alexametrics

Pemerintah Pastikan Pembelajaran Tatap Muka Tetap Jalan, Ini Syaratnya

M. Reza Sulaiman | Aflaha Rizal Bahtiar
Pemerintah Pastikan Pembelajaran Tatap Muka Tetap Jalan, Ini Syaratnya
Petugas menyemprotkan disinfektan di ruang kelas SD Kenari 08 Pagi, Jakarta, Jumat (18/6/2021). ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memastikan pembelajaran tatap muka (PTM) tahun ajaran 2021/2022 tetap berjalan.

Suara.com - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi memastikan pembelajaran tatap muka (PTM) tahun ajaran 2021/2022 tetap berjalan.

Dengan catatan, PTM hanya akan dilakukan di daerah yang termasuk zona hijau alias memiliki kasus Covid-19 rendah.

“Kami memahami kalau saat ini kita harus sangat berhati-hati dengan kondisi lonjakan kasus, tapi untuk sekolah di zona hijau, mari kita tetap lakukan pembelajaran tatap muka terbatas untuk menghindari learning loss dan mempersiapkan karakter anak,” kata Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek, Dra. Sri Wahyuningsih, dalam Dialog Produktif bertema Apa Kabar Pembelajaran Tatap Muka Terbatas? Kamis (24/6/2021).

Ia mengatakan pihaknya tentu prihatin dengan kenaikan kasus Covid-19 yang terjadi saat ini. Oleh karena itu, Kemendikbudristek mengaku telah melakukan survei terhadap kesiapan sekolah melaksanakan PTM.

Baca Juga: IDAI Lampung Minta Penundaan Pembelajaran Tatap Muka

“Survei yang kita lakukan tentunya data ini mengalami peningkatan dan perubahan. Artinya, kurang lebih dari 400 ribu sekolah dari jenjang anak usia dini, SD, SMP, SMA, SMK dan SLB, adanya kesiapan sekolah tatap muka sebesar 50 persen,” ungkapnya lebih lanjut.

Penerapan PPKM Mikro menurutnya tidak akan menghambat proses pembelajaran tatap muka. Sebab sekali lagi, PTM akan dilakukan di zona hijau, dengan kapasitas terbatas.

Terkait alasan pemerintah tetap mendorong pelaksanaan PTM, Sri menyebutkan alasan terkait kesulitan yang dialami tenaga pendidik.

“Untuk kelompok guru mengalami kesulitan saat melakukan PJJ (pembelajaran jarak jauh). Dan cenderung fokus penuntasan kurikulum. Kemudian waktu pembelajaran juga kesulitan berkomunikasi dengan orang tua siswa,” lanjutnya.

Kurangnya sarana dan prasana PJJ membuatnya tidak efektif. Belum lagi perilaku tidak disiplin yang rentan dilakukan anak saat PJJ.

Baca Juga: Belajar Tatap Muka, Sekolah di Medan Minta Orangtua Antar Jemput Anaknya

“Kedisiplinannya jadi bergesar lewat kebiasaan bangun pagi. Di masa era normal sekarang, anak-anak lebih sering bangun siang, dan ini dikeluhkan oleh orang tua siswa,” pungkasnya.

Komentar