Atlet Meninggal Karena Kanker Paru, PDPI: Peringatan Buat Kita!

Vania Rossa, Lilis Varwati

Selasa, 23 November 2021 | 22:15 WIB
Atlet Meninggal Karena Kanker Paru, PDPI: Peringatan Buat Kita!
Ilustrasi kanker paru. [Shutterstock]

Suara.com - Atlet dikenal memiliki pola hidup sehat sejak usia muda. Namun, hal tersebut tidak menutup kemungkinan seorang atlet terkena penyakit mematikan seperti kanker saat usia tua.

Terbaru, legenda bulutangkis Verawaty Fadjrin yang meninggal akibat kanker paru, Minggu (21/11) lalu.

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyebut kabar tersebut menjadi pengingat bagi masyarakat lain bahwa kanker paru bisa jadi ancaman, entah bagi perokok aktif maupun perokok pasif.

"Saya turut berduka cita atas meninggalnya legenda bulutangkis kita Verawaty Fadjrin. Beliau sungguh luar biasa menghadapi sakitnya. Ini juga jadi sebuah pengingat bagi kita bahwa perokok pasif pun punya risiko," kata Anggota Pokja Onkologi Toraks PDPI dr. Sita Laksmi, PhD., Sp.P(K)., dalam webinar LungTalk, Selasa (23/11/2021).

Ia menambahkan, siapapun yang mengalami gejala respirasi berupa batuk, batuk berdarah, nyeri dada, dan sesak napas selama lebih dari 2 minggu harus melakukan segera lakukan deteksi dini ke dokter.

Dokter Sita menyampaikan, meski tidak merokok, seseorang tetap berisiko terkena kanker paru jika sering terpapar dengan faktor risiko lain. Misalnya, asap rokok, polusi udara, zat kimia dari pertambangan maupun pembakaran.

"Bahkan ada indoor pollution di China ditemukan banyak kasus kanker paru pada perempuan yang tidak merokok tapi memasak dengan tungku di dalam rumah. Kalau kita lihat di Jawa Tengah, misalnya di perumahan tradisional, masih banyak dapur yang menggunakan kayu bakar di dalam rumah. Itu merupakan indoor pollution yang bisa mencetuskan kanker paru," tuturnya.

Termasuk juga konsumsi rokok dalam bentuk apapun, termasuk vape dan rokok herbal. Dokter Sita menekankan bahwa PDPI tidak pernah merekomendasikan penggunaan vape sebagai upaya berhenti merokok.

"Perhimpunan Dokter Paru Indonesia tidak merekomendasikan rokok elektrik sebagai upaya berhenti merokok. Apapun vape pasti ada nikotin. Kenapa rokok berbahaya, adiktif, toksik karena ada kasinogenik adiktif adalah nikotin zat toksik ada 4 ribu dan kasinogen ada 60, untuk nikotin sendiri sudah jelas ada di dalam vape," ucapnya.

baca juga

Termasuk juga rokok jenis baru yang diklaim tidak menimbulkan asap, seperti heat no burn cigarate. Ia menegaskan, rokok jenis itu juga tetao berbahaya karena masih ada zat kimia di dalamnya.

"Itu sama memperkenalkan rokok pada usia yang lebih muda. Jadi sebaiknya tidak vape dan juga tidak rokok herbal," tegasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Data GLOBOCAN: Pengobatan Kanker Paru di Indonesia Belum Merata

Data GLOBOCAN: Pengobatan Kanker Paru di Indonesia Belum Merata

Health | Selasa, 23 November 2021 | 18:28 WIB

Deteksi Dini Kanker Paru, Begini Gejalanya, Cegah Sebelum Stadium Lanjut

Deteksi Dini Kanker Paru, Begini Gejalanya, Cegah Sebelum Stadium Lanjut

Malang | Selasa, 23 November 2021 | 18:20 WIB

Belajar dari Verawaty Fajrin, Ketahui Apa Saja Gejala Kanker Paru-Paru

Belajar dari Verawaty Fajrin, Ketahui Apa Saja Gejala Kanker Paru-Paru

Health | Minggu, 21 November 2021 | 15:33 WIB

Terkini

Awas Ketipu Angka Palsu! Ini Cara Cek Odometer Motor Bekas yang Asli Belum Direset

Awas Ketipu Angka Palsu! Ini Cara Cek Odometer Motor Bekas yang Asli Belum Direset

Otomotif | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:42 WIB

Andalkan AI Benahi Desil, Luhut: Orang Tak Bisa Sembunyikan Data Lagi

Andalkan AI Benahi Desil, Luhut: Orang Tak Bisa Sembunyikan Data Lagi

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:40 WIB

322 Orang Ditangkap Buntut Demo 27 Agustus, 48 Jadi Tersangka

322 Orang Ditangkap Buntut Demo 27 Agustus, 48 Jadi Tersangka

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Pengembangan PLTP Makin Masif, Industri EPC Ikut Kecipratan

Pengembangan PLTP Makin Masif, Industri EPC Ikut Kecipratan

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:36 WIB

66 Orang Sudah Dipecat, Ini Alasan Kepala SPPG Wajib Ada di Dapur Jam 2 Pagi

66 Orang Sudah Dipecat, Ini Alasan Kepala SPPG Wajib Ada di Dapur Jam 2 Pagi

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:36 WIB

Pertamina Siap Pimpin Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage di Indonesia

Pertamina Siap Pimpin Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage di Indonesia

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:36 WIB

Ada yang Membayar! Polisi Buru Perekrut Anak-anak dan Pendana Kerusuhan Demo 27 Agustus

Ada yang Membayar! Polisi Buru Perekrut Anak-anak dan Pendana Kerusuhan Demo 27 Agustus

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:35 WIB

BPS Akui Data Desil Masyarakat Belum Siap

BPS Akui Data Desil Masyarakat Belum Siap

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:30 WIB

Polisi Sebut TL Slipi Aman Dilalui Pasca Demo Ricuh, Warga Tak Perlu Ragu Melintas

Polisi Sebut TL Slipi Aman Dilalui Pasca Demo Ricuh, Warga Tak Perlu Ragu Melintas

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:29 WIB

Media Singapura soal Demo 27 Agustus: Prabowo Sedang Berjuang Pulihkan Kepercayaan Publik

Media Singapura soal Demo 27 Agustus: Prabowo Sedang Berjuang Pulihkan Kepercayaan Publik

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:29 WIB

×