Studi: Ekstasi Bisa Menjadi Obat Pendukung Terapi bagi Penderita PTSD

Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah | Suara.com

Kamis, 06 Mei 2021 | 15:13 WIB
Studi: Ekstasi Bisa Menjadi Obat Pendukung Terapi bagi Penderita PTSD
Ilustrasi ekstasi atau MDMA (Shutterstock)

Suara.com - Obat psikedelik MDMA, yang juga disebut sebagai ekstasi atau Molly, dinilai dapat mengobati penderita gangguan stres pasca trauma (PTSD) parah. Hal ini dibuktikan dalam uji klinis tahap akhir sebuah studi yang akan terbit di Nature Medicine.

Studi tersebut melibatkan 90 penderita PTSD yang semuanya menjalani terapi bicara selama percobaan. Peserta studi termasuk veteran perang, korban kekerasan seksual, korban kekerasan dalam rumah tangga, hingga orang yang mengalami trauma masa kanak-kanak.

Setelah menjalani uji coba tersamar ganda, hasilnya menunjukkan, peserta yang menerima MDMA mengalami pengurangan gejala, dibandingkan peserta dari plasebo.

Dua bulan setelah pengobatan berakhir, sebanyak 67 persen peserta dari kelompok MDMA tidak lagi memenuhi kriteria diagnostik untuk PTSD. Sedangkan dalam kelompok plasebo penurunannya hanya 32 persen.

"Ini bukan obat PTSD, tetapi terapi yang ditingkatkan oleh obat tersebut," kata penulis senior studi Rick Doblin, direktur Asosiasi Multidisiplin untuk Studi Psikedelik.

ilustrasi sabu dan ekstasi
ilustrasi sabu dan ekstasi

Live Science melaporkan bahwa MDMA, kependekan dari 3,4-methylenedioxy-N-methylamphetamine, dapat meningkatkan efek terapi bicara melalui beberapa mekanisme.

Obat tersebut dapat meningkatkan kadar serotonin di otak, zat kimia yang dikenal untuk mengatur suasana hati, berkaitan dengan perasaan rileks dan puas.

MDMA juga meningkatkan aktivitas otak di korteks prefrontal, kunci untuk pemrosesan informasi, dan menurunkan amigdala. Ini adalah struktur otak berbentuk almond yang berkaitan dengan motivasi dan perilaku emosional, seperti yang didorong oleh rasa takut dan panik.

Dalam pengobatan kombinasi ini, dampakya membantu penderita PTSD untuk 'keluar' dari keadaan kewaspadaan yang berlebihan dan ke dalam pola pikir di mana pemrosesan trauma menjadi lebih mungkin.

Apapun mekanisme pastinya, MDMA tampaknya memiliki efek positif dalam uji klinis baru ini. Terlebih lagi, meskipun beberapa peserta uji coba yang menggunakan MDMA mengalami efek samping ringan, seperti mual.

Sekarang, agar sepenuhnya disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA), psikoterapi yang dibantu MDMA harus mengumpulkan hasil positif dalam jiko klinis tahap akhir kedua, untuk meniru hasil uji coba pertama.

Uji coba sudah berlangsung dan melibatkan 100 peserta, yang berarti persetujuan FDA untuk pengobatan tersebut dapat dilakukan secepatnya pada 2023.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Temuan Baru, Pasien Covid-19 dengan Ventilator Berisiko Alami PTSD

Temuan Baru, Pasien Covid-19 dengan Ventilator Berisiko Alami PTSD

Health | Rabu, 10 Februari 2021 | 20:38 WIB

Studi: Tenaga Kesehatan ICU Rentan Alami PTSD

Studi: Tenaga Kesehatan ICU Rentan Alami PTSD

Health | Kamis, 14 Januari 2021 | 16:44 WIB

Peneliti London Sebut Petugas Medis ICU Berisiko Alami Kecemasan dan PTSD

Peneliti London Sebut Petugas Medis ICU Berisiko Alami Kecemasan dan PTSD

Health | Rabu, 13 Januari 2021 | 14:53 WIB

Terkini

Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Ibu Hamil Rentan Cemas, Meditasi Disebut Bisa Bantu Jaga Kesehatan Mental

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 12:13 WIB

Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026

Apa Itu Patah Tulang Selangka? Cedera Ngeri Alex Marquez di MotoGP Catalunya 2026

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 11:05 WIB

Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat

Obat Diabetes dan Obesitas Bentuk Pil Makin Diminati, Pasien Dinilai Lebih Mau Berobat

Health | Senin, 18 Mei 2026 | 09:20 WIB

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB