Tidur 1 Jam Lebih Awal Bisa Bantu Turunkan Risiko Depresi 23 Persen, Kok Bisa?

Cesar Uji Tawakal, Shevinna Putti Anggraeni

Kamis, 03 Juni 2021 | 09:11 WIB
Tidur 1 Jam Lebih Awal Bisa Bantu Turunkan Risiko Depresi 23 Persen, Kok Bisa?
Ilustrasi tidur (Unsplash/Gregory Pappas)

Suara.com - Pola tidur yang terlalu larut malam tidak hanya berdampak pada penampilan kulit dan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental. Sebuah Penelitian menemukan jadwal tidur yang bergeser satu jam lebih awal bisa menurunkan risiko depresi berat sebesar 23 persen.

Tim peneliti dari University of Colorado Boulder dan Broad Institute of MIT dan Harvard menerbitkan temuannya mengenai hal ini di JAMA Psychiatry minggu lalu, menggunakan data genetik yang tidak teridentifikasi dari 840.000 orang di Biobank Inggris dan 23andMe.

Sekitar 85 ribu orang dari 840.000 itu memakai pelacak tidur untuk waktu yang lama dan 250.000 responden menggunakan kuesioner preferensi tidur.

Hasil penelitiannya memberikan beberapa bukti terkuat bahwa kronotipe, yakni kecenderungan seseorang untuk tidur pada waktu tertentu mempengaruhi risiko depresi.

"Kami telah menemukan adanya hubungan antara waktu tidur dan suasana hati, tapi pernyataan yang sering kami dengar dari doter adalah seberapa awal kita perlu menggser waktu tidur seseorang untuk mendapatkan manfaatnya," jelas Céline Vetter, asisten profesor fisiologi integratif di CU Boulder dikutip dari Fox News.

Ilustrasi Pria Depresi. (freepik)
Ilustrasi Pria Depresi. (freepik)

Céline Vetter mengatakan bahwa tim penelitinya menemukan waktu tidur yang 1 jam lebih awal berkaitan dengan risiko depresi yang jauh lebih rendah.

"Genetika secara kolektif menjelaskan 12-42 persen preferensi waktu tidur kita," kata CU Boulder.

Data dari pelacak tidur dan kuesioner membantu peneliti memahami bagaimana varian gen berperan dalam siklus tidur seseorang. Berdasarkan hasil para responden yang mengikuti survei, hampir sepertiga diidentifikasi sebagai orang yang bangun pagi.

Sedangkan, 9 persen orang suka tidur di malam hari dan sisanya berada di antara keduanya atau tengah-tengah. Rata-rata, orang pergi tidur jam 11 malam dan bangun jam 6 pagi. Lalu, jam 3 pagi disebut sebagai titik tengah tidur.

Para peneliti menemukan bahwa orang yang bangun pagi secara genetik memiliki risiko depresi yang lebih rendah. Hasil ini secara khusus menunjukkan bahwa titik tengah tidur bergeser satu jam sebelumnya, ada penurunan risiko depresi hingga 23 persen.

"Jika seseorang yang biasanya tidur jam 1 pagi malah tidur tengah malam dan tidur dengan durasi yang sama, mereka dapat mengurangi risikonya sebesar 23 persen. Jika mereka tidur pada jam 11 malam, mereka mengalami penurunan risiko hingga 40 persen," jelasnya.

Beberapa bukti menunjukkan lebih banyak paparan cahaya di siang hari memicu hormon yang terkait dengan suasana hati. Meskipun ritme sirkadian yang berbeda atau siklus tidur-bangun bisa memicu depresi itu sendiri.

Namun, Iyas Daghlas, penulis utama studi mengatakan penelitian lebih lanjut mengenai hal ini diperlukan untuk mengonfirmasi hubungan antara siklus tidur sebelumnya dan penurunan risiko depresi.

"Tapi, penelitian ini sudah cukup membuktikan bahwa ada hubungan antara waktu tidur dengan depresi," katanya.

Sayangnya, belum jelas bangun pagi berkelanjutan bisa menurunkan risiko depresi signifikan dengan menyesuaikan siklus tidurnya atau tidak. Tapi, peneliti mengatakan waktu tidur yang lebih awal bermanfaat untuk orang yang sering tidur di malam hari.

"Anda bisa menikmati segelas kopi di pagi hari dan pergi ke kantor dengan jalan kaki atau naik sepeda. Lalu, matikan semua barang elektronik ketika malam hari agar Anda tidur lebih awal," kata Céline Vetter.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sederet Aktivitas untuk Hindari Depresi dan Kesepian di Masa Pandemi

Sederet Aktivitas untuk Hindari Depresi dan Kesepian di Masa Pandemi

Video | Kamis, 03 Juni 2021 | 07:00 WIB

Kasus Bertambah, Dinkes Sleman Ungkap Ketersediaan Tempat Tidur Pasien Covid-19

Kasus Bertambah, Dinkes Sleman Ungkap Ketersediaan Tempat Tidur Pasien Covid-19

Jogja | Rabu, 02 Juni 2021 | 14:53 WIB

Waspada, Pola Tidur Buruk pada Anak Bisa Turunkan Potensi Akademiknya

Waspada, Pola Tidur Buruk pada Anak Bisa Turunkan Potensi Akademiknya

Health | Rabu, 02 Juni 2021 | 11:00 WIB

Terkini

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf

Health | Minggu, 31 Mei 2026 | 17:57 WIB

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 21:33 WIB

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem

Health | Jum'at, 29 Mei 2026 | 11:18 WIB

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 23:06 WIB

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 17:41 WIB

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 11:27 WIB

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan

Health | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:44 WIB

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB