alexametrics

Kabar Baik, WHO sebut Vaksin COVAX Sudah Didistribusikan ke 100 Negara

M. Reza Sulaiman
Kabar Baik, WHO sebut Vaksin COVAX Sudah Didistribusikan ke 100 Negara
Ilustrasi vaksin Covid-19 (unsplash/@hakannural)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi kabar baik terkait akses dan distribusi vaksin Covid-19.

Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberi kabar baik terkait akses dan distribusi vaksin Covid-19.

Dilansir ANTARA, fasilitas vaksin COVAX sudah menyerahkan hampir 38,4 juta dosis vaksin COVID-19 ke 100 negara lebih dan negara di seluruh enam benua hingga Kamis, enam pekan setelah mulai dibagikan.

Aliansi vaksin GAVI dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan meski mengalami pengurangan pasokan pada Maret dan April, serta permintaan yang lebih tinggi di India, di mana sebagian besar suntikan utamanya AstraZeneca diproduksi, pihaknya berharap dapat mengirimkan dosis vaksin ke seluruh negara.

Negara-negara itu telah mengajukan permintaan dosis vaksin pada paruh pertama 2021.

Baca Juga: KTT D-8, Jokowi Serukan Akses yang Adil atas Vaksin Covid-19

"Menurut estimasi pasokan terbaru, COVAX berharap dapat mengirim sedikitnya 2 miliar dosis vaksin pada 2021," kata laporan tersebut.

Portofolionya, yang saat ini bergantung pada suntikan AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech, akan dilakukan diversifikasi.

Sementara itu, WHO menyatakan sertifikat vaksin Covid-19 hingga saat ini tidak bisa dijadikan syarat perjalanan.

"Kami sebagai WHO mengatakan pada tahap ini, kami tidak ingin paspor vaksinasi sebagai persyaratan untuk masuk atau keluar. Karena kami tidak yakin bahwa vaksin tersebut dapat mencegah penularan," kata juru bicara WHO Margaret Harris dalam jumpa pers PBB dikutip dari Channel News Asia.

Ia menyampaikan bahwa distribusi vaksin Covid saat ini belum merata. Justru cenderung diskriminasi terhadap orang-orang yang belum bisa mendapatkan vaksin karena alasan tertentu.

Baca Juga: Hindari Sabotase, Brimob Bersenjata Kawal Distribusi Vaksin di Sulsel

WHO sekarang mengharapkan untuk meninjau vaksin COVID-19 China Sinopharm dan Sinovac untuk kemungkinan daftar penggunaan darurat sekitar akhir April, kata Harris.

"Ini tidak datang secepat yang kami harapkan, karena kami membutuhkan lebih banyak data," katanya, menolak memberikan lebih banyak informasi, dengan alasan kerahasiaan.

Komentar