facebook

Penggunaan Media Sosial Ternyata Memperburuk Gangguan Tic pada Remaja dan Dewasa Muda

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Penggunaan Media Sosial Ternyata Memperburuk Gangguan Tic pada Remaja dan Dewasa Muda
Ilustrasi media sosial. (pexels)

Tic merupakan gerakan maupun ucapan kompulsif, yang seringkali berulang.

Suara.com - Sebuah studi kecil terhadap remaja dan orang berusia awal dua puluhan menunjukkan adanya kaitan antara waktu yang dihabiskan di media sosial dengan tingkat keparahan tics.

Tic merupakan gerakan maupun ucapan kompulsif, yang seringkali berulang dan biasanya dimulai pada masa kanak-kanak.

Salah satu diagnosis untuk gangguan tic kronis adalah sindrom Tourette, lapor Insider.

Gerakan berulang tersebut dapat berupa kedutan hingga gerakan kepala, beberapa ucapan yang perlu diulang beberapa kali.

Baca Juga: PLN: Perbaikan Gangguan Listrik di Madura Butuh 8 hingga 10 Hari

Gelombang tiba-tiba dari meningkatnya kasus tic pada remaja sejak awal pandemi membingungkan para ilmuwan di seluruh dunia, mendorong dilakukannya penelitian jurnal medis.

Upaya terbaru untuk memahami peningkatan prevalensi tic adalah dengan mengaitkannya dengan media sosial.

"Mengingat ada penigkatan dalam penggunaan media sosial selama pandemi serta gangguan tic di klinik kami, kami menyelidiki apakah ada korelasi antara kedua hal ini," jelas spesialis gangguan gerakan di University of Florida, Jessica Frey.

Ilustrasi mata milia. (Elements Envato)
Ilustrasi gangguan tic . (Elements Envato)

Pandemi Covid-19 memperparah gangguan tic pada remaja dan dewasa muda

Dalam studi ini, 20 orang berusia 11 hingga 21 tahun menyelesaikan survei tentang waktu yang mereka habiskan di media sosial, frekuensi dan tingkat keparahan tic, serta kualitas hidup.

Baca Juga: PLN Bentuk Timsus untuk Pulihkan Gangguan Listrik di Madura

Sebagian besar (90%) peserta mengatakan mereka membuka media sosial lebih sering selama pandemi Covid-19, dan 85% mengklaim perilaku tic mereka meningkat lebih sering.

Setengah dari remaja mengatakan bahwa media sosial berdampak negatif pada gangguan tic mereka.

Peneliti pun melaporkan hubungan signifikan antara peningkatan keparahan tic. Namun, mereka tidak menemukan hubungan antara penggunaan media sosial dengan frekuensi tic.

Hasil studi ini akan dipresentarikan pada Pertemuan Tahunan American Academy of Neurology pada April mendatang.

Sementara itu, peneliti berencana mendaftarkan 60 peserta lagi dan mengeksploarsi asosiasi media sosial dan gangguan tic secara lebih lanjut.

Komentar