Tren Kesakitan Masyarakat Indonesia Berubah, Kemenkes Ungkap Penyebabnya

Vania Rossa, Lilis Varwati

Selasa, 01 Juni 2021 | 11:27 WIB
Tren Kesakitan Masyarakat Indonesia Berubah, Kemenkes Ungkap Penyebabnya
Ilustrasi penyakit [shutterstock]

Suara.com - Masalah kesehatan dan angka kesakitan di masyarakat menjadi pekerjaan rumah yang harus ditangani negara sejak puluhan tahun lalu. Hanya saja, tren kesakitan yang terjadi di masyarakat berubah seiring waktu dan juga perkembangan zaman.

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa sejak tahun 2010, penyakit yang dialami masyarakat telah bergeser jadi lebih banyak penyakit tidak menular.

"Indonesia disebut sedang mengalami transmisi epidemiologi, di mana telah terjadi pergeseran dari penyakit menular menjadi penyakit tidak menular," kata Kabid Metode dan Teknologi Pemberdayaan masyarakat kemenkes dra. Herawati. M.A., dalam webinar bersama Young Health of Programme, Senin (31/5/2021).

Pada tahun 1950, penyakit menular masih menjadi faktor risiko tertinggi seseorang mengalami infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Herawati menyebut, tren kesakitan di masyarakat didominasi penyakit TBC dan diare.

Bahkan penyebab kematian juga lebih banyak disebabkan penyakit menular seperti TBC. Kemudian pada 2010 mulai terjadi pergeseran di mana penyakit tidak menular berada pada urutan lima besar penyakit kesakitan dan kematian di seluruh Indonesia, bahkan juga seluruh dunia.

"Sejak 2015, empat penyakit teratas penyebab kecacatan, kesakitan, dan kematian, seperti stroke, jantung, kanker, diabetes melitus. 60 persen penyebab kematian disebabkan penyakit tidak menular. Juga jadi beban terbanyak biaya kesehatan," ungkapnya.

Pola hidup sangat berperan memicu penyakit tidak menular. Herawati menyampaikan kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat bisa menyebabkan seseorang menjadi obesitas dan memiliki tekanan darah terlalu tinggi.

"Semua faktor itu berkontribusi menyebabkan penyakit tidak menular di mana semua saling terkait dan berkontribusi. Untuk itu kami perlu menggabungkan dan membudidayakan masyarakat hidup sehat atau kita sebut sebagai GERMAS," ucap Herawati.

Kampanye GERMAS telah diluncurkan Kemenkes sejak tahun 2017. Herawati menjelaskan bahwa gerakan itu harus dilakukan oleh seluruh masyarakat untuk mempercepat dan mensinergikan tindakan upaya promotif dan preventif gaya hidup sehat guna meningkatkan produktivitas penduduk dan menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dokter Sebut Pasien Penyakit Jantung Bawaan Kurang Perhatian

Dokter Sebut Pasien Penyakit Jantung Bawaan Kurang Perhatian

Health | Senin, 31 Mei 2021 | 17:30 WIB

Turunkan Angka Penyakit Tidak Menular, Anak Muda Diharapkan Jadi Kunci

Turunkan Angka Penyakit Tidak Menular, Anak Muda Diharapkan Jadi Kunci

Health | Senin, 31 Mei 2021 | 14:55 WIB

Penyakit mengintai di Musim Pancaroba, Jaga Pola Hidup Sehat

Penyakit mengintai di Musim Pancaroba, Jaga Pola Hidup Sehat

Jabar | Senin, 31 Mei 2021 | 08:00 WIB

Terkini

Jaksa Agung Lantik Puluhan Kajati dan Pejabat Eselon II, Ini Daftar Lengkap Posisi Barunya

Jaksa Agung Lantik Puluhan Kajati dan Pejabat Eselon II, Ini Daftar Lengkap Posisi Barunya

Banten | Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:07 WIB

Pensiunan ASN Ditemukan Meninggal dalam Kesendirian di Bandar Lampung

Pensiunan ASN Ditemukan Meninggal dalam Kesendirian di Bandar Lampung

Lampung | Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:07 WIB

Rekomendasi Sunscreen Wardah yang Bisa Samarkan Flek Hitam, Wajah Auto Cerah dan Glowing!

Rekomendasi Sunscreen Wardah yang Bisa Samarkan Flek Hitam, Wajah Auto Cerah dan Glowing!

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:05 WIB

Kulkas Mini GEA Berapa Watt? Ini 3 Rekomendasi Paling Hemat Listrik

Kulkas Mini GEA Berapa Watt? Ini 3 Rekomendasi Paling Hemat Listrik

Lifestyle | Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:05 WIB

Spider-Man: Brand New Day dan Konsekuensi Sebuah Pilihan

Spider-Man: Brand New Day dan Konsekuensi Sebuah Pilihan

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:00 WIB

Nasabah BRI Belanja Bulanan Bisa Dapat Gratis Gulaku, Ini Caranya

Nasabah BRI Belanja Bulanan Bisa Dapat Gratis Gulaku, Ini Caranya

Bri | Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:59 WIB

Membaca Patiwangi: Merenungi Suara Perempuan Bali Lewat Goresan Puisi Oka Rusmini

Membaca Patiwangi: Merenungi Suara Perempuan Bali Lewat Goresan Puisi Oka Rusmini

Your Say | Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:58 WIB

Akses Menuju Kantor Pemkot Bogor Baru Mulai Dibangun, Nilai Proyek Tembus Rp11,5 Miliar

Akses Menuju Kantor Pemkot Bogor Baru Mulai Dibangun, Nilai Proyek Tembus Rp11,5 Miliar

Bogor | Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:56 WIB

Lionel Messi Mau Dibunuh: Dari Bom Rakitan hingga Ditembak Senjata AR-15

Lionel Messi Mau Dibunuh: Dari Bom Rakitan hingga Ditembak Senjata AR-15

Bola | Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:55 WIB

Karhutla Papua Selatan Meluas: Mengapa Kalender Pencegahan Perlu Disesuaikan?

Karhutla Papua Selatan Meluas: Mengapa Kalender Pencegahan Perlu Disesuaikan?

News | Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:55 WIB

×