Peneliti: Lebih dari 50% Efek Samping Vaksin Covid-19 Hanyalah Dampak Nocebo

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah | Suara.com

Kamis, 20 Januari 2022 | 20:07 WIB
Peneliti: Lebih dari 50% Efek Samping Vaksin Covid-19 Hanyalah Dampak Nocebo
ilustrasi vaksinasi COVID-19. [Envato Elements]

Suara.com - Sebuah penelitian baru menunjukkan, sebagian besar reaksi merugikan merugikan yang dialami orang setelah vaksinasi Covid-19 dapat disebabkan oleh efek nocebo.

Nocebo merupakan semacam efek plasebo, tetapi negatif. Misalnya, Anda merasa mengalami gejala efek samping obat setelah diberi tahu bahwa obat yang diminum memiliki dampak buruk.

Mudahnya, gejala negatif tersebut muncul karena sugesti. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pikiran manusia terhadap fisik, lapor Science ALert.

Dalam meta-analisis dari 12 uji klinis acak terkontrol plasebo, tim peneliti di Beth Israel Deaconess Medical Center (BIDMC), Boston, menemukan bahwa kemungkinan orang-orang mengalami nocebo setelah vaksin Covid-19 mencapai 64%.

Sebanyak 12 uji klinis yang dipelajari tim termasuk total 45.380 pasien. Dari jumlah tersebut 22.802 diberikan vaksin asli dan sisanya 22.578 pasien diberi plasebo. Tidak satu pun dari pasien tahu apakah mereka diberi vaksin atau plasebo.

Ilustrasi vaksin booster, Tanda Boleh Vaksin Booster (Freepik)
Ilustrasi vaksin booster (Freepik)

Setelah injeksi pertama, 46,3% pasien melaporkan efek samping sistemik, yakni efek yang memengaruhi seluruh tubuh, seperti sakit kepala dan kelelahan. Sementara 66,7% pasien melaporkan efek samping lokal, seperti nyeri atau bengkak di tempat suntikan.

Tetapi pasien plasebo juga mengalami efek samping. Sebanyak 35,2% melaporkan efek sistemik dan 16,2% melaporkan efek lokal.

Peneliti menemukan efek nocebo menyumbang sebanyak 76% dari efek samping sistemik dan 24% dari efek samping lokal setelah dosis vaksin pertama.

Namun, jumlah ini turun untuk dosis kedua. Pasien plasebo lebih sedikit yang melaporkan efek samping, yakni 31,8% efek sistemik, dan 11,8% efek lokal.

Sementara untuk penerima vaksin efek sampingnya meningkat, dengan 61,4% pasien melaporkan efek sistemik dan 72,8% melaporkan efek lokal.

Secara keseluruhan, ini menunjukkan 52% reaksi merugikan setelah dosis kedua disebabkan oleh efek nocebo.

Secara total, ini berarti 64% dari semua reaksi merugikan dapat disebabkan oleh efek nocebo. Menurut peneliti, hasil ini menunjukkan bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk mengurangi efek nocebo ini.

"Temuan mengarahkan kami untuk memberi tahu pasien akan potensi respons nocebo dapat membantu mengurangi kekhawatiran terhadap vaksin Covid-19, yang dapat mengurangi keraguan vaksinasi," tandas peneliti.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Vaksin Covid-19 Baru CORBEVAX Dinilai Bisa Menjadi 'Game Changer', Murah dan Mudah Diproduksi

Vaksin Covid-19 Baru CORBEVAX Dinilai Bisa Menjadi 'Game Changer', Murah dan Mudah Diproduksi

Health | Kamis, 20 Januari 2022 | 17:45 WIB

Catat, Lokasi Vaksin Booster Covid-19 di Karawang Ada di Seluruh Puskesmas

Catat, Lokasi Vaksin Booster Covid-19 di Karawang Ada di Seluruh Puskesmas

Bekaci | Kamis, 20 Januari 2022 | 17:01 WIB

Pakar Kesehatan AS Menyarankan FDA untuk Membolehkan Anak Balita Dapat Vaksin Covid-19 Pfizer

Pakar Kesehatan AS Menyarankan FDA untuk Membolehkan Anak Balita Dapat Vaksin Covid-19 Pfizer

Health | Kamis, 20 Januari 2022 | 16:28 WIB

Terkini

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 11:09 WIB

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian

Health | Rabu, 27 Mei 2026 | 09:22 WIB

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB