sering diartikan tidak bisa mencintai, padahal mereka bisa tertarik secara romantis.

Suara.com - Aseksualitas atau kurangnya ketertarikan seksual sering disalahpahami dalam budaya yang didorong oleh seks. Orang aseksual terjadi pada sekitar 1 persen dari populasi global (kurang lebih 70 juta).

Melansir dari Insider, aseksual masih bisa terangsang secara seksual, bermasturbasi, dan berhubungan seks dengan orang lain. Tetapi ketertarikan seksual bukanlah faktor pendorong dalam hubungan mereka dengan orang lain.

Beberapa orang aseksual mengalami sedikit ketertarikan seksual, sementara yang lain tidak mengalami apapun. Ada juga orang aseksual yang mengidentifikasi diri sebagai demiseksual karena mereka merasakan ketertarikan seksual hanya setelah mengembangkan hubungan emosional dengan orang lain.

Selain itu, orang aseksual mungkin merasakan ketertarikan romantis kepada orang-orang tertentu meskipun tidak memiliki ketertarikan seksual. Namun mungkin orang aseksual juga menjadi aromantik atau kurang memiliki ketertarikan romantis kepada orang lain.

Baca Juga: Doomscrolling Bisa Berdampak Buruk pada Hubungan Seks, Ini Sebabnya!

"Meskipun itu mungkin terjadi pada beberapa orang, ada banyak orang aseksual yang mendambakan hubungan romantis," catat Asexual Visibility and Education Network.

Ilustrasi aseksual. (Pexels/Cottonbro)
Ilustrasi aseksual. (Pexels/Cottonbro)

Melansir dari Psychology Today, penelitian terbaru oleh Amy Antonsen dan rekannya yang menggabungkan data dari tujuh penelitian sebelumnya untuk menjaring lebih dari empat ribu peserta aseksual. Hampir 75 persen dari individu aseksual dilaporkan memiliki ketertarikan romantis atau jatuh cinta pada orang lain tanpa memiliki hasrat seksual untuk mereka.

"Jadi bisa dilihat bahwa perasaan romantis mudah terjadi tanpa adanya hasrat seksual," kata Ritch C. Savin-Williams Ph.D. ahli seks dan seksualitas.

Komentar