Klaim-klaim Vaksin Covid-19 Berbahaya bagi Ibu Hamil, Ini Cek Faktanya

Reza Gunadha | BBC | Suara.com

Kamis, 12 Agustus 2021 | 20:52 WIB
Klaim-klaim Vaksin Covid-19 Berbahaya bagi Ibu Hamil, Ini Cek Faktanya
Vaksinator menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada ibu hamil di Gedung Wira Purusa LVRI DKI Jakarta, Kamis (12/8/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Suara.com - Kekinian, beredar banyak klaim yang menyebutkan vaksin covid-19 berbahaya bagi kesuburan perempuan.

Bahkan, ada klaim yang tersebar menyebutkan vaksin covid-19 bisa membuat ibu hamil mengalami keguguran.

Para dokter sangat berhati-hati tentang rekomendasi yang mereka berikan pada pasien yang sedang hamil, maka mereka mulanya menyarankan untuk menghindari vaksinasi.

Tapi sekarang, telah banyak data tersedia dan saran tadi telah berubah. Vaksin bahkan kini sangat disarankan (karena terinfeksi Covid pada saat hamil dapat membahayakan ibu dan janin).

Kami melihat beberapa klaim yang terus beredar dan menjelaskan mengapa klaim-klaim tersebut keliru.

Sebuah studi menunjukkan bahwa vaksin terakumulasi di ovarium - Keliru

Teori ini bermula dari kesalahan membaca sebuah penelitian yang diajukan ke pemerintah Jepang.

Studi tersebut melibatkan pemberian vaksin pada tikus dengan dosis vaksin jauh lebih tinggi daripada dosis yang diberikan pada manusia (1.333 kali lebih tinggi).

Hanya 0,1% dari total dosis yang disuntikkan mengendap di ovarium tikus, 48 jam setelah injeksi.

Lebih banyak vaksin - 53% setelah satu jam dan 25% setelah 48 jam - ditemukan di area suntikan (pada manusia, umumnya di lengan bagian atas).

Area lain yang umum ditemukan dosis vaksin adalah di liver (16% setelah 48 jam), organ yang membantu membuang kotoran dari darah.

Vaksin diberikan menggunakan gelembung lemak yang mengandung materi genetik virus, yang kemudian memulai sistem imun tubuh.

Mereka yang menyebarkan klaim ini memilah informasi dan angka yang sebetulnya merujuk pada konsentrasi lemak yang ditemukan di ovarium.

Tingkat lemak di ovarium memang meninggi dalam waktu 48 jam setelah suntikan, karena vaksin bergerak dari area injeksi ke seluruh tubuh.

Tapi, yang lebih penting, tidak ada bukti bahwa lemak tersebut masih mengandung materi genetik virus.

Unggahan juga biasanya menyebutkan bahwa hasil penelitian ini "dibocorkan diam-diam", padahal seluruh hasil studi tersedia untuk umum secara online.

Data monitoring menunjukkan vaksin menyebabkan keguguran - Keliru

Beberapa unggahan di media sosial menyoroti kasus keguguran yang dilaporkan ke badan pemantauan vaksin - termasuk ke Medicines and Healthcare products Regulatory Agency (MHRA) Yellow Card di Inggris dan Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) di AS.

Semua orang bisa melaporkan gejala atau kondisi kesehatan yang mereka alami setelah divaksin. Tidak semua orang memilih untuk melaporkannya, jadi database yang ada bersifat pengaduan.

Ada sejumlah pelaporan tentang keguguran di dalam basis data - keguguran sendiri, sayangnya, adalah kejadian yang cukup biasa terjadi - namun bukan berarti vaksinasi penyebabnya.

Sebuah penelitian menemukan bahwa data yang menunjukkan tingkat keguguran pada perempuan yang divaksinasi [https://www.nejm.org/doi/pdf/10.1056/NEJMoa2104983?articleTools=true] sama dengan tingkat keguguran yang disangkakan terjadi pada populasi umum - 12,5%.

Dr Victoria Male, seorang ahli imunologi reproduksi di Imperial College London, berkata sistem pelaporan ini sangat bagus untuk mengetahui efek samping dari vaksinasi yang biasanya jarang menimpa populasi yang lebih umum.

Beginilah cara penggumpalan darah terkait tipe darah tertentu ditemukan pada kasus-kasus yang jarang terjadi terkait vaksin AstraZeneca.

Jika Anda tiba-tiba melihat gejala tak biasa di antara orang-orang yang sudah divaksin, Anda harus waspada.

Tapi sistem pelaporan seperti ini kurang bagus memonitor efek samping yang umum terjadi di populasi - seperti perubahan siklus menstruasi, keguguran, dan masalah jantung.

Melihat kasus-kasus di atas dalam data tak serta merta membuat Anda harus waspada, karena kita telah menyangka ini akan terjadi, divaksin atau tidak.

Hanya jika bila kita melihat lebih banyak angka kasus keguguran pada orang yang divaksin lebih banyak ketimbang mereka yang belum divaksin, maka investigasi baru akan diperlukan -- dan sejauh ini, bukan ini yang terjadi.

Beberapa orang juga membagikan grafis-grafis yang menunjukkan kenaikan besar jumlah orang yang melapor ke badan-badan ini terkait pengalaman mereka dengan vaksin-vaksin dan obat-obatan lain di tahun ini.

Data-data tersebut dipakai untuk menyiratkan bahwa vaksin Covid tidak aman. Namun kenaikan jumlah tadi tidak menyatakan demikian, melainkan hanya memperlihatkan bahwa proporsi orang dalam populasi yang divaksinasi meningkat pesat.

Vaksin bisa menyerang plasenta - Tidak ada bukti

Sebuah petisi berasal dari Michael Yeadon, seorang ilmuwan peneliti yang telah membuat klaim-klaim menyesatkan lain tentang Covid, dibagikan oleh banyak orang.

Dia berkata, duri protein virus corona yang ada di dalam vaksin Pfizer dan Moderna mirip dengan protein yang bernama syncytin-1, yang ada dalam pembentukan plasenta.

Dia berspekulasi, ini menyebabkan antibodi yang melawan virus corona juga menyerang janin yang sedang berkembang.

Beberapa ahli meyakini ini adalah awal dari kepercayaan orang terhadap klaim vaksin membahayakan kesuburan.

Faktanya, syncytin-1 dan duri protein virus corona sama miripnya dengan protein-protein acak lain - jika tubuh manusia begitu mudah bingung dalam mengidentifikasi protein, maka tubuh akan berisiko menyerang organ-organnya sendiri setiap kali terkena infeksi dan mengembangkan antibodi.

Kini, bukti-bukti telah dikumpulkan untuk membantu membantah teori tersebut.

Dokter kesuburan AS Randy Morris, yang ingin merespon langsung kekhawatiran-kekhawatiran yang didengarnya, mulai memonitor pasien-pasiennya yang sedang menjalani program IVF untuk melihat, apakah vaksinasi memberi perbedaan pada peluang mereka untuk hamil.

Dari 143 orang yang terlibat dalam penelitian Dr Morris, baik yang sudah divaksin, belum divaksin, dan yang sebelumnya pernah terinfeksi Covid-19, semuanya memiliki kesempatan yang nyaris sama untuk penanaman embrio dan kehamilan berlanjut.

Studi ini memang kecil, namun ini menambah banyak bukti-bukti lain yang sudah terkumpul sebelumnya. Dan jika memang klaim tersebut benar adanya, kita akan bisa melihatnya dalam penelitian skala kecil begini.

Dr Morris menekankan, orang-orang yang menyebarkan ketakutan ini tidak menjelaskan mengapa mereka percaya antibodi yang terbentuk karena vaksin dapat membahayakan kesuburan, namun antibodi sama dari infeksi alami tidak.

Permasalahannya, sementara para ilmuwan bergegas untuk menyediakan bukti-bukti untuk meyakinkan orang klaim itu salah, saat mereka dapat melaporkan temuan mereka, orang-orang telah beralih ke klaim menyesatkan lain.

Seperti yang dijelaskan oleh Dr Morris, "Tanda khas dari teori konspirasi adalah, begitu teori itu dipatahkan, mereka akan berpindah ke hal yang lain."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

CEK FAKTA: Foto Pesawat Kepresidenan Melintas di Atas Proyek Hambalang, Benarkah?

CEK FAKTA: Foto Pesawat Kepresidenan Melintas di Atas Proyek Hambalang, Benarkah?

News | Kamis, 12 Agustus 2021 | 20:06 WIB

CEK FAKTA: Rakyat Australia Demo Melawan Rencana New World Order?

CEK FAKTA: Rakyat Australia Demo Melawan Rencana New World Order?

News | Kamis, 12 Agustus 2021 | 16:28 WIB

CDC: Tidak Ada Risiko Keguguran Usai Ibu Hamil Disuntik Vaksin COVID-19

CDC: Tidak Ada Risiko Keguguran Usai Ibu Hamil Disuntik Vaksin COVID-19

Health | Kamis, 12 Agustus 2021 | 14:23 WIB

CEK FAKTA: Benarkah Burger Ayam KFC Bumbu-bumbunya Mengandung Babi?

CEK FAKTA: Benarkah Burger Ayam KFC Bumbu-bumbunya Mengandung Babi?

News | Kamis, 12 Agustus 2021 | 13:37 WIB

Informasi PON Papua 2021 Buka Lowongan Kerja Crew Runner, Cek Fakta Sebenarnya

Informasi PON Papua 2021 Buka Lowongan Kerja Crew Runner, Cek Fakta Sebenarnya

Jakarta | Kamis, 12 Agustus 2021 | 11:09 WIB

Benarkah Warga Baduy Tetap Sehat Meski Tak Divaksin? Ini Faktanya

Benarkah Warga Baduy Tetap Sehat Meski Tak Divaksin? Ini Faktanya

Sumsel | Kamis, 12 Agustus 2021 | 09:24 WIB

CEK FAKTA: Benarkah Lowongan Kerja Crew Runner PON Papua 2021 Gaji UMR Rp 4,5 Juta?

CEK FAKTA: Benarkah Lowongan Kerja Crew Runner PON Papua 2021 Gaji UMR Rp 4,5 Juta?

News | Kamis, 12 Agustus 2021 | 07:02 WIB

CEK FAKTA: Pesawat Dilarang Melintas di Atas Kakbah, Benarkah?

CEK FAKTA: Pesawat Dilarang Melintas di Atas Kakbah, Benarkah?

News | Rabu, 11 Agustus 2021 | 19:30 WIB

Sempat Keguguran, 6 Potret Maternity Chelzea Adik Paula Verhoeven Curi Perhatian

Sempat Keguguran, 6 Potret Maternity Chelzea Adik Paula Verhoeven Curi Perhatian

Entertainment | Selasa, 10 Agustus 2021 | 16:02 WIB

Terkini

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Health | Selasa, 14 April 2026 | 09:26 WIB

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Health | Selasa, 14 April 2026 | 08:37 WIB

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Health | Senin, 13 April 2026 | 06:15 WIB

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat

Health | Minggu, 12 April 2026 | 22:48 WIB

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Sering Self-Diagnose? Hentikan Kebiasaan Berbahaya Ini dengan Panduan Cerdas Pilih Produk Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 20:29 WIB

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Jangan Asal Pilih Material Bangunan! Ini Dampak Buruk Paparan Timbal Bagi Otak dan Kesehatan

Health | Jum'at, 10 April 2026 | 14:00 WIB

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

96% Warga Indonesia Tak ke Dokter Gigi, Edukasi Digital Jadi Kunci Ubah Kebiasaan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 19:16 WIB

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Aktivitas Bermain Menunjang Perkembangan Holistik dan Kreativitas Anak

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:15 WIB

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Dipicu Kebutuhan Tampil Percaya Diri, Kesadaran Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut Naik Saat Ramadan

Health | Kamis, 09 April 2026 | 15:13 WIB

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Health | Rabu, 08 April 2026 | 19:55 WIB