Viral Bayi Silver, Dokter Kulit Ingatkan Bahaya Iritasi dan Toksisitas

Selasa, 28 September 2021 | 12:49 WIB
Viral Bayi Silver, Dokter Kulit Ingatkan Bahaya Iritasi dan Toksisitas
Sebuah foto viral di media sosial yang memperlihatkan seorang perempuan yang menjadi manusia silver dengan membawa balitanya di kawasan SPBU Parakan, Pamulang, Tangerang Selatan. [Instagram @Tangsel_Update]

Suara.com - Fenomena viral bayi silver yang membuat netizen emosi turut memancing komentar ahli kesehatan, yaitu Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Arini Astasari Widodo, Sp.KK.

Kata dokter Arini, tindakan tersebut sangat berisiko membahayakan bayi.

Sebelumnya, beredar viral di media sosial foto bayi silver. Foto itu memperlihatkan tubuh balita dilumuri cat silver dan diajak mencari uang bersama manusia silver dewasa.

Dikatakan dokter Arini, paparan zat kimia seperti cat silver bisa sangat berbahaya untuk bayi, lantaran kulitnya yang masih sangat rentan. Ia pun berharap fenomena ini tidak terulang dan praktik membahayakan ini bisa segera dihentikan.

"Praktik seperti ini harus dihentikan karena membahayakan bayi. Kulit bayi lebih rentan terhadap paparan zat kimia, termasuk reaksi iritasi dan toksisitas," ujar dr. Arini kepada suara.com, Selasa (28/9/2021).

Iritasi adalah inflamasi atau peradangan kulit yang biasa termanifestasikan berupa kemerahan, gatal, dan alergi akibat paparan zat tertentu seperti zat kimia.

Sedangkan toksisitas adalah tingkat merusaknya sebuah zat seperti zat kimia terhadap organisme tubuh manusia atau makhluk hidup lainnya.

Dokter Arini juga mengingatkan kulit bayi berbeda dengan orang dewasa, lantaran lebih rapuh dan lebih sensitif. Sehingga efek paparan zat kimia seperti cat atau pewarna pada bayi bisa lebih berat dibanding orang dewasa.

Umumnya, bahan dasar pada cat atau pewarna mengandung bahan kimia seperti vinyl chloride, plastisol, formaldehida, logam berat, hidrokarbon, dan pelarut.

Baca Juga: Cara Bekerja Manusia Silver dan Jenis Cat yang Dipakai, Ngeri Banget, Baca Artikel Ini

"Bahan dasar tersebut dapat menyebabkan dermatitis kontak pada kulit, terutama pada kulit bayi. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa kulit pada bayi memiliki stratum korneum (lapisan penyerap lebih cepat dan dalam) yang lebih tipis daripada orang dewasa," jelas dokter Arini.

Selain itu, kata dokter Arini, meskipun efek panjangnya belum terlihat saat anak masih di usia bayi. Namun bukan tidak mungkin efek kimia yang terpapar pada kulit bayi dan aroma uapnya terhirup bayi bisa memengaruhi kesehatannya di masa depan.

"Efek jangka panjang yang belum terlihat juga perlu diperhitungkan untuk masa depan anak," pungkas dokter Arini.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Chemistry, Kalian Tipe Pasangan Apa dan Cocoknya Kencan di Mana Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Jodoh Motor, Kuda Besi Mana yang Paling Pas Buat Gaya Hidup Lo?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Jika Kamu adalah Mobil, Kepribadianmu seperti Merek Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI