alexametrics

Jokowi Targetkan Herd Immunity Jakarta - Bali Agustus 2021, Ini Tanggapan Epidemiolog

Bimo Aria Fundrika
Jokowi Targetkan Herd Immunity Jakarta - Bali Agustus 2021, Ini Tanggapan Epidemiolog
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memimpin rapat terbatas melalui konferensi video mengenai evaluasi PPKM Darurat dari Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (16/7/2021). [Dok. Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden]

Dalam Ratas Evaluasi PPKM Darurat, Istana Merdeka, Presiden Jokowi mengatakan bahwa Jakarta dan Bali merupakan provinsi dengan cakupan vaksinasi tertinggi di Indonesia.

Suara.com - Presiden Joko Widodo optimistis bahwa target her immunity di Jakarta dan Bali bisa tercapai pada Agustus 2021 mendatang.

Dalam Ratas Evaluasi PPKM Darurat, Istana Merdeka, Presiden Jokowi mengatakan bahwa Jakarta dan Bali merupakan provinsi dengan cakupan vaksinasi tertinggi di Indonesia.

"Bali sudah 81 persen dosis yang sudah disuntikkan, DKI sudah 72 persen, ini saya kira Agustus sudah bisa masuk ke herd immunity," ujar Jokowi dalam Ratas Evaluasi PPKM Darurat, Istana Merdeka, dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Sabtu, (17/7/2021).

Menanggapi hal tersebut, Ahli Epidemiolog dari Grifith University, Dicky Budiman mengatakan herd immunity merupakan capaian jangka panjang. Dicky menegaskan, itu bukan melulu tentang mencapai target vaksinasi Covid-19 hingga 85 persen.

Baca Juga: Kasus Harian Covid-19 Kaltim Akhir Pekan Ini Melandai, Pasien Tambah 1.667 Orang

Ilustrasi vaksinasi Covid-19 di Riau (Riau Online)
Ilustrasi vaksinasi Covid-19 di Riau (Riau Online)

"Jangankan Indonesia, level dunia saja herd immunitynya saja makin jauh, makin susah, makin diujung sana," kata Dicky saat dihubungi Suara.com, Sabtu, (17/7/2021).

Menurutnya ada sejumlah hal yang penting untuk dipahami ketika bicara soal herd immunity. Pertama ialah terkait dengan cakupan dari vaksinasi dan efek proteksi yang diberikan.

"Pertama cakupan vaksinasi yang harus terbukti, vaksin yang diberikkan memberikan efek porteksi dalam mencegah penularan," ujar Dicku.

"Kalau vaksin itu tidak memiliki efikasi pencegah penularan, ya seperti saat ini, semua vaksin yang ada saat ini, tidak bisa mencegah penularan dengan memadai, itu membuat herd immunity jadi lama dan tidak tahu kapan."

Kedua, lanjut Dicky, ialah soal cakupan vaksinasi pada kelompok usia anak, ibu hamil. Belum lagi juga terkait dengan alokasi vaksin yang memadai untuk bisa melindungi dari varian delta masih terbatas.

Baca Juga: Chicco Jerikho Bagi Tips Jaga Kewarasan di Masa Pandemi, Seperti Apa?

"Herd immunity ini ada variabel angka reproduksi yang dibawah 1, ini ditentukan adanya 3T dan 5T yang masih jadi pr kita," kata Dicky.