alexametrics

Studi: Persalinan Sesar Bisa Lebih Aman dari Lahiran Normal, Kok Bisa?

Cesar Uji Tawakal | Fita Nofiana
Studi: Persalinan Sesar Bisa Lebih Aman dari Lahiran Normal, Kok Bisa?
Ilustrasi melahirkan (Pixabay/9092)

Persalinan sesar mungkin bisa lebih aman ketimbang persalinan normal.

Suara.com - Dalam hal persalinan, persalinan alami atau pervaginaan sering dianggap lebih aman daripada persalinan sesar. Namun, penelitian menunjukkan bahwa operasi sesar terkait dengan risiko hasil persalinan buruk yang lebih rendah dibandingkan dengan persalinan pervaginam.

Studi ini dipublikasikan di CMAJ (Canadian Medical Association Journal).

Melansir dari Healthshots, para peneliti menggunakan data seluruh Ontario dari Better Outcome Registry & Network (BORN). Mereka menganalisis data pada 422.210 kehamilan berisiko rendah selama enam tahun (2012 hingga 2018).

Ada 46.533 persalinan sesar, 1827 (3,9%) direncanakan atas permintaan ibu. Proporsi ini tidak berubah selama tahun-tahun penelitian.

Baca Juga: Gunadi Gugur, Pemkab Bantul Fasilitasi Kelahiran Anak Pertamanya

“Temuan kami bahwa angka CDMR [persalinan sesar berdasarkan permintaan ibu] tetap stabil di Ontario memberikan kepastian bagi mereka yang khawatir tentang potensi kontribusi CDMR terhadap peningkatan tingkat persalinan sesar,” tulis Dr Darine El-Chaar, Departemen Obstetri, Ginekologi dan Bayi Baru Lahir. Care, Rumah Sakit Ottawa, Ottawa, Ontario, dengan rekan penulis.

Ilustrasi melahirkan. (Elements Envanto)
Ilustrasi melahirkan. (Elements Envanto)

Yang penting, temuan ini juga menunjukkan bahwa persalinan sesar yang dilakukan atas permintaan ibu dan persalinan pervaginam adalah pilihan persalinan yang aman untuk ibu dan bayi.

Persalinan sesar yang direncanakan atas permintaan ibu dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah dari hasil persalinan yang merugikan bagi ibu dan anak dibandingkan kelahiran pervaginam yang direncanakan.

Para penulis mengingatkan bahwa penelitian diperlukan untuk memahami potensi efek jangka panjang dari persalinan sesar yang direncanakan.

Baca Juga: Ustadz Yahya Waloni: 25 Desember Kelahiran Anak Dewa Matahari, Bukan Yesus

Komentar