Dalam studi baru, para peneliti menganalisis informasi dari 117 negara, menggunakan penyebaran data virus corona Covid-19 dari awal pandemi hingga Januari 2021.
Mereka menggunakan metode statistik untuk mengatur hubungan antara garis lintang suatu negara, yang mempengaruhi jumlah sinar matahari serta suhu dan kelembapan dan tingkat penyebaran virus corona.
Mereka juga menggunakan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengontrol faktor-faktor yang tidak bisa dipengaruhi suara negara yang terkena virus corona, seperti perjalanan Udara, pengeluaran perawatan kesehatan, rasio orang dewasa tua dan perkembangan ekonomi.
Mereka menemukan bahwa setiap kenaikan 1 derajat di garis lintang suatu negara dari khatulistiwa dikaitkan dengan peningkatan jumlah kasus virus corona 4,3 persen per juta orang.
Artinya, bila suatu negara berjarak 620 mil (1.000 kilometer) lebih dekat ke khatulistiwa dibandingkan dengan negara lain, negara yang lebih dekat ke khatulistiwa diperkirakan memiliki lebih sedikit kasus virus corona, yakni 33 persen per juta orang.
"Hasil kami konsisten dengan hipotesis bahwa panas dan sinar matahari bisa mengurangi penyebaran virus corona Covid-19 dan prevalensinya," kata peneliti dari Heidelberg Institute of Global Health di Jerman dan Chinese Academy of Medical.
Temuan itu juga berarti ancaman kebangkitan epidemi bisa meningkat selama musim dingin, seperti yang terlihat di banyak negara di Belahan Bumi Utara pada Desember 2020 hingga Januari 2021.
Para peneliti mengatakan bahwa penelitian mereka hanya mencaku data hingga 9 Januari 2021, sebelum kemunculan sejumlah varian baru virus corona Covid-19. Jadi, mereka belum tahu sejumlah varian baru virus corona itu akan menunjukkan pola infeksi serupa atau tidak.
Baca Juga: Dinkes Batam Duga Varian Baru Virus Corona Sudah Masuk Kepri