Jam Kerja Lebih 55 Jam Seminggu Ternyata Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Arendya Nariswari, Shevinna Putti Anggraeni

Sabtu, 07 Agustus 2021 | 17:55 WIB
Jam Kerja Lebih 55 Jam Seminggu Ternyata Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung
Ilustrasi kerja, bekerja, jam kerja. (Pexels/Energepic)

Suara.com - Data yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) awal tahun 2021 ini, menunjukkan bahwa orang yang bekerja lebih lama berisiko tinggi menderita penyakit kardiovaskular. Karean, mereka memiliki detak jantung istirahat yang lebih tinggi.

Detak jantung istirahat (RHR) yang lebih tinggi biasanya menunjukkan bahwa jantung terlalu tegang. Stres pikiran bisa menyebabkan tubuh melepaskan hormon adrenalin yang mendorong jantung untuk berdetak lebih cepat dan tekanan darah meningkat.

Orang yang memiliki banyak tekanan memiliki risiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Karena itu, para ahli kesehatan menekankan pentingnya gaya hidup yang lebih sehat untuk mempertahankan RHR yang sehat.

Dalam hal ini, jam kerja yang lebih lama sekitar lebih dari 55 jam per minggu berkaitan dengan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik 17 persen lebih tinggi dan stroke 35 persen lebih tinggi.

Penyakit jantung iskimek adalah kondisi yang disebabkan oleh penyempitan arteri, sehingga menyebabkan lebih sedikit darah dan oksigen untuk mencapai otot jantung.

Dokter Nayaran Gadkar, konsultan ahli jantung dari Zen Multispeciality Hospital mengatakan, bekerja setidaknya 55 jam per minggu berkaitan dengan risiko penyakit jantung iskemik dan stroke yang lebih tinggi. Terutama, jika dibandingkan dengan orang-orang yang bekerja sekitar 35-40 jam seminggu.

Ilustrasi detak jantung. [Jan Alexander/Pixabay]
Ilustrasi detak jantung. [Jan Alexander/Pixabay]

“Bekerja berjam-jam dapat meningkatkan risiko kematian dan mobilitas akibat penyakit jantung iskemik dan stroke melalui tekanan psikologis," kata Dr Nayaran dikutip dari Express.

Dokter Rahul Singhal, Ahli Elektrofisiologi Senior dan Ahli Jantung di Jaipur, menjelaskan bahwa RHR adalah indikator kuat dari kesehatan seseorang sekarang ini dan di masa mendatang.

RHR yang tinggi biasanya menunjukkan kebugaran fisik yang rendah, kelebihan berat badan, atau memiliki tekanan darah tinggi. Semakin tinggi RHR pasien, semakin besar risiko penyakit jantung atau kematian dini.

baca juga

Karena, RHR yang lebih tinggi memaksa jantung untuk memompa lebih sering. Otot-otot organ menjadi semakin stres yang bisa menyebabkan komplikasi parah, karena peningkatan tekanan pada jantung.

"Meskipun baik untuk meningkatkan detak jantung selama olahraga, itu tidak sama dengan detak jantung istirahat yang tinggi. Saat istirahat, pembacaan denyut nadi tidak boleh terlalu tinggi atau ini merupakan indikasi bahwa otot jantung Anda sedang tertekan," kata Dr Rahul.

Sebaliknya, HRH yang rendah dapat mengindikasikan kelenjar tiroid yang kurang aktif, penyakit inflamasi, atau ketidakseimbangan bahan kimia dalam darah.

RHR antara 60 dan 100 adalah normal, sedangkan RHR di atas 80 dianggap sebagai detak jantung istirahat yang tinggi.

"Biasanya detak jantung normal antara 60 dan 100. Jiak detak jantung di atas 80 dalam pembacaan denyut nadi 60 detik, maka risiko tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan penyakit kardiovaskular meningkat dua kali lipat," jelasnya.

Jika detak jantung di atas 90, semua risikonya meningkat 3 kali lipat. Para ahli menganggap detak jantung di antara 70 dan 80 adalah detak jantung istirahat.

Para ahli menyarankan Anda untuk memeriksa detak jantung Anda dengan meletakkan telunjuk dan jari ketiga di leher Anda. Anda juga bisa menempatkan dua jari di antara tulang dan tendon di atas arteri radikal Anda, yang terletak di sisi ibu jari pergelangan tangan Anda.

Setelah Anda merasakan denyut nadi, hitung jumlah denyut dalam 15 detik dan kalikan jumlahnya dengan empat untuk menghitung denyut per menit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peneliti: Tak Ada Hubungan antara Asupan Kafein dan Gangguan Irama Jantung

Peneliti: Tak Ada Hubungan antara Asupan Kafein dan Gangguan Irama Jantung

Health | Selasa, 20 Juli 2021 | 12:23 WIB

5 Kondisi Ini Bisa Jadi Tolak Ukur Kesehatan Jantung, Salah Satunya Kolesterol

5 Kondisi Ini Bisa Jadi Tolak Ukur Kesehatan Jantung, Salah Satunya Kolesterol

Jogja | Sabtu, 17 Juli 2021 | 14:16 WIB

Jangan Berlebihan! Ini 5 Bahaya Jika Terlalu Sering Mengonsumsi Junk Food

Jangan Berlebihan! Ini 5 Bahaya Jika Terlalu Sering Mengonsumsi Junk Food

Your Say | Rabu, 14 Juli 2021 | 12:32 WIB

Terkini

Stop Anggap Remeh Kenakalan Anak! Tragedi Pemalang Bukti Sekolah Gagal Lindungi Siswa

Stop Anggap Remeh Kenakalan Anak! Tragedi Pemalang Bukti Sekolah Gagal Lindungi Siswa

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 18:03 WIB

Gelombang Protes di Albania Memasuki Hari ke-7, Demonstran Teriak Edi Rama Mundur

Gelombang Protes di Albania Memasuki Hari ke-7, Demonstran Teriak Edi Rama Mundur

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 18:01 WIB

Bahas Syarat Parpol Nasional di MK, Hakim Enny Singgung 'Partai Incess Indonesia' Ala Syahrini

Bahas Syarat Parpol Nasional di MK, Hakim Enny Singgung 'Partai Incess Indonesia' Ala Syahrini

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Saham Anda Didepak dari IHSG? Jangan Panik, Simak Penjelasan Resmi BEI

Saham Anda Didepak dari IHSG? Jangan Panik, Simak Penjelasan Resmi BEI

Bri | Senin, 19 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Buku Control Your Expectation: Mengelola Ekspektasi agar Hidup Lebih Tenang

Buku Control Your Expectation: Mengelola Ekspektasi agar Hidup Lebih Tenang

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 18:00 WIB

Ini Daftar 6 Bakal Calon Rektor Unila 20272031: Panitia Larang Keras Aksi Saling Menjatuhkan

Ini Daftar 6 Bakal Calon Rektor Unila 20272031: Panitia Larang Keras Aksi Saling Menjatuhkan

Lampung | Senin, 19 Oktober 2026 | 17:59 WIB

Kebutuhan Rumah Jateng Capai 990 Ribu Unit, BTN Housingpreneur Batch 3 Buka Peluang Inovasi

Kebutuhan Rumah Jateng Capai 990 Ribu Unit, BTN Housingpreneur Batch 3 Buka Peluang Inovasi

Jawa Tengah | Senin, 19 Oktober 2026 | 17:56 WIB

Jakarta Darurat Liang Lahat, Makam di Ibu Kota Tersisa 9 Bulan Lagi

Jakarta Darurat Liang Lahat, Makam di Ibu Kota Tersisa 9 Bulan Lagi

News | Senin, 19 Oktober 2026 | 17:54 WIB

Korban Tewas Karhutla Bromo Jadi 5 Orang, Relawan MPA Hembuskan Napas Terakhir

Korban Tewas Karhutla Bromo Jadi 5 Orang, Relawan MPA Hembuskan Napas Terakhir

Jatim | Senin, 19 Oktober 2026 | 17:53 WIB

FAM Kena Gocek Candaan Keturunan Malaysia, Sem Scheperman Bongkar Asal-usul Rumor Naturalisasi

FAM Kena Gocek Candaan Keturunan Malaysia, Sem Scheperman Bongkar Asal-usul Rumor Naturalisasi

Bola | Senin, 19 Oktober 2026 | 17:53 WIB

×