alexametrics

CEO Moderna Akui Vaksinnya Kurang Efektif Lawan Virus Corona Varian Omicron

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
CEO Moderna Akui Vaksinnya Kurang Efektif Lawan Virus Corona Varian Omicron
Covid-19 varian Omicron. (Dok. Envato)

Perusahaan pengembang vaksin Covid-19 Moderna memperkirakan kalau produknya tidak akan terlalu efektif mengatasi infeksi virus corona varian omicron.

Suara.com - Perusahaan pengembang vaksin Covid-19 Moderna memperkirakan kalau produknya tidak akan terlalu efektif mengatasi infeksi virus corona varian omicron.

CEO Moderna Stephane Bancel mengatakan efektivitas vaksin Moderna diprediksi lebih rendah melawan varian omicron dibandingkan varian delta.

Menurut Bancel, resistensi kerja vaksin itu dapat menyebabkan lebih banyak penyakit lebih berat dan rawat inap pasien Covid-19.

"Saya pikir, di mana (keefektifannya) berada pada tingkat yang sama yang kami miliki dengan Delta. Tapi, saya pikir itu akan menjadi penurunan daya kerja. Saya tidak tahu berapa banyak karena kita perlu menunggu datanya. Tetapi semua ilmuwan yang saya ajak bicara mengatakan seperti 'ini tidak akan baik-baik saja'," kata Bancel, dikutip dari Channel News Asia.

Baca Juga: Siap Kembangkan Vaksin untuk Tangkal Varian Omicron, BioNTech Kumpulkan Data

Covid-19 varian Omicron. [Dok.Antara]
Covid-19 varian Omicron. [Dok.Antara]

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah menyatakan kalau varian omicron berpotensi menyebabkan lonjakan infeksi sangat tinggi secara global.

Ketakutan akan varian baru yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan itu telah memaksa negara-negara di seluruh dunia untuk bergerak cepat lakukan pengetatan kontrol perbatasan untuk mencegah lockdown ketat seperti tahun lalu yang berdampak besar terhadap penurunan ekonomi.

Varian omicron pertama kali dilaporkan secara global pada 24 November. Sejak itu, varian tersebut telah menyebar hingga belasan negara.

WHO mendesak negara-negara untuk menggunakan pencegahan berbasis risiko untuk menyesuaikan langkah-langkah perjalanan internasional. Namun, usul pembatasan global itu juga menimbulkan kekhawatiran tentang ketidaksetaraan vaksin akibat distribusi terhambat.

Afrika termasuk wilayah dengan cakupan vaksinasi Covid-19 masih rendah.

Baca Juga: Covid-19 Varian Omicron Mengancam, Kenapa Virus Corona Bisa Terus Bermutasi?

"Rakyat Afrika tidak dapat disalahkan atas rendahnya tingkat vaksinasi yang tersedia di sana. Mereka tidak boleh dihukum karena mengidentifikasi dan berbagi informasi ilmu pengetahuan dan kesehatan penting dengan dunia," kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam sebuah pernyataan.

India, sebagai produsen vaksin terbesar di dunia, telah menyetujui mengirimkan stok vaksin Covid-19 ke banyak negara di Afrika dan mengatakan siap untuk secepat mungkin mengirimkan lebih banyak.

Komentar