Suara.com - Virus Covid-19 telah berkembang pesat selama dua tahun pandemi. Sejak kemunculan varian yang mengkhawatiran mulai dari Alpha, Beta, Gamma, dan Delta, kini muncul varian terbaru Omicron lebih cepat menular dibandingkan yang lainnya.
Tak hanya itu, Omicron juga terus membelah diri dan melahirkan berbagai sub-varian, salah satunya BA.2 atau disebut juga Omicron siluman.
Menurut penelitian laboratorium oleh peneliti Jepang, subvarian BA.2 tidak hanya lebih menular daripada strain Omicron asli, BA.1, tetapi juga dikatakan menyebabkan penyakit yang lebih parah.
Selain itu, laporan tersebut juga mengungkapkan kalau subvarian BA.2 menyebar 30 persen lebih mudah daripada varian omicron asli. Namun, lebih sulit dilacak daripada virus Omicron asli.

Menurut para ahli, subvarian Omicron siluman itu tidak memiliki mutasi, yang merupakan bagian integral untuk mendeteksi Covid-19.
Sesuai dengan Badan Layanan Kesehatan Inggris (UKHSA), varian Omicron asli mengandung penghapusan genetik pada gen lonjakan "S" yang membantu penyedia layanan kesehatan untuk dengan mudah mendeteksinya dengan tes RT PCR. Namun, di Omicron siluman, tidak ada gen "S" yang keluar, sehingga lebih sulit untuk dilacak.
Namun dengan bantuan pengurutan genom, Omicron siluman dapat dideteksi, meskipun akan memakan waktu lebih lama untuk mengungkapkan hasilnya.
Studi awal menunjukkan bahwa subvarian BA.2 bisa lebih menular daripada varian aslinya. Karena diyakini bisa lolos dari kekebalan vaksin dan antibodi alami dari infeksi Covid-19 sebelumnya. Sehingga memungkinkan terjadinya infeksi ulang.
Sebuah penelitian di Denmark yang terdiri dari 8.500 rumah tangga dan 18.000 individu menemukan bahwa BA.2 lebih mudah menular daripada BA.1. Ditemukan juga bahwa sub-garis keturunan baru lebih mampu menghindari kekebalan vaksin.
Namun, dalam pembaruan baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan dan mengatakan bahwa subvarian Omicron tidak lebih ganas atau parah daripada varian aslinya.