Sama-Sama Menangani Gangguan Kesehatan Mental, Ini 5 Perbedaan Psikiater dan Psikolog

Vania Rossa | Lilis Varwati | Suara.com

Jum'at, 10 Desember 2021 | 11:04 WIB
Sama-Sama Menangani Gangguan Kesehatan Mental, Ini 5 Perbedaan Psikiater dan Psikolog
Ilustrasi psikiater.[Unsplash/Online Marketing]

Suara.com - Sama seperti sakit fisik, gangguan kesehatan mental juga perlu pengobatan dari profesional. Akan tetapi, terapi masalah mental memang tidak harus selalu ke dokter dan mengonsumsi obat. Orang yang mengalami masalah mental bisa melakukan terapi maupun pengobatan ke psikolog atau psikiater. Atau mungkin bisa saja keduanya.

Meski sama-sama menangani gangguan kesehatan mental, psikolog dan psikiater sebenarnya sangat berbeda. Dikutip dari Ruang Guru, ketahui lima perbedaan psikolog dengan psikiater di bawah ini.

1. Beda Latar Belakang Pendidikan
Seorang psikolog harus menempuh pendidikan dan menyelesaikan pendidikan S1 dari ilmu psikologi. Setelah itu, perlu meneruskan program profesi untuk belajar praktik menjadi psikolog.

Sementara psikiater termasuk spesialisasi dari ilmu kedokteran. Untuk menjadi psikiater, harus menempuh pendidikan sarjana kedokteran untuk mendapatkan gelar dokter umum terlebih dahulu. Setelahnya, mengambil pelatihan residensi selama empat tahun dengan pengkhususan di bidang psikiatri. Setelah lulus masa residensi, psikiater akan bergelar dokter dan Sp.KJ atau spesialis kesehatan jiwa.

2. Beda Cara Pemeriksaan
Seorang psikiater menyelidiki penyebab gejala psikologi dari sisi medis dan kelainan susunan saraf pada pasien penyakit kejiwaan. Psikiater juga bertanggung jawab untuk mendiagnosis gangguan mental dan menentukan pengobatan yang dilakukan.

Sedangkan psikolog menyelidiki penyebab gejala psikologi dari sisi non medis seperti pola asuh, susunan keluarga, tumbuh kembang selama anak-anak hingga dewasa, juga pengaruh lingkungan sosial. Psikolog harus fokus pada terapi psikososial untuk perilaku, pikiran, dan emosi pasien.

3. Psikiater Boleh Memberikan Obat, Psikolog Tidak
Saat kuliah di kedokteran, psikiater juga mempelajari ketidakseimbangan kimia di dalam otak manusia. Sehingga seorang psikiater bisa memberikan resep dan terapi obat-obatan (farmakoterapi), terapi stimulasi otak, pemeriksaan fisik dan laboratorium sesuai kebutuhan pasien. Tentunya setelah dilakukan diagnosis gangguan mental terlebih dahulu.

Sementara, psikolog lebih fokus terhadap aspek sosial pasien. Seperti memberikan terapi psikologi atau psikoterapi. Selain itu, psikolog juga berkompeten untuk melakukan berbagai tes psikologi yang nantinya akan diinterpretasikan sebagai jawaban dari masalah yang dialami pasien seperti tes IQ, tes kepribadian, minat bakat, dan sebagainya.

4. Memberikan Terapi Terbaik dengan Cara yang Berbeda
Baik psikolog maupun psikiater sama-sama mendalami ilmu kejiwaan dan memiliki konsentrasi praktik yang sama, berupa upaya penanganan, pencegahan, diagnosis juga pemberian terapi. Keduanya bekerja sama untuk saling berkoordinasi dalam memberikan terapi terbaik bagi pasien. Hanya saja dalam bentuk yang berbeda.

Psikolog melakukan terapi pada pasien setiap minggu untuk konseling psikososial. Psikiater juga akan melakukan terapi setiap minggu atau bulanan untuk psikoterapi atau psikofarmakologi. Hal itu tergantung pada kasus dan permasalahan yang dihadapi masing-masing pasien atau kebutuhan klinis pasien.

5. Psikolog Menjadi Tempat Untuk Berkonsultasi, Sedangkan Psikiater Untuk Pengobatan
Gangguan kesehatan jiwa bisa dikonsultasikan pada psikolog ataupun psikiater. Ada juga kasus pasien yang perlu berkonsultasi dengan keduanya. Hal ini sangat tergantung pada kasus dan permasalahan yang dihadapi pasien. Bisa saja, seorang pasien yang berkonsultasi ke psikolog juga akan direferensikan ke psikiater karena membutuhkan terapi berupa obat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Cuma Baik Untuk Fisik, Menari Ternyata Juga Bermanfaat Bagi Kesehatan Mental

Tak Cuma Baik Untuk Fisik, Menari Ternyata Juga Bermanfaat Bagi Kesehatan Mental

Health | Kamis, 09 Desember 2021 | 17:00 WIB

4 Aktivitas Alam yang Ampuh Mengurangi Stres, Pernah Mencoba?

4 Aktivitas Alam yang Ampuh Mengurangi Stres, Pernah Mencoba?

Your Say | Kamis, 09 Desember 2021 | 14:27 WIB

Siskaeee Doyan Produksi Video Vulgar, Psikolog: Dia Butuh Terapi

Siskaeee Doyan Produksi Video Vulgar, Psikolog: Dia Butuh Terapi

Jogja | Rabu, 08 Desember 2021 | 15:42 WIB

Terkini

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB