Cek Risiko Kanker Payudara Lebih Awal Lewat Tes Urine, Begini Caranya

Risna Halidi | Suara.com

Jum'at, 08 April 2022 | 07:14 WIB
Cek Risiko Kanker Payudara Lebih Awal Lewat Tes Urine, Begini Caranya
Pita pink simbol kanker payudara (pexels/padrinan)

Suara.com - Kanker merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Menurut data World Health Organization atau WHO pada tahun 2020, sebanyak 234 ribu jiwa di Indonesia meninggal dunia akibat kanker.

Meski sangat berbahaya, sebenarnya tingkat kesembuhan kanker bisa sangat tinggi andai sel kanker ditemukan lebih awal. Untuk itu penting menemukan metode atau alat deteksi dini kanker agar penyakit tersebut bisa diatasi.

Di Indonesia, DeBio Network bersama Sekolah Tinggi Teknologi dan Sains Hayati ITB menawarkan layanan tes genetik untuk mendeteksi awal risiko kanker yang bisa dilakukan hanya dari rumah.

Caranya adalah dengan mengembangkan screening untuk mendeteksi mutasi di gen BRCA-1 dan BRCA-2, yang diduga kuat berhubungan dengan risiko kanker payudara, rahim, prostat, pankreas, dan melanoma.

Peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu dan Teknologi Hayati ITB - Dr. rer. Nat. Marselina Irasonia Tan mengatakan, deteksi mutasi gen tersebut juga dapat memberikan rencana terapi terbaik bagi pasien kanker.

"Mendeteksi mutasi BRCA 1 dan 2 sangat penting terutama dalam memberikan terapi terbaik untuk pasien. Mutasi BRCA 1 dan 2 bisa diobservasi menggunakan DNA sel bebas, sebuah potensi komponen dari biopsi likuid," katanya dikutip dari siaran pers, Jumat (8/4/2022).

Saat ini DeBio Network bersama ITB menyediakan layanan tes genetika BRCA berbasis urine dengan hanya membutuhkan 5 mL sampel urine dalam waktu maksimal 63 hari.

Selanjutnya tes akan berfokus kepada mutasi exon2 dari gen BRCA-1, sehingga bisa diketahui risiko munculnya kanker payudara atau rahim di masa depan.

Ahli biomolekul dan genetika dari SITH ITB - Dr. Karlia Meitha mengatakan, metode tes terbaru itu memungkinkan pengambilan sampel secara non-invasif dan tidak seperti metode lain yang membutuhkan pengambilan darah.

Selaras dengan Karlia dan Marselina, CEO DeBio - Pandu Sastrowardoyo berharap ke depan akan ada banyak jenis kanker lain yang bisa terdeteksi lebih dini.

"Kanker payudara dan rahim hanya langkah awal kami dalam berinovasi dalam menyelamatkan perempuan di seluruh dunia. Ke depan, akan ada ribuan penyakit dan kanker lainnya yang bisa dideteksi sejak dini dengan basis desentralisasi layanan kesehatan," pungkas Pandu.

Kanker payudara sendiri merupakan jenis kanker paling banyak ditemui di seluruh dunia. Tercatat sekitar 7,8 juta perempuan terdiagnosa menderita penyakit berbahaya tersebut dalam kurun waktu 2015 hingga 2020.

Kanker payudara juga merupakan kanker dengan tingkat kematian tertinggi. Namun deteksi dini dan tindakan yang lebih baik telah menurunkan statistik ini sebesar 41 persen dibandingkan tahun 1980an.

Deteksi dini merupakan faktor penting dalam menyelamatkan penderita kanker payudara. Berdasarkan riset Alkabban dan Ferguson pada tahun 2018, 93 persen kanker payudara stadium 2 masih bisa diselamatkan jika terdeteksi dini selama lima tahun pertama.

Saat ini deteksi mutasi gen BRCA membuat penciptanya Dr Mary-Claire King diganjar penghargaan Lasker Koshland Special Achievement Award dalam bidang Sains Medis pada tahun 2014 lalu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bantu Pasien Dapat Akses Pengobatan yang Tepat, RS Kanker Dharmais Luncurkan Program NAPAK

Bantu Pasien Dapat Akses Pengobatan yang Tepat, RS Kanker Dharmais Luncurkan Program NAPAK

Health | Kamis, 07 April 2022 | 19:56 WIB

Jadi Rumah Sakit Rujukan di Jawa Barat, Bupati Cellica Nurrachadiana Minta RSUD Karawang Tingkatkan Pelayanan

Jadi Rumah Sakit Rujukan di Jawa Barat, Bupati Cellica Nurrachadiana Minta RSUD Karawang Tingkatkan Pelayanan

Jabar | Kamis, 07 April 2022 | 08:46 WIB

Pemkab Bekasi Libatkan Konsultan dari ITB dalam Revisi Perda RTRW

Pemkab Bekasi Libatkan Konsultan dari ITB dalam Revisi Perda RTRW

Bekaci | Rabu, 06 April 2022 | 19:45 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB