facebook

Peneliti Menyelidiki Penyebab Timbulnya Gejala Penyakit Alzheimer, Termasuk Apatis dan Lekas Marah?

Cesar Uji Tawakal | Rosiana Chozanah
Peneliti Menyelidiki Penyebab Timbulnya Gejala Penyakit Alzheimer, Termasuk Apatis dan Lekas Marah?
Angka penyakit alzheimer di AS meningkat (Shutterstock)

Gejala neuropsikiatri cenderung terjadi lebih awal dibanding kehilangan ingatan.

Suara.com - Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indiana, AS, sedang mempelajari mengapa gejala neuropsikiatri, seperti perilaku apatis dan lekas marah, terjadi pada sebagian besar pasien penyakit Alzheimer sebelum mereka kehilangan ingatan.

Menurut pemimpin studi, yakni asisten profesor farmakologi dan toksikologi Yao-Ying Ma, pasien penyakit Alzheimer juga mengalami perubahan suasana hati.

"Mereka juga berpeluang besar mengalami gejala depresi," kata Ma, dilansir Medical Xpress.

Gejala neuropsikiatri cenderung terjadi lebih awal. Namun sayangnya, belum ada pengobatan efektif yang tersedia.

Baca Juga: Terkait Demensia, Asupan Vitamin K yang Cukup Bantu Cegah Penurunan Kognitif

Menurut Ma, ada kebutuhan mendesak untuk memahami mengapa gejala tersebut ada dan bagaimana semua itu berkaitan dengan defisit kognitif.

Ilustrasi  demensia alzheimer (freepik)
Ilustrasi Alzheimer (freepik)

Penelitian Ma ini mengidentifikasi reseptor permeabel kalsium sinaptik (CP-AMPARs) dalam nukleus accumbens pada pemodelan penyakit Alzheimer.

Reseptor dapat membuat kalsium memasuki neuron dan menyebabkan kelebihan kalsium, yang menyebabkan kerusakan struktur sinaptiknya.

Pada akhirnya, akumulasi kalsium memicu perubahan intraseluler yang dapat mematikan neuron dengan memperkuat kelebihan kalsium melalui mekanisme umpan balik.

Kehilangan sinaptik di otak ini menyebabkan defisit motivasi.

Baca Juga: Peneliti Temukan Rutin Makan Stroberi Bisa Turunkan Risiko Demensia

Mengetahui hal itu, dengan menargetkan reseptor tersebut dan memblokirnya dapat mencegah atau menunda timbulnya penyakit Alzheimer terkait gejala neuropsikiatri, dan akhirnya defisit kognitif.

"Jika kita dapat menunda perkembangan patologis di salah satu daerah yang terkena, seperti nukleus accumbens, maka dapat menunda perubahan patologis di daerah lain," tandas Ma.

Komentar