Orang Vaksinasi AstraZeneca 3 Kali Lebih Mungkin Berisiko Terinfeksi Virus Corona?

Arendya Nariswari | Shevinna Putti Anggraeni | Suara.com

Minggu, 18 Juli 2021 | 16:01 WIB
Orang Vaksinasi AstraZeneca 3 Kali Lebih Mungkin Berisiko Terinfeksi Virus Corona?
Ilustrasi vaksin AstraZeneca. (Dok : Istimewa)

Suara.com - Vaksin AstraZeneca salah satu yang telah disetujui penggunaannya untuk melawan virus corona Covid-19. Tapi, ahli menemukan dua kali suntikan vaksin AstraZeneca 3 kali lebih mungkin terkena gejala virus corona Covid-19 daripada orang yang suntik vaksin Pfizer dan Moderna.

Temuan soal vaksin AstraZeneca ini berasal dari studi pengawasan terbesar di Inggris, yang dikenal sebagai REACT-2, yang secara acak menguji sampel darah dari ratusan ribu warga Inggris.

Pada orang yang sudah suntik vaksin AstraZeneca pertama kali, mereka menghasilkan antibodi yang lebih bervariasi, baik di seluruh kelompok umur dan berdasarkan jenis vaksinnya.

Para ilmuwan di Imperial College London memperkirakan 2 kali suntikan vaksin AstraZeneca 55 persen lebih efektif mencegah gejala virus corona varian Delta.

Sebaliknya, para ahli Imperial mengatakan bahwa hanya 15 orang yang mengalami gejala virus corona Covid-19 setelah suntik vaksin Pfizer dan Moderna. Artinya, orang yang suntik vaksin AstraZeneca 3 kali lebih mungkin terkena gejala virus corona daripada vaksin Pfizer.

Ilustrasi vaksin astrazeneca (unsplash/@hakannural)
Ilustrasi vaksin astrazeneca (unsplash/@hakannural)

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature juga menunjukkan vaksin AstraZeneca bisa memberikan perlindungan seumur hidup terhadap virus corona Covid-19.

Selain menghasilkan antibodi penghilang virus corona yang kuat, vaksin Covid-19 ini juga melatih tubuh untuk mencari sel-T yang bisa membunuh varian baru virus corona tersebut.

Para ilmuwan dari Oxford dan Swiss yang menulis dalam jurnal Nature, mengatakan perlindungan sel-T adalah fitur utama dari vaksin adenovirus, seperti vaksin AstraZeneca dan vaksin Johnson & Johnson.

Profesor Burkhard Ludewig, dari Rumah Sakit Cantonal di Swiss, mengatakan sel T dalam tubuh ini nampaknya memiliki tingkat kekebalan yang sangat tinggi.

"Semoga kita bisa memanfaatkan ini dengan baik dalam merancang vaksin Covid-19 baru yang menargetkan penyakit lain, seperti TB, HIV, Hepatitis C dan kanker," kata Prof Burkhard dikutip dari Express.

Para peneliti juga menemukan adenovirus dapat masuk ke sel jaringan berumur panjang, yang dikenal sebagai sel retikuler fibroblastic. Sel tersebut bertindak sebagai tempat untuk melatih sel T dalam tubuh untuk mengenali virus corona.

Penelitian terbaru ini berangkat dari penelitian sebelumnya, yang menunjukkan bahwa vaksin AstraZeneca lebih efektif dalam menghasilkan sel T dibandingkan vaksin mRNA, seperti vaksin Pfizer dan Moderna.

Tujuan akhir dari vaksin adenovirus ini adalah menginduksi perlindungan sistem kekebalan tubuh jangka panjang menggunakan antibodi dan sel T. Penelitian ini akan membantu memahami proses vaksinasi dan efeknya pada sel T.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lagi, Ahli Khawatir Virus Corona Varian Beta Kebal dari Vaksin Covid-19

Lagi, Ahli Khawatir Virus Corona Varian Beta Kebal dari Vaksin Covid-19

Health | Minggu, 18 Juli 2021 | 14:21 WIB

Syarat Vaksin Anak untuk Menghadapi Pandemi Covid-19

Syarat Vaksin Anak untuk Menghadapi Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 18 Juli 2021 | 12:54 WIB

6 Jenis Vaksin Covid-19 di Indonesia: Sinovac, AstraZeneca hingga Moderna

6 Jenis Vaksin Covid-19 di Indonesia: Sinovac, AstraZeneca hingga Moderna

Health | Jum'at, 16 Juli 2021 | 21:14 WIB

Terkini

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 19:57 WIB

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem

Health | Senin, 30 Maret 2026 | 13:21 WIB

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 21:12 WIB

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya

Health | Minggu, 29 Maret 2026 | 10:42 WIB

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik

Health | Sabtu, 28 Maret 2026 | 20:55 WIB